°
°
°
Rein duduk di taman kampus dengan sesekali mencuri pandang ke arah Rayan yang ada di bangku berbeda darinya. Saat cowok itu menoleh ke arahnya Rein akan pura-pura sibuk dengan novel di tangannya.
Tubuhnya mendadak lemas saat dua orang perempuan berkerudung menghampiri Rayan di sana. Rein mendengus. Kenapa Rayan menerima kehadiran dua perempuan itu begitu saja? Padahal sejak tadi Rein berusaha sekuat tenaga untuk menolak saat beberapa senior laki-laki di kampus menawarkan diri untuk menemaninya.
Andai Rayan tau kalau Rein sedang krisis kepercayaan diri sekarang.
Rein menoleh sekali lagi ke arah Rayan, dan tepat saat itu Rayan dan dua orang perempuan di sana menoleh ke arahnya. Terlihat Rayan mengucapkan sesuatu sembari tangannya menunjuk ke arah Rein.
Rein mengerutkan keningnya. Rayan terlihat melambaikan tangannya, sepertinya meminta Rein untuk mendekat. Rein bangkit dari duduknya lantas dengan ragu-ragu melangkah ke arah Rayan.
Sampai di depan Rayan dan dua perempuan berkerudung itu Rein hanya bisa berdiri dengan kikuk. Mau ikut duduk tapi bangkunya sempit, masa iya dia nyelip di antara Rayan dan Indah. Bisa-bisa Rayan marah lalu membatalkan pernikahan mereka nantinya. Ah jangan sampai, bisa-bisa Rein stress kalau itu sampai terjadi.
“Ada apa?” tanya Rein pada akhirnya setelah memutuskan untuk berdiri saja. Rayan juga nggak peka, harusnya kan dia berdiri dan mempersilakan Rein duduk bukannya bersikap santai saja seperti sekarang.
Rayan tersenyum ke arah Rein. Sepertinya dia memang harus bergerak agar Rein tidak salah paham. Arini dan Luna, dua sahabat Rein itu mendatanginya kemarin usai kelas terakhir. Mereka menjelaskan keadaan Rein yang minder setelah melihat kedekatannya dan Indah.
“Indah, Velo, kenalin ini Rein,” ucap Rayan memperkenalkan.
Dengan ragu Rein mengulurkan tangannya. “Hai, aku Rein.” Rein melebarkan senyumnya saat uluran tangannya dibalasa oleh kedua perempuan di depannya itu.
“Jadi Ndah, Rein lebih tau kalo masalah manajemen. Lo bisa tanya-tanya dia. Lo tau juga kan, dia salah satu mahasiswi terbaik di manajemen. So, lo nggak perlu khawatir,” jelas Rayan.
Rein hanya diam dengan kening berkerut. Sedangkan Indah terlihat tidak suka dengan ucapan Rayan barusan.
“Oh iya, btw Rein ini siapa kamu? Temen SMA ya?” tanya Indah dengan mata melirik tajam ke arah Rein. Rein terkesiap, tidak menyangka seorang Indah bisa menatap orang lain seperti itu.
Rayan hanya tersenyum, dia tidak melihat Indah tapi menatap Rein yang berdiri di depannya. Biarkan sekali ini saja dia berdosa karena menatap Rein terlalu lama. Sesungguhnya Rayan sudah tidak sabar menunggu akad rabu nanti.
“Yan! Kok kamu malah bengong?” Rayan tersadar dari lamunannya saat mendengar panggilan Indah. Dia menolehkan tatapannya dari Rein, kalau terlalu lama menatap Rein bisa-bisa Rayan salah fokus seharian.
“Dia bukan teman SMA,” jawabnya pada Indah.
“Terus siapa?” tanya Indah penasaran.
Rein sekuat tenaga tidak mendecih. Ini orang kepo banget, awas aja sampai sakit hati karena terlalu kepo!
Rayan beralih menatap Indah. “Calon istri,” ucap Rayan singkat dengan senyum bangga.
Indah, Velo, terlebih Rein sendiri kaget dengan ucapan Rayan. Jantungnya berdetak tak karuan sampai Rein kesulitan mengambil napas dengan benar. Jujur Rein senang bukan main Rayan mengakuinya di depan Indah dan Velo.
“Apa?” tanya Indah tidak percaya. “Lo mau nikah?”
Rayan mengangguk pasti. “Minta doanya ya, semoga lancar sampai hari H nanti. Sekalian gue pamit, gue harus ke ruang dosen sekarang. Masalah tugas lo itu, Rein pasti bersedia buat bantu. Ya kan Rein?”
