Part 15 : Adiknya.

7.2K 594 33
                                        

°
°
°


Rein memang dimanja, segala keinginannya selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Akan tetapi seiring waktu berjalan hingga dia memilih menikah dengan seorang Rayan yang dianggapnya adalah satu-satunya kandidat yang cocok sebagai suaminya, Rein belajar banyak hal.

Mungkin dulu saat dia masih tinggal bersama orang tuanya, dia akan kabur saat ada masalah dengan orang tuanya. Tapi setelah menikah Rein sadar benar hal itu tidak bisa dibenarkan. Dia tidak mau mempermalukan keluarga Rayan walau dia marah pada Rayan. Sangat marah sampai rasanya ingin menampar Rayan karena ucapan cowok itu. Tapi sekali lagi, Rein menahan diri, mengucap sabar berkali-kali sembari mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak berlaku kasar pada suaminya sendiri.

Rein tidur lebih awal, dan bangun seperti biasa lantas ikut berjamaah sholat subuh bersama keluarga Rayan. Dia juga masih ikut membantu memasak di dapur, masih menyiapkan baju untuk dipakai Rayan kuliah, masih mengambilkan Rayan sarapan, walau dia melakukan itu dalam diam.

Dan Rein masih berbaik hati menunggu Rayan menyelesaikan sarapannya sebelum kuliah. Walau dia menyibukkan diri dengan ponselnya dan mengabaikan Rayan yang beberapa kali tertangkap netranya menatap intens ke arahnya.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, Rein masih diam. Berbeda dengan Rein, Rayan beberapa kali mengajak Rein bicara tapi Rein tampak pura-pura tidak mendengar ucapan Rayan. Saat sampai di kampus pun dia langsung meninggalkan Rayan begitu saja.

Selesai kelas Rein langsung pergi ke cafetaria ditemani ocehan Luna. Sebenarnya Rein mengajak Arini ikut serta, tapi sahabatnya itu masih terus menghindarinya. Rein sendiri bingung bagaimana harus menyelesaikan masalahnya dengan Arini karena dia sendiri nggak tau dimana letak salahnya.

“Rein lo tau nggak temen gue ada yang buka jasa ‘itu’ online.” Luna masih terus mengoceh, tadi dia membicarakan salah satu boyband yang sedang comeback, merambat sampai masalah bullying yang dilakukan beberapa orang hingga membuat si korban trauma. Luna juga membahas hatersnya yang sekarang bejibun semenjak Luna dekat dengan seorang pemain film layar lebar yang sedang naik daun. Dan sekarang sahabatnya itu membahas jasa ‘itu’ online, terkadang Rein merasa dia tidak perlu mengikuti berita karena mendengar ocehan Luna setiap hari dia jadi tau segala berita yang terjadi belakangan ini.

“Itu apa Lun?” tanya Rein sekedar menanggapi Luna.

“Temen gue SMP, dia nggak nerusin sekolah terus belakangan gue tau buka jasa plus-plus gitu, setiap jam berapa ratus ribu gitu.”

Rein dan Luna sampai di Cafetaria, dan langsung memilih duduk di meja pojok dekat dengan gerobak bakso Pak Mamad.

“Pak bakso dua, sama es jeruknya dua ya,” teriak Luna pada Pak Mamad.

“Siap Neng, tunggu sebentar.”

“Yang enak ya pak,” tambah Luna yang diacungi jempol oleh si penjual bakso.

“Jadi dia itu baru aja nikah dua bulan kan Rein, terus cerai.” Luna meneruskan ceritanya.

“Ih kok miris sih Lun,” gumam Rein mendengar ucapan Rein.

Luna mengedikkan bahunya. “Ya gitulah kalo orang udah emosi, sama-sama masih bocah kan makanya apa-apa nggak dipikir dulu. Harusnya kalo ada masalah ya intropeksi diri sendiri, lah gue yakin mereka pas ada masalah saling lempar kursi hahaha... lagian ceweknya rada sensian sih, nuduh-nuduh suaminya nggak bener padahal dia sendiri yang diluar rumah nggak bener tingkahnya.”

Rein mendadak lemas, dia jadi ingat masalahnya dan Rayan.

“Lo kenapa lagi kok mendadak kusut gitu?” tanya Luna pada Rein.

Please be my husband!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang