°
°
°
“Adiknya.”
Rayan mengepalkan tangannya, matanya menatap Rein tajam. Sayangnya yang ditatap tampak santai tanpa merasa bersalah sama sekali. Rein bahkan tersenyum begitu lebar pada Rio, dan Edo.
Luna tampak melongo, kaget mendengar ucapan Rein. Tapi dia tidak melakukan apapun karena memang dia seharusnya tidak ikut campur masalah Rein dan Rayan.
“Setahu gue Rayan nggak punya adik yang seumuran,” celetuk Rio dengan raut bingung.
“Adik ketemu gede ya?” tanya Edo.
Rein tersenyum. “Anggap aja kakak adik,” balasnya santai.
“Kalo gue sih sayang ya cuma dijadiin adik.” Rio bergumam. “Minta nomornya dong, atau id line nya apa?” tambah Rio tanpa sadar membuat orang yang duduk di sebelah Rein menggeram marah.
Luna sebagai pengamat sejak tadi hanya bisa menahan tawa melihat wajah dongkol Rayan.
“Boleh,” tanpa di duga Rein mengeluarkan ponselnya dan memberikan nomornya pada Rio secara cuma-cuma. Dia masih tidak peduli dengan kehadiran Rayan di sebelahnya. Setelah memberikan nomornya, Rein langsung sibuk memakan pesanan baksonya yang sudah datang.
“Makasih, kalo gue chat dibales ya,” ucap Rio sembari menyimpan nomor Rein di ponselnya.
“Iya.”
“Eh Yan, lo bukannya harus ketemu sama Pak Wijaya ya?” Edo tiba-tiba menyeletuk.
Rayan langsung mengalihkan tatapannya dari Rein. Dia melirik jam yang melingkar di tangannya dan sesaat kemudian wajahnya langsung panik. “Gila, kok nggak ngingetin dari tadi?!”
“Lah kan yang punya urusan lo, kenapa marah ama gue?!” Edo balas membentak.
“Ck! Gue pergi, assalamu’alaikum.” Rayan langsung berlari dari sana.
“Wa’alaikumssalam.”
Rein yang tadinya masa bodoh, mendadak penasaran. “Emang itu kenapa buru-buru banget?” tanya Rein pada Edo.
“Hari ini ada ujian, nggak tahu kenapa si Rayan nilainya mendadak anjlok gitu. Jadi sama Pak Wijaya suruh nemuin dia buat ngerjain tugas tambahan. Masalahnya Pak Wijaya itu dosen yang selalu on time, geser lima menit aja biasanya udah nggak ada di tempat. Jadwalnya padat gitu,” jelas Edo.
“Harusnya dia nggak minta tugas tambahan nggak apa-apa sih, soalnya nilainya juga nggak rendah-rendah banget. Tapi ya tau kan gimana Rayan? Dia nggak akan puas kalau nilainya kurang bagus, walaupun kalau seandainya itu gue yang dapat nilai segitu gue pasti udah bersyukur banget.” Kali ini Rio yang bersuara.
“Yeee lo mah calon dokter gadungan,” cibir Edo yang hanya di balas kedikan bahu oleh Rio.
“Baru sadar gue kalo belum kenalan sama lo,” Edo mengulurkan tangannya pada Luna. “Namanya siapa?”
“Gue Luna,” ucap Luna dengan ramah.
“Udah tau nama kami kan? Nggak perlu gue kenalin lagi.” Edo menarik tangannya, sembari melempar senyum pada Luna.
“Btw pada masih ada kelas nggak?” tanya Rio.
“Nggak ada,” jawab Luna.
Rein hanya menggeleng.
“Jalan-jalan kuy,” ajak Rio semangat. “Kita double date.”
Luna menatap Rein meminta pendapat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please be my husband!
ChickLitNamanya Brilliant Ivena Rein, atau akrab disapa Rein. Sejak kecil Rein tumbuh dengan kasih sayang yang melimpah dari orang-orang terdekatnya. Tumbuh menjadi remaja cantik dan dikagumi banyak kaum adam. Dia juga berprestasi di bidang akademik, menjad...
