°
°
°
Rencana awal Rayan adalah rein tetap tinggal di rumahnya sendiri sampai resepsi satu bulan lagi. Akan tetapi pada akhirnya hanyalah tinggal rencana karena Rein tidak menyetujui hal itu.
"Mas?" panggil Rein pada Rayan yang tampak fokus pada layar ponselnya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Rayan. Karena barang bawaan Rein nggak bisa dibilang sedikit akhirnya Rayan setuju untuk memesan taksi online dan meninggalkan motornya di rumah mertua.
"Mas!"
Rayan akhirnya menoleh. "Kenapa?" tanyanya singkat tanpa minat. Dia capek dan masih harus mempersiapkan dagangan untuk nanti malam.
"Sibuk banget dari tadi," keluh Rein dengan ekspresi cemberut. "Beneran mau tetap dagang malam ini?"
Rayan langsung mengangguk. "Ini lagi minta tolong Salma buat ambil bebek di tempatnya Pak Haji. Kamu mau ikut dagang?"
Rein tertawa hambar lantas menggeleng. Dia memilih untuk menatap keluar daripada mencari perhatian Rayan. Dia sebenarnya nggak masalah ikut dagang, tapi nggak juga di hari pertama mereka menikah kan? Rein sudah membayangkan Rayan akan mengajaknya jalan-jalan, atau kalau nggak menemaninya di kamar sekedar mengerjakan tugas aja nggak masalah. Rein nggak mau menuntut banyak sampai harus mengajaknya ke restoran mahal buat makan malam. Setidaknya Rein hanya ingin punya waktu berdua dengan Rayan lebih banyak. Kalau seperti ini lantas apa bedanya mereka sebelumnya dan setelah menikah?
Rein terus diam sepanjang sisa perjalanan. Sampai di rumah Rayan, Rein ikut membawa satu kopernya yang sedang dan berjalan dalam diam di belakang Rayan. Dia tersenyum pada ibu mertuanya yang menyambut di depan rumah.
"Tante-"
"Bunda. Panggil bunda seperti Rayan dan anak-anak bunda yang lain. Kamu juga anak bunda sekarang."
Rein tersenyum haru lantas memeluk ibu mertunya. "Makasih udah mau terima Rein, Rein janji akan berusaha yang terbaik. Tolong bantuannya ya Bunda."
"Iya sayang, selamat datang di keluarga ini." Rein tersenyum, dia bersyukur pada akhirnya bisa diterima dengan semua keluarga Rayan. Adik Rayan yang yang paling kecil bahkan sangat lengket dengannya.
Rein melepaskan pelukannya pada ibunda Rayan lantas menatap wanita paruh baya itu dengan senyum penuh rasa terima kasihnya. "Makasih bun."
Ibunda Rayan tersenyum, lantas mengangguk. "Ayo masuk," ajak sang bunda yang diangguki oleh Rein.
Sampai di kamar Rayan, Rein lagi-lagi harus menghela napas sabar. Terlihat suaminya itu sudah rapih dengan kaus pendek hitam dan jeans senada, sudah siap untuk pergi berdagang.
Rayan yang menyadari kehadiran Rein langsung mendongak dan tersenyum pada istrinya itu. "Kamu tidur aja dulu, nggak usah nunggu aku pulang ya. Kalo capek beres-beresnya besok aja."
Rein tidak membalas senyum Rayan. Dia hanya menatap Rayan datar dalam hati memaki-maki cowok nggak peka itu.
"Rein, kamu sakit? Dari tadi diem aja."
Iya sakit, sakit hati mas, dumel Rein dalam hati.
"Nggak kok, semangat kerjanya!" Rein berusaha berucap ceria tanpa banyak omong seperti biasa. Mamanya sudah memberi ceramah panjang lebar bahwa nggak baik menggunakan kata-kata kasar, dan seenaknya seperti biasa. Dia harus belajar mengerem mulutnya yang sering asal berbicara agar dia dan Rayan tetap baik-baik saja.
"Yaudah, aku berangkat ya. Asalamualaikum..."
"Waalaikumsalam."
Setelah Rayan keluar dari kamar, Rein langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang Rayan. Tatapannya lurus ke arah langit-langit kamar Rayan. Rein nggak masalah meninggalkan dunianya yang berlimpah harta. Dia rela tidur di kamar Rayan yang bahkan nggak ada sepertiga luas kamarnya. Dia nggak masalah kalau harus digigiti nyamuk setiap malam. Rein sudah memikirkan banyak hal, segala resiko yang akan dia tanggung setelah lepas dari orang tuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please be my husband!
Chick-LitNamanya Brilliant Ivena Rein, atau akrab disapa Rein. Sejak kecil Rein tumbuh dengan kasih sayang yang melimpah dari orang-orang terdekatnya. Tumbuh menjadi remaja cantik dan dikagumi banyak kaum adam. Dia juga berprestasi di bidang akademik, menjad...
