°
°
°
Rein sedang sibuk berkutat dengan laptopnya saat Rayan masuk ke dalam kamar. Rayan meletakkan sebuah cupcake di depan Rein, lantas mendudukkan diri di samping Rein.
Rayan ikut memperhatikan laptop yang sejak tadi tidak lepas dari istrinya itu. Sejak beberapa hari yang lalu Rein memang bertekad untuk membuat sebuah buku yang bertujuan untuk menginspirasi banyak orang di luar sana. Dan Rayan tentu saja mendukung keinginan Rein sepenuhnya. Siapa yang tau ternyata Rein berbakat dalam menulis buku. Akun instagramnya yang beberapa waktu lalu dia nonaktifkan kini diaktifkan kembali. Semua foto lamanya dia bersihkan, hanya tersisa sebuah video bersisi tentang permintaan maaf dan juga pemberitahuan tentang buku yang tengah dia garap sekarang.
Setelah berpikir beribu kali untuk mempublish video permintaan maafnya itu, akhirnya Rein memberanikan diri dengan ditemani oleh Rayan pada suatu malam. Paginya, saat Rein selesai subuh beribu notifikasi datang. Betapa terharunya Rein saat masih banyak orang yang mendukungnya dan memberikan kata-kata penyemangat agar Rein tiak berputus asa.
Sejak saat itulah Rein bertekad kuat untuk merampungkan bukunya ini. Karena Rein juga sudah memutuskan untuk berhenti kuliah dan fokus pada calon bayinya yang saat ini sudah jalan lima bulan, setelah mendapat dukungan penuh dari kedua orangtuanya.
“Lakukan apa yang membuat kamu bahagia Rein, kami hanya ingin kamu menikmati hidup dan bahagia. Kami nggak akan menuntut kamu untuk menjadi seperti kami,” ucap ayahnya waktu itu.
Tentang semua hal yang menyakiti Rein, Rein menerima itu dengan lapang dada dan berusaha untuk memaafkan semua orang yang berjasa menorehkan luka di hatinya. Rein benar-benar berusaha untuk tidak lagi memikirkan hal-hal yang membuatnya terpuruk. Dengan Rayan yang tidak pernah berhenti menguatkannya, mertua yang mendukungnya, orangtua yang selalu ada untuknya dan berjuang mati-matian membelanya.
Apalagi yang harus Rein tangisi? Ini yang dia inginkan. Begitu banyak orang yang menyayanginya, membagi waktu mereka untuk sekedar menanyakan apakah dia baik-baik saja. Teman-teman baru yang mau membagi ilmu mereka pada Rein. Rein begitu bahagia karena pada akhirnya banyak orang yang menyayanginya.
Apalagi setelah Rein benar-benar merubah pola hidupnya yang dulu, dan membuka lembaran baru bersama Rayan.
Ngomong-ngomong tentang Rayan, suami Rein itu baru saja buka cabang baru dan alhamdulillah usahanya semakin dilancarkan. Ya walau pun jadi makin sibuk karena harus mengurusi Rein dan juga kuliahnya.
“Udah dulu ngetiknya, dedenya juga butuh istirahat ummi,” bisik Rayan pelan sembari mengusapkan tangannya di atas perut Rein yang sudah terlihat menonjol di balik dress rumahnya.
Rein terkekeh, akhirnya menyerah dan memilih menyimpan tulisannya itu. Fokusnya tidak akan bertahan lama jika ada Rayan.
Rein menghadapkan diri pada Rayan, tangannya terulur untuk mengusap rahang tegas Rayan sembari tersenyum lebar. “Mas nggak jadi pergi ngampus?” tanyanya.
Rayan tidak lantas menjawab. Matanya terpejam menikmati usapan tangan Rein di pipinya. Beberapa hari ini Rayan memang kurang tidur, tugas menumpuk ditambah kadang Rein ngidam tengah malam. Tapi walau terkadang capek dan rasanya ingin ngebo, Rayan tidak akan tega membiarkan Rein tidur dengan gelisah karena ngidamnya tidak terpenuhi.
Rein mengecupi mata Rayan yang terdapat lingkaran hitam karena kurang tidur. “Maaf ya bikin kamu kurang tidur,” ucap Rein dengan penuh rasa bersalah.
Rayan membuka matanya lantas tersenyum. “Nggak apa-apa, aku nikmatin semua itu kok.”
“Padahal kamu udah capek ngurusin dagangan, masih ada tugas kuliah numpuk-“
KAMU SEDANG MEMBACA
Please be my husband!
Literatura FemininaNamanya Brilliant Ivena Rein, atau akrab disapa Rein. Sejak kecil Rein tumbuh dengan kasih sayang yang melimpah dari orang-orang terdekatnya. Tumbuh menjadi remaja cantik dan dikagumi banyak kaum adam. Dia juga berprestasi di bidang akademik, menjad...