Rein mengangguk masih dengan senyum lebarnya. Rayan lantas pergi dari sana meninggalkan Indah, Velo, dan Rein saling diam. Rein nggak peduli, walau sejak tadi dia sadar Indah menatap tajam ke arahnya, tapi Rein sama sekali nggak peduli. Mendengar pengakuan dari Rayan langung mengembalikan percaya dirinya.
“Gue minta bantuan orang lain aja,” ucap Indah ketus lantas menarik Velo dan pergi meninggalkan Rein yang masih tersenyum layaknya orang gila di sana.
***
Rein menyeruput es jeruknya cepat. Dia baru saja keluar dari ruang dosen untuk mengumpulkan tugas terakhir. Dia semangat mengerjakan semua tugasnya karena besok dia harus cuti untuk menikah, dan Rein sudah tidak sabar menunggu besok. Rein bahkan sampai lupa makan dan baru terasa laparnya sekarang. Tadi malam dia juga tidak sempat makan karena berkutat dengan laptop sampai jam satu pagi. Dia baru bisa tidur jam dua setelah mengeprintnya semalam langsung.
“Gimana persiapan buat besok Rein?” tanya Luna setelah kembali dari memesan bakso untuk mereka.
“Udah siap semua kok, semoga aja lancar,” gumam Rein berharap.
“Pasti lancar Rein, lo tenang aja. Rayan bukan tipe cowok yang bakal kabur pas akad kok,” ucap Arini mencoba menenangkan.
Luna memicingkan matanya pada Arini. “Tau darimana kalo Rayan nggak akan kabur pas akad? Jangan-jangan lo pernah nikah sama Rayan, makanya lo tau.”
“Lun, please!” Arini jelas geram. Luna benar-benar nggak sadar situasi.
“Ahaha, tenang aja gue udah nggak mempan sama komporannya Luna kok.” Ucapan Rein membuat Luna langsung menatap Rein penasaran.
“Kok bisa?”
“Soalnya, pas waktu itu Rayan sendiri ngakuin gue di depan Indah sama Velo kalo gue itu calon istrinya.” Rein memang belum sempat menceritakan kejadian tempo hari pada kedua sahabatnya karena di kejar deadline tugas.
“Wow,” seru Arini sambil menggelengkan kepalanya kagum.
“Gila, si Rayan keren juga ya!” komentar Luna nggak kalah heboh dari Arini. Padahal itu cuma Rayan yang mengakui Rein di depan Indah dan Velo. Tapi respon mereka segitu hebohnya.
Mereka terus mengobrol sampai akhirnya pesanan bakso Luna datang. “Loh Pak Mamad, kok baksonya Cuma dua. Kan tadi saya pesan tiga mangkuk?” protes Luna.
“Maaf ya neng, baksonya habis. Tinggal dua mangkuk,” jelas Pak Mamad.
“Yaudah nggak apa-apa Pak,” ucap Rein sembari tersenyum menenangkan. Pak Mamad mengangguk lantas pergi dari sana. “Kalian aja yang makan baksonya,” ucap Rein pada kedua sahabatnya.
“Lah lo gimana? Belom makan dari pagi kan?” tanya Arini khawatir.
“Gue nanti aja, belom laper ba-“
“Makan, jangan sampai sakit!” Rein melongo, Luna dan Arini juga. Rayan menaruh semangkuk bakso yang masih panas di depan Rein, lantas pergi begitu saja setelahnya.
“Wow,” gumam Arini pelan.
“Wahgelasih!! Itu beneran Rayan? Kok jadi sweet gitu sih?! Ah gue juga mau dong kalo kaya gitu!” teriak Luna histeris.
Rein tak bisa menahan senyumnya. Rayan ternyata nggak seburuk yang dipikirkannya, nggak secuek yang dia kira. Rein menarik mangkuk bakso di depannya lantas mulai memakannya. Jujur dia kelaparan.
Tbc...
Sorry jam segini baru up(kalo ada yg nunggu) wkwk
Semoga suka.
Vin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please be my husband!
ChickLitNamanya Brilliant Ivena Rein, atau akrab disapa Rein. Sejak kecil Rein tumbuh dengan kasih sayang yang melimpah dari orang-orang terdekatnya. Tumbuh menjadi remaja cantik dan dikagumi banyak kaum adam. Dia juga berprestasi di bidang akademik, menjad...
