***
"HAH? 50 kali?"
"Hm? Binbin?"
"Sorry, gue kelewatan."
"Kak, makasih ya."
"Jeje nggak tau. Jeje cuma pengen sama Binbin. Selamanya. Sampai Jeje jadi nenek-nenek terus Binbin jadi kakek-kakek."
"One-on-one?"
"Oh ya, aku juga ingin taruhan. Aku bertaruh perempuan tadi akan menjadi seseorang yang penting untukmu kelak."
"Kak, gue kangen lo."
"Yaudah, aku janji nggak akan nyakitin kamu lagi."
"Nama kamu siapa?"
"Jeje"
"Saya tidak menyukainya."
"Kau membohongi perasaanmu sendiri, bodoh."
"Jeje sayang Binbin. Jangan lupain Jeje ya. Nanti kalo udah besar Jeje pasti ketemu Binbin lagi."
"Kau lupa satu hal, nak. Takdir.."
"Happy birthday to you.."
"Orang yang hanya tahu melukai itu nggak pantas diingat, Kak. Ya walaupun dulu dia pernah bikin lo bahagia, tapi akhirnya lo terluka karena dia 'kan? Jadi buat apa diingat? Mengingat orang yang pernah melukai kita itu kayak lo naruh garam di luka baru. Perih."
"Binbin, Jeje mau es krim."
"Je.. jangan pergi lagi."
"Tolong jangan sama-samain gue sama Jeje lagi, Kak. Karena gue Jennie dan gue bukan Jeje."
"Kalo misal suatu hari Jeje balik ke kehidupan lo, gimana?"
"Kalo misal gue yang nembak lo, lo seneng gak Jen?"
"Album foto? J-Jennie.. J-Jeje?"
"Oh lo pengaruhin temen-temen gue? Mentang-mentang sahabat-sahabat lo pacar temen-temen gue, dikira gue juga bisa dipengaruhin."
Semua ingatan-ingatan Hanbin mulai bermunculan. Seperti cuplikan-cuplikan film yang muncul dan hilang dalam sekejap. Hingga,
"Bin, Hanbin! Bangun!"
Hanbin mendengar suara DK memanggil namanya berulang kali, namun matanya masih berusaha memfokuskan pandangannya yang kabur.
Setelah penampilan Jennie tadi, setelah terdengar suara tepuk tangan riuh dari penonton, Hanbin jatuh pingsan. Kepalanya seperti dihantam sesuatu yang keras dan rasa sakitnya tidak main-main.
"Bin!" Suara DK terdengar lagi, laki-laki itu terus memanggil-manggil Hanbin sambil menepuk pipinya.
"Argh.."
Rasa sakit itu datang lagi sesaat setelah Hanbin membuka matanya. Ia baru sadar bahwa kini ia berada di ruang kesehatan dengan DK, Jinan, dan Yoyo di samping ranjangnya.
"Gue kenapa?" tanya Hanbin masih sambil memegangi kepalanya.
"Lo tiba-tiba pingsan tadi." jawab Jinan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Found You [ Jenbin ]
Fanfiction"Takdir yang mempertemukan kita, bukankah sangat tidak adil jika tiba-tiba ia juga yang memisahkan kita?" - Kim Hanbin "Jika takdir memang menghendaki kita untuk bersama, aku yakin suatu saat ia akan mempertemukan kita lagi. Kita hanya perlu waktu...
![Found You [ Jenbin ]](https://img.wattpad.com/cover/161667422-64-k232866.jpg)