Terdengar bel rumah berbunyi. Jennie segera turun mengingat teman-temannya yang mungkin sudah datang. Ponsel di tempat tidur ia biarkan begitu saja walau panggilannya masih terhubung. Entahlah, hati Jennie masih nyeri tiap kali melihat laki-laki itu.
Tapi sekarang bukan saatnya untuk memikirkan masalah itu. Teman-temannya kini ada di sini. Yang harus ia lakukan adalah bersenang-senang dan melupakan masalah tadi. Sementara.
"Jen! Wah parah lo nggak ngabarin kita-kita." Lisa yang pertama kali Jennie lihat sedang melipat tangan di depan dada sambil geleng-geleng kepala. Di belakang Lisa terlihat Jisoo dan Rose yang memperagakan gerakan senada.
Jennie tersenyum kikuk. Niat awal tidak mengabari mereka gagal karena ulah Jinan atau mungkin ini ulah takdir.
"Sorry ya, gue tadi buru-buru." jawab Jennie terkekeh. Jisoo berdecak, "Buru-buru ngapain sih sampe nggak ngabarin?"
Jennie hanya tersenyum. Ia merangkul ketiga sahabatnya dan mengajak mereka ke kamar. Jennie tak sadar sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan setiap perubahan ekspresinya. Orang itu tengah menyelidik apakah dugaannya benar atau tidak.
***
"Adek gue mau lo bawa kemana?" Jinan yang duduk di sofa menatap Hanbin tajam. Perasaannya masih belum nyaman akibat kejadian tadi pagi.
"Lo gak percaya sama gue?" Hanbin yang ditatap nampak tersenyum masam.
"Bukannya gitu, Bin. Lo tau sendiri kejadian tadi pagi 'kan? Jinan cuma khawatir sama Jennie." Yoyo membantu mengurangi kesalahpahaman antara dua sahabat itu.
"Kalo sampe lo bikin adek gue nangis lagi, we'll see it." kata Jinan. Sedetik kemudian langkahnya sudah hilang dibalik pintu ruangan yang kini kembali tertutup.
Hanbin terdiam merasakan ada nada ancaman dari ucapan Jinan tadi. Bukan saja mengancam dirinya, namun persahabatan mereka juga. Ayolah, lagipula Hanbin hanya berniat meminta maaf pada Jennie. Tidak mungkin 'kan dia menyakiti Jennie lagi.
Ah tidak, Hanbin terlalu percaya diri.
"Jaga kepercayaan Jinan, Bin. Gue kaga mau kita pecah cuma gara-gara cewek." DK menepuk pundak Hanbin diikuti anggukan kepala yang lain.
"iKON bukan iKON kalo gak tujuh orang." Chanu membuat semua orang kini menatapnya.
"Wih, adek kecil kita udah besar." kata Bobby sambil mengacak rambut Chanu. June bergabung dengan Bobby. Chanu sibuk menghindar sementara yang lain tertawa.
"Gue harap lo anggep serius yang Chanu omongin tadi." bisik DK.
***
"Kamar lo nyaman banget sih." kata Lisa yang sudah menidurkan diri di tempat tidur Jennie.
"Bangun woy! Lo kalo udah nempel kasur pasti ntar ketiduran." Jennie melempar bantal ke arah Lisa. Tak peduli dengan teriakan Jennie, Lisa malah menangkap bantal yang Jennie lempar lalu memeluknya.
"Diem ah, ngantuk nih gue." kata Lisa, matanya sudah ia pejamkan dari tadi.
Tubuhnya bergerak mencari posisi yang nyaman.
"Dasar kebo," kekeh Rose sambil ikut melempar boneka ke Lisa.
"Eh, Jen lo kenapa sih?" tanya Jisoo tiba-tiba. Sepertinya sesi wawancara akan segera dimulai. Jennie menghela nafas, "Emang gue kenapa?"
"Lo ditanya malah ganti tanya." cibir Jisoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Found You [ Jenbin ]
Hayran Kurgu"Takdir yang mempertemukan kita, bukankah sangat tidak adil jika tiba-tiba ia juga yang memisahkan kita?" - Kim Hanbin "Jika takdir memang menghendaki kita untuk bersama, aku yakin suatu saat ia akan mempertemukan kita lagi. Kita hanya perlu waktu...
![Found You [ Jenbin ]](https://img.wattpad.com/cover/161667422-64-k232866.jpg)