Part 1 : Bertemu calon suami.

11K 789 14
                                        


°
°
°

Cafetaria masih sepi saat tiga orang gadis berpakaian modis itu mengambil tempat di bangku yang tepat berada di samping kaca besar mengarah keluar.

"Gue rada gimana gitu sama Kyungsuk."

"Kenapa emang, dia cute kok."

"Iya, tapi masih amatir kayaknya hahaha..."

"Yeee, dasar pervert! Kurang-kurangin nonton yang nggak bener Lun, nggak baik buat kesehatan."

"Apa hubungannya sama kesehatan?"

"Ya, lo kan nggak ada pacar. Takutnya lo kepengen terus merealisasikan sama tembok, kan bisa disangka gila."

"-_-"

Rein duduk dengan menopang dagu sembari menatap tanpa minat kedua sahabatnya yang tengah berdebat tentang drama korea tentang oprasi plastik. Hari ini Rein tidak ada jadwal kuliah, tapi karena kedua sahabatnya berangkat dia jadi ikut berangkat.

Tatapannya beralih saat pintu cafetaria dibuka oleh seseorang. Seorang lelaki dengan kemeja kotak-kotak, jeans biru pudar dan tas hitam yang tampak berat menyampir di punggungnya. Lelaki itu tidak duduk di bangku yang tersedia di cafetaria, tapi menuju stand makanan ringan di pojok dekat pintu masuk. Lelaki itu tampak tersenyum ramah pada penjaga stand sebelum mengeluarkan bungkusan plastik hitam dari dalam tasnya. Lelaki itu menyerahkan bungkusan hitam itu pada penjaga stand, lalu menerima satu lembar uang lima puluh ribuan dari si penjaga stand.

"Woy! Rein lo ngelamun? Dari tadi dipanggil diem bae!"

Rein sontak menoleh pada sahabatnya, Arini yang baru saja mengoceh padanya itu. "Rin, itu cowok kuliah di sini?" tanyanya tidak jelas sembari menunjuk lelaki yang masih berdiri di pojok cafetaria.

"Rayan? Iya jurusan kedokteran. Kenapa lo naksir?"

"Namanya Rayan? Semester berapa?"

Luna, yang sejak tadi diam mendengarkan angkat suara. "Heh! Ngapain lo nanya-nanya, beneran naksir?"

Arini terkekeh. "Naksir juga gapapa Rein, tapi jangan berharap bakal dipacarin aja soalnya Rayan anti pacaran."

"Maksudnya?"

"Kepo banget sih neng," sela Luna lagi-lagi hingga membuat Rein kesal dan melemparkan sedotannya pada sahabatnya itu.

"Emang kenapa kalo kepo? Yang kepo gue kok lo yang repot sih Lun!"

"Udah-udah," lerai Arini. "Dia semester dua juga kaya kita Rein, tapi gosipnya sih dia nggak mau pacaran. Pokoknya kalo ada yang mau dekat dia ya sekedar temen aja, dia juga nggak mau kalo salaman sama cewek."

"Loh kok gitu?"

Luna berdecak keras lantas mencondongkan tubuhnya ke arah Rein. "Lo tau kan, orang islam itu nggak boleh salaman sama lawan jenis yang bukan keluarganya."

Rein menoleh ke arah Arini. "Loh emang gitu ya Rin?"

"Iya, makanya Rayan nggak pacaran. Islam itu pacarannya kalo udah nikah Rein."

Rein mengerutkan keningnya, tampak berpikir keras. Kenapa pacaran harus setelah menikah? padahal banyak orang di sekitarnya juga pacaran tanpa menikah terlebih dahulu. Walau dia sendiri belum pernah merasakan yang namanya punya pacar karena terlalu sibuk dengan urusan pelajaran dan lain-lain. Mendadak dia jadi ingin tau tentang islam setelah mendengar penjelasan Arini tadi. Selama ini dia nggak terlalu peduli dengan agama yang dia anut. Setiap hari yang dia lakukan hanya berkutat dengan pelajaran tanpa pernah berpikir untuk tau tentang islam. Kenapa dia beragama islam? Kenapa ayah ibunya juga islam?

***

Rayan Gefan Pratama, atau biasa dipanggil Rayan. Salah satu mahasiswa jurusan kedokteran yang mengandalkan beasiswa prestasi di universitas elit itu.

Sebagai sulung di keluarganya, dia berusaha bekerja membantu perekonomian keluarganya. Ayahnya punya usaha bengkel yang cukup ramai sedangkan ibunya bekerja di sebuah pabrik roti di dekat rumahnya. Rayan punya tiga orang adik yang sekarang masih sekolah.

Sejak kecil Rayan selalu ingin tau banyak hal. Dia selalu membuntuti ibunya saat memasak, juga membuntuti ayahnya saat berada di bengkel. Karena itu pula Rayan punya banyak keahlian.

Awal masuk kuliah Rayan mengutarakan keinginannya untuk membuka usaha pada orang tuanya. Sang ayah langsung meberikan modal tanpa pikir panjang. Sang ayah bahkan sudah sangat yakin kalau usaha Rayan pasti akan sukses. Siapa sangka karena keingin tahuannya itu kini dia bisa mendirikan usaha bebek bakar pinggir jalan yang setiap hari tak pernah sepi pembeli.

Hampir satu tahun usahanya berjalan dan Rayan bersyukur akhirnya uangnya sedikit demi sedikit terkumpul. Dan minggu ini Rayan sangat bahagia sampai-sampai tidak bisa menahan senyum mahalnya seharian ini. Akhirnya usahanya buka cabang. Dia punya dua pegawai baru, walau bukan usaha besar tapi Rayan amat sangat senang dengan perkembangan usahanya itu. Siapa sangka hal yang berawal dari iseng itu pada akhirnya akan menghasilkan seperti sekarang?

"Yan, ada yang nyariin lo tuh!" ucap Dian sambil menunjuk pintu. Rayan yang tadinya tengah asik membaca jurnal kedokteran milik sahabatnya langsung menoleh ke arah pintu masuk kelas. Di sana berdiri seorang gadis dengan canggung. Gadis itu tersenyum tipis ke arahnya.

Rayan menutup jurnal yang dibacanya, lantas berdiri untuk menghampiri gadis itu.

"Hai," sapa gadis itu pertama.
Rayan hanya mengernyit tanpa menjawab.

"Maaf kalo ganggu, ada waktu siang nanti pulang kuliah nggak?" tanya gadis itu tampak berharap.

"Mau apa?" Rayan tidak suka basa basi, apalagi dengan seorang gadis.

Gadis itu tampak menghela napas. "Gue Rein, gue Cuma pengen tau sesuatu."

"Sesuatu apa?"

Gadis itu, Rein memaksakan senyumnya. "Nggak jadi deh, gue balik aja!" ucapnya sebal lantas berbalik cepat. Dalam hati memaki-maki sikap dingin Rayan. Hell belum pernah seorang laki-laki bersikap seperti itu padanya. Padahal Rein sudah berusaha ramah, dan sopan.

"Pulang kuliah gue kerja." Ucapan Rayan itu membuat Rein yang tadinya berniat meninggalkan tempat itu mendadak mengurungkan niatnya dan memilih untuk berbalik menatap Rayan.

"Kenapa?"

"Pulang kuliah gue harus kerja," ucap Rayan lagi.

Rein diam sesaat, sebelum tangannya merogoh ke dalam tasnya lantas mengeluarkan ponsel canggih miliknya. Rein mengulurkan ponselnya pada Rayan.

"Gue minta nomor lo aja!"

Pada akhirnya Rayan menuliskan nomornya di sana, dan Rein tampak senang dengan hal itu. Baru kali ini seorang Rein meminta nomor ponsel terlebih dahulu, terlebih pada seorang laki-laki. Kalau kedua sahabatnya melihat mereka pasti akan mencemooh Rein habis-habisan.

"Yaudah nanti gue chat ya, makasih nomornya." Rein tersenyum manis, sesaat mampu membuat Rayan terpesona pada senyum gadis itu. Tapi tak berapa lama Rayan langsung mengalihkan tatapannya sembari mengucap istighfar berkali-kali.

"Bye calon suami!" Kembali Rein berhasil membuat Rayan tersentak dengan mata melotot dan wajah cengo yang tidak pernah sekalipun dia perlihatkan selama ini. Bahkan beberapa mahasiswa/i yang lewat di sana menghentikan langkah mereka hanya untuk melongo menatap ke arah perginya Rein.

Masalahnya Rein adalah gadis yang cukup popular karena sudah puluhan kali menolak para senior di kampus, dan tiba-tiba saja memanggil Rayan calon suami? Siapa yang nggak kaget?

"Calon ... suami? Gue?"

Sepertinya hidup damai yang terkesan monoton seorang Rayan akan berubah setelah ini.

Tbc...

Sorry typo dsb.
Semoga suka.
Vin

Please be my husband!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang