(25) Maaf [2]

2.3K 298 26
                                        

Kim Hanbin menghentikan laju mobilnya di sebuah taman bermandikan cahaya dari lampu yang disusun sedemikian rupa membentuk pola. Tak lupa ia turun dan segera berlari kecil ke arah berlawanan, mempersilahkan gadis cantik di kursi penumpang untuk turun. Mengabaikan kerutan heran yang mulai muncul di dahi Kim Jennie di sampingnya.

"Kak?" panggil Jennie.

Hanbin menatap kedua mata gadis itu sambil berusaha menarik urat-urat senyumnya. Tangannya tiba-tiba menggenggam erat tangan Jennie, mengajaknya ke tempat yang lebih hening.

Mereka berhenti tepat di depan bangku taman yang kosong. Di depan mereka berdiri megah air mancur yang menjadi ikon taman kota tersebut.

"Gue mau kita selesain semuanya di sini baik-baik. Gue nggak mau ada salah paham lagi diantara kita, Jen." Hanbin menepuk tempat di sebelahnya mengisyaratkan Jennie untuk duduk. Helaan nafas Jennie terdengar, entah apa yang gadis itu pikirkan saat ini. Hanbin hanya ingin menyelesaikan semuanya, memperjelas semuanya, dan mungkin..

Mencari kejujuran dibalik sikap angkuh dan gengsi dalam hatinya. Apakah benar ia jatuh cinta pada gadis di sampingnya ini? Mengapa? Bagaimana bisa?

"Yang tadi pagi, gue.."

Jennie menatap air yang seolah menari-nari di depannya. Ia harap pertunjukan air mancur itu bisa membantu Jennie mengalihkan pikiran.

"Gue keterlaluan, Jen. Gue tau gue salah. Gak seharusnya gue kasar ke lo kek gitu." ucap Hanbin setelah beberapa detik terdiam karena lidahnya kelu.

Tak ada respon, Hanbin melanjutkan perkataannya.

"Jadi, Jeje itu sahabat kecil gue. Satu-satunya orang yang selalu ada buat gue. Bahkan waktu masalah keluarga gue hampir buat gue bunuh diri di umur yang terbilang cukup muda. 7 tahun, Jen.. " Hanbin terkekeh pelan. Pandangannya terlihat menerawang.

Perlahan Jennie mengamati laki-laki di sampingnya ini. Suara tawanya barusan menyiratkan banyak luka mendalam. Memang tak diungkapkan melalui kata-kata, namun Jennie tahu betul rasanya.

"Gue ngerasa beruntung banget bisa kenal sama Jeje. Dia kek obat penawar dari semua masalah gue. Senyumnya bikin gue tenang. Dia tau banget caranya bikin gue lupain sejenak masalah gue. Jeje bener-bener berharga di mata gue, gue sayang banget sama dia."

Jennie memalingkan wajah ketika tahh mata Hanbin sedikit berkaca-kaca. Hati Jennie nyeri mendengar semua cerita Hanbin. Sebegitu berharganyakah dirinya di mata Hanbin? Perasaan bersalah itu kembali menyeruak mendesak air mata yang kini telah jatuh sebulir. Jennie cepat-cepat menghapusnya lalu menatap Hanbin lagi.

"Terus, Kak?"

Hanbin tersenyum tipis karena sepertinya Jennie mulai tertarik dengan ceritanya.

"Semuanya baik-baik aja sampe tiba-tiba Jeje pergi tanpa kabar. Tepat malam waktu gue ulang tahun. Dia pergi tanpa pamit, Jen. Ninggalin gue yang kek udah gak bisa hidup tanpa dia. Jeje pergi dan masalah keluarga gue lagi dalam puncaknya. Bokap gue main cewek dan ibu gue udah gak tahan sama semua kebusukan orang itu."

"Tanggal 22 Oktober, sorenya gue sempet ketemuan sama Jeje di danau yang waktu itu. Semuanya normal, Jen. Jeje bawa kue dan kami rayain ulang tahun gue. Sayangnya, gue waktu itu buru-buru sampe gak dengerin sama sekali omongan Jeje. Gue tinggalin dia begitu aja karena ada telpon penting dari rumah, padahal dia mau ngomong sesuatu yang penting juga."

Iya, gue mau pamit waktu itu. Batin Jennie berteriak pedih.

