"Cantik,"
"Hm?"
"Lo cantik, Jen."
Pipi Jennie memerah bersamaan dengan terlontarnya kalimat itu dari mulut Kim Hanbin. Laki-laki ini terus menatapnya semenjak ia duduk tak peduli seberapa gugupnya Jennie.
Hanbin tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Gadis di hadapannya ini memang benar-benar cantik. Setelah puas memandangi wajah Jennie yang merona, ia berdehem pelan mencairkan suasana.
"Ayo," ucap Hanbin sambil berdiri kemudian melangkah keluar dari butik keluarga itu.
Jennie hendak merogoh dompet namun nihil, dompetnya tertinggal di mobil bersama seluruh benda-benda yang mereka bawa ke danau.
Menyadari Jennie tak segera mengikuti langkahnya, Hanbin berbalik badan.
"Kenapa?"
"Em.. dompet, Kak."
Hanbin mengernyit tak paham. Jennie nampak menatap pakaian yang dipakainya dengan tidak nyaman menyadari ia belum membayar.
Laki-laki di depannya ini masih memasang wajah bingung. Jennie menghela nafas, "gue belum bayar, Kak."
"Mana nggak punya uang." tambah Jennie lirih namun masih bisa didengar Hanbin.
Hanbin terbatuk karena menahan tawa. Ia berusaha mengendalikan senyum akibat ucapan gadis cantik itu.
"Kaga usah."
"Tapi 'kan,"
"Mau es krim kaga?" Hanbin kembali melanjutkan langkahnya keluar.
Jennie menatap para pelayan itu was-was. Bagaimana jika tiba-tiba mereka menangkap Jennie dengan tuduhan pencurian. Membayangkannya saja sudah membuat Jennie bergidik ngeri.
Salah satu pelayan mendekatinya. Jennie sedikit terkejut, apa mungkin firasatnya benar. Apa hanya karena rencana konyolnya tadi ia harus mendekam di penjara.
Pelayan itu tertawa memahami pemikiran Jennie, "Tenang Nona. Butik ini milik keluarga Tuan Muda. Mari saya antar,"
Ah, ini butik keluarga Kim Hanbin.
Akhirnya dengan perasaan lega Jennie mengikuti pelayan tadi. Takut akan tersesat saking besarnya bangunan megah ini.
Mereka berjalan sampai mata Jennie bertemu dengan sosok pria tampan yang berdiri bersandar pada mobil Porsche hitam. Lagi-lagi jantungnya dibuat berdebar.
"Lama," Hanbin berdecak lalu masuk ke mobil dan duduk di bangku pengemudi.
Jennie akan menyusul Hanbin ke dalam mobil namun pelayan itu menghentikannya.
"Ini milik Nona, dan benda yang nona minta tadi sudah saya masukan." kata pelayan itu sambil memberikan paper bag lengkap berisi barang-barang Jennie.
Jennie berterima kasih sambil tersenyum manis. Ia berpamitan pada pelayan tadi kemudian masuk ke mobil. Tanpa sadar, sedari tadi Hanbin memperhatikan Jennie dari balik kaca mobil.
"Lo mau es krim apa?" tanya Hanbin begitu Jennie telah duduk dengan nyaman.
Perjalanan dari danau ke butik tadi dan waktu yang mereka habiskan untuk mandi dan bersiap-siap membuat Jennie tak sadar bahwa hari sudah mulai gelap. Bagaimana dengan persiapannya?
Jennie mengambil ponsel lalu mengetikkan sesuatu.
Jennie
(18.10)
Gimana?
Jinan
(18.12)
Almost done
Gue sama anak-anak abis ini otw
Lo ntar sama Hanbin langsung ke sana
KAMU SEDANG MEMBACA
Found You [ Jenbin ]
Fanfic"Takdir yang mempertemukan kita, bukankah sangat tidak adil jika tiba-tiba ia juga yang memisahkan kita?" - Kim Hanbin "Jika takdir memang menghendaki kita untuk bersama, aku yakin suatu saat ia akan mempertemukan kita lagi. Kita hanya perlu waktu...
![Found You [ Jenbin ]](https://img.wattpad.com/cover/161667422-64-k232866.jpg)