°
°
°
Rein tampak kikuk berdiri dikelilingi beberapa mahasiswa yang tampaknya tertarik padanya. Sedangkan Rayan masih tertahan di pojok ruangan entah membahas apa dengan beberapa panitia yang lain.
“Rein suka jalan-jalan nggak?” tanya seorang mahasiswa yang sejak tadi sudah terang-terangan menyukai Rein. Sejak awal sudah menanyai Rein macam-macam hingga membuat Rayan kesal bukan main.
“Gue jarang main,” jelas Rein pendek.
“Sama pacar?”
Rein menggeleng. “Maaf ya, gue nggak pacaran,” jawab Rein kalem.
Beberapa mahasiswa langsung suit suit. “Itu ngode biar cepet dilamar.”
Terdengar suara cie cie dari beberapa orang. Rein sesungguhnya nggak nyaman dengan hal itu. Ingin cepat-cepat pulang rasanya.
“Wah tapi kalo gue disuruh nikah sih nggak sanggup ya, masih pengen bebas.” Cowok yang tadi tampak menyukai Rein langsung mundur. Beberapa orang langsung menyoraki sikap cemen cowok itu.
Rein tersenyum, sudah bukan hal baru jika cowok ketakutan mendengar kata menikah. Mungkin di pikirnya jika menikah mereka tidak akan bebas pergi kemana-mana. Tidak akan bebas menyukai cewek lain. Atau apapun itu, tapi bagi Rein sudah benar dia memilih untuk menikah dengan Rayan. Walau pun sampai sekarang Rein tidak tau bagaimana perasaan Rayan sesungguhnya.
Di tempat berbeda, Rayan sejak tadi tampak mencuri-curi pandang ke arah Rein. Di sekelilingnya berdiri Ana, dan beberapa mahasiswa cowok yang tampak asik membahas persiapan pameran amal yang akan diadakan sebentar lagi.
“Kita butuh seragam nggak sih?” tanya seorang cewek yang baru saja bergabung, Rayan lupa nama cewek itu.
“Eh iya, gimana perlu seragam nggak?”
“Waktu udah mepet, dana juga tinggal sedikit kayaknya nggak cukup kalau harus bikin seragam,” Ana angkat bicara. “Gimana nih Yan?” tanya Ana pada Rayan.
“Nggak usah bikin seragam kak, mending kita sepakatin mau pake dresscode warna apa. Semisal atasan hitam terus bawahan bebas asal sopan, sama tentuin jilbabnya untuk yang berhijab. Menurutku gitu aja udah bagus kok,” jawab Rayan.
“Nah iya gitu aja,” seru cewek tadi.
“Yaudah nanti gue rundingin dulu sama yang lain ya,” jelas Ana.
Mereka terus membicarakan hal-hal lain sampai tiba-tiba Nisa datang dengan senyum manis andalannya. Tentu saja kedatangan Nisa membuat sebagian cowok langsung senang bukan main. Siapa sih yang nggak senang bisa dekat dengan cewek seperti Nisa?
“Semuanya, aku pamit pulang dulu ya, kata mama udah otw ke sini,” pamit Nisa dengan lemah lembut.
“Eh iya, Nis. Jadi ke rumah nenek kamu?” tanya Ana.
“Iya, udah kangen juga sama nenek,” jawab Nisa kalem.
“Wah lama dong kamu ambil cutinya? Nanti ada yang kangen gimana tuh?” celetuk Ana sembari melirik Rayan yang langsung mengernyit bingung dilirik oleh Ana.
“Hus jangan ngaco kamu,” tegur Nisa pada Ana.
Ana terkekeh. “Sana Yan, anterin Nisa ke depan!” titah Ana seenaknya.
“Lah ngapain aku kak?” tanya Rayan bingung.
Dan pada akhirnya Rayan dengan terpaksa berjalan beriringan dengan Nisa karena yang lainnya ikut memintanya mengantar Nisa ke depan. Rayan mengambil ponselnya lantas mengirim chat pada Rein.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please be my husband!
ChickLitNamanya Brilliant Ivena Rein, atau akrab disapa Rein. Sejak kecil Rein tumbuh dengan kasih sayang yang melimpah dari orang-orang terdekatnya. Tumbuh menjadi remaja cantik dan dikagumi banyak kaum adam. Dia juga berprestasi di bidang akademik, menjad...