"Gue sampe di rumah dan rumah udah sepi. Gue teriak-teriak gak ada yang jawab. Gue panggil ibu gue tapi gak ada jawaban. Terus kek gitu sampe Bi Sun dateng dan meluk gue tiba-tiba. Dia bilang ibu gue pergi dari rumah bawa Hanbyul."

Jennie terdiam mematung.

"Gue kaget, gak habis pikir sama ibu. Tega-teganya dia ninggalin gue, padahal dia tau bokap gue kek gitu. Gue kecewa banget sama ibu gue."

"Bertahun-tahun gue berharap ibu gue balik tapi dia kaga balik, Jen." Hanbin tertawa miris.

"Terus Jeje?" sela Jennie. Hanbin menatap Jennie lekat. "Paginya setelah kejadian ibu gue pergi dari rumah, gue ke rumah Jeje buat minta maaf karena kemarin ninggalin dia sendiri. Pas gue dateng rumahnya kosong. Kata satpam rumah, dia pindah setelah Jeje nyamperin gue di danau. Ya tepat 22 Oktober malam."

"Gue shock, Jen. Satu-satunya harapan gue buat bahagia malah pergi ninggalin gue."

"Gue berusaha hidup normal kek orang lain tanpa sosok orang tua tanpa sosok sahabat. Gue rasa gue berhasil dan gue udah mulai terbiasa hidup tanpa kasih sayang."

"Gue mulai semuanya dari nol. Gue coba buat cari kasih sayang lewat pacar. Tapi nyatanya sama aja. Gue yang waktu itu cuma anak culun ternyata dijadiin bahan taruhan sama pacar gue. Gue sakit hati, Jen. Rasanya udeh males percaya lagi."

Jennie mengangguk, sebagian besar orang yang menyakiti perasaan Hanbin adalah perempuan. Ia kini paham mengapa Hanbin menutup diri.

"Semenjak ketemu lo di hari pertama ospek, gue liat ada kemiripan antara lo sama Jeje. Sampe-sampe gue salah sebut nama lo berulang kali. Gue liat Jeje di diri lo, Jen. Mungkin kalo Jeje masih di sini dia bakal mirip banget sama lo."

"Satu sisi gue sakit hati, gue pengen marah karena gue kecewa. Tapi gue juga gak berhak salahin Jeje karena ini semua udah takdir. "

"Jeje itu, cinta pertama sekaligus luka buat gue." Hanbin terkekeh mungkin karena tergelitik dengan ucapannya sendiri.

"Gue harap setelah lo tau semuanya, lo jadi bisa maafin gue." ucap Hanbin mengakhiri semua cerita panjangnya. Jennie benar-benar tidak menyangka bahwa Hanbin harus menghadapi kehidupan yang seperti itu.

"Jadi?" Hanbin merubah posisi duduknya menjadi bersandar.

"Jadi apa?"

"Tunggu bentar," kata Hanbin seraya berlari ke arah tempat parkir mobil mereka tadi. Tak lama laki-laki tampan itu datang membawa sebuket bunga mawar yang sangat cantik.

"Jadi, gue harap lo ngerti kenapa gue bisa kelepasan tadi pagi. Gue bener-bener gak maksud nyakitin perasaan lo. Gue gak maksud bikin lo nangis, Jen." Terlihat kesungguhan dari mata Hanbin. Laki-laki itu benar-benar menyesal dan Jennie merasakan itu.

Hanbin memberikan buket bunga itu dengan ragu-ragu.

"Kenapa?" tanya Jennie. Kini Hanbin yang dibuatnya tidak mengerti.

"Apa?"

"Kenapa perlu lakuin ini semua?"

"Karena gue gak mau lo salah paham lagi."

"Kenapa?"

"Karena semakin lo salah paham, semakin gue ngerasa kalo gue cuma laki-laki brengsek yang bisanya nyakitin lo doang."

Perkataan Hanbin barusan membungkam mulut Jennie. Hati Jennie lagi-lagi terasa nyeri. Seburuk-buruknya Hanbin, Jennie tak pernah menganggap Hanbin adalah laki-laki brengsek.

"Boleh gue minta tolong?"

"Apa?"

"Tolong jangan sama-samain gue sama Jeje lagi, Kak. Karena gue Jennie dan gue bukan Jeje."

***

Jika lukamu adalah aku, segeralah belajar untuk sembuh sekalipun harus melupakanku.

***
To be continued...

Found You [ Jenbin ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang