Sudah 6 jam ia berada di dalam laboratorium, mencoba membuat vaksin hydrocaline itu. Wanita itu memutuskan untuk istirahat dan pergi ke ruang isolasi, melihat kondisi kekasihnya.
Perasaan pilu dan bersalah selalu ia rasakan saat melihat sang kekasih berada didalam tabung itu, duduk menyudut dan membelakangi setiap orang yang ada di ruang itu. Wanita itu berjalan ke sisi lain, agar bisa menatap wajah kekasihnya dalam tabung. Namun, makhluk itu terus mengalihkan pandangannya.
Lagi... Lagi.... Dan lagi ia tak mampu menahan emosi dalam dirinya dan meluapkannya dalam tangisan.Sesaat, terputar kembali kenangan masa lalu dirinya dan pria itu. Saat, dirinya dan Edmund pertama kali bertemu, kala itu Edmund dan dirinya sedang di perpustakaan sekolah. Calissa menawarkan coklat kepada edmund, pria itu pun menerimanya dengan ragu.
Setelah kejadian itu, Calissa dan edmund pun lebih dekat. Mereka suka bertemu di perpustakaan, menemani Calissa membaca atau berbincang di taman sekolah. 1 tahun setelah kejadian itu, edmund memberanikan diri menyatakan cintanya kepada Calissa dan berpacaran sampai sekarang, walau terkadang putus-nyambung.
Sebulan mereka pacaran, dari lamanya mereka bersama edmund baru mengetahui maksud Calissa memberikan coklat itu karna tak ingin mubazir. Sebelumnya Calissa diberikan coklat oleh seseorang, Calissa tidak menyukai coklat karna akan membuatnya gendut. Ia pun memberikannya pada edmund yang kebetulan ada disampingnya.
Calissa tak bisa berhenti tertawa saat tahu, edmund menganggap pemberian itu lain. Edmund menganggap bahwa Calissa suka padanya, wajar Edmund adalah cowo populer di sekolahnya dulu.
"Aku rasa kau butuh menghirup udara segar" Ucap seseorang dari belakang. Calissa langsung menghapus air matanya dan melirik pada peter yang disampingnya. "Apakah New York masih punya udara segar?" Ucap Calissa pelan dan tersenyum tipis.
"Tidak segar, tetapi tetap saja udara. Come on!" Jawab peter dan berjalan keluar ruangan. Calissa menatap edmund lagi, ia langsung mengalihkan pandangannya dan memutar balik badannya lalu mengikuti Peter.
°°°
"Feels better?" Ucapnya dan memberikan cup coffee kepada wanita itu. Calissa, ia menerima cup itu lalu tersenyum tipis sambil memendangi kota New York dari atas atap gedung Roosevelt Corps.
"Tidak akan pernah lebih baik sebelum ingatan akan kenangan masa lalu itu berhenti membayangi" Jawab Calissa, ia meneguk kopinya dan menunduk kearah bawah. "Masa lalu bukan untuk dilupakan tapi dikenang" Ucap peter dan tertawa kecil diakhir kalimat.
"Sejak kapan dan karna apa kau mulai menyukai priamu itu?" Tanya peter dan melirik kearah Calissa. Wanita itu menghela nafasnya, dan tertawa pelan. "Itu hal yang memalukan" Jawab Calissa dan meneguk kopinya lagi.
"Dulu, saat aku masih berpacaran dengan Lucas aku sudah berteman dengannya. Walau tak terlalu dekat. Hari itu...." Ucap Calissa terpotong, wanita itu menghabiskan kopinya. "Hari itu aku pergi ke pub bersama Lucas, aku setengah mabuk saat itu. Lucas mengajakku ke suatu tempat, aku masih sedikit tersadar dan memberontak sesaat seperti orang mabuk. Sesaat aku sadar, ada sesuatu yang mengganjal. Aku mulai tersadar, dan ternyata aku ada disalah satu kamar pub itu. Shock? pasti. Bajuku sudah ada disampingku, aku langsung memberontak—"
Calissa menutup mulutnya, menahan tangisnya dan menyeka air mata yang sudah jatuh. "Aku bersyukur saat itu aku sadar dengan cepat, dia hanya baru mencumbuku dengan hasrat kotornya dia. Aku langsung memakai bajuku, melawannya dengan kemampuanku dan berteriak keluar.Tidak harus menunggu lama, edmund datang berpura-pura sebagai pelayan kamar dan setelah pintu dibuka, ia langsung menghajar Lucas. Aku dan dia langsung pergi sejauh-jauhnya, dan yang membuatku terkejut ia sudah mengikutiku dari apartmentku" Jelas Calissa, ia menyeka air matanya kembali dan tersenyum kearah peter.
"Maaf mengungkit masa pahitmu" Ucap peter, dan menatap kearah bawah. "Nope. justru saat aku mengingatnya aku merasa bahagia sudah memilikinya" Jawab Calissa. "How your ex?" kini Calissa bertanya dengan nada mengejeknya. Peter tertawa pelan dan membuang cup kopinya.
"As you know. Nothing special, just for fun" Jawab peter singkat. Calissa memukul bahu peter pelan
"Kau jahat, tapi dari matamu kau masih belum bisa melupakan Jenny. right?" Ucap Calissa meledek peter. Sesaat, suasana tiba-tiba hening, hanya ada suara kendaraan bermotor dan angin yang terdengar.
"Mengapa kau melakukan percobaan pada dirimu sendiri?" Tanya Calissa tiba-tiba. Peter terdiam dengan senyum tipisnya. "Aku tak ingin membuat korban jika gagal. Dan aku mengikuti prinsip ayahku, "Ini percobaanku biarkan aku yang merasakan hasilnya" ." Jawab peter lalu melempar cup kopinya ke tempat sampah.
"Saat kecil, aku hidup dibawah tekanan penyakit jantungku. Aku iri saat melihat teman-temanku berlibur dengan keluarganya diakhir pekan, sedangkan aku menjalankan beberapa pengecekan dan terapi. Jika zat imun itu dari awal sudah gagal, mungkin orang yang menjadi percobaan itu tidak akan mati melainkan sakit parah. Dan aku tak ingin itu terjadi" Lanjut peter.
Calissa menoleh kearah peter, "Lalu, bagaimana dengan penyakitmu? sudah sembuh?" Tanya Calissa. Peter tersenyum menyeringai dan tertawa kecil. "Belum, sampai sekarang belum ada obatnya" Jawab peter singkat.
"Bagaimana kau bisa bertahan sampai sekarang?" Calissa menurunkan alisnya dengan tatapan ingin tahu. "Dulu ayahku mencoba membuatkan obat untukku, dan berhasil. Namun, ia hanya bisa membuat 3 kapsul. 1 kapsul ku minum 5 tahun sekali, sekarang kapsul itu sudah habis, dan ayahku sudah meninggal. alasanku membuat zat imun, aku tak ingin ada orang lain khususnya anak-anak menderita sakit dan menjalani hidup sepertiku" Jawabnya tenang.
"Bagaimana dengan penyakitmu? apakah kau tidak berusaha membuat kapsul obat seperti ayahmu? apa ia tak memberikan resepnya pada orang lain?" Tanya Calissa antusias.
"I do. aku sudah meneliti kandungan kapsul itu dan membuatnya dibantu pegawai yang pernah bekerja untuk ayahku. Tapi, ada 1 bahan yang belum ditemukan. Salah satu bunga herbal yang tumbuh di dekat gunung everst, pegawaiku sudah mencarinya tapi tak ada yang menemukannya" Peter menundukkan kepalanya, Calissa mengelus punggung pria itu memberikan semangat.
"Aku yakin masih ada harapan" Ucap wanita itu dan meninggalkan pria itu sendiri. Hanya bunyi hembusan angin yang terdengar saat itu, bersamaan hilangnya wanita itu dibalik lift.
°°°°°
KAMU SEDANG MEMBACA
IMUNO
Teen FictionApakah mesin waktu itu benar ada? Jika ada.... izinkan aku memakainya sekali saja dalam hidupku. Aku ingin memulai kembali semuanya, aku tidak akan bermain lagi dalam pilihan. Terlihat tak penting, namun ternyata itu semua menentukan hidupmu. itula...
