"Heh, Nin. Ojo edan kowe—jangan gila kamu," tegur Sofia, memecah kesunyian kamar hotel yang masih temaram.
Sahabat karib Anin itu baru saja terjaga dari tidurnya. Rambut panjangnya yang acak-acakan tampak melambai liar saat ia berusaha duduk tegak di atas ranjang. Sisa-sisa after party semalam masih menggelayuti kesadarannya yang belum pulih benar. Efek alkohol dari pesta pernikahan Yovita dan Samuel semalam sukses membuat kepalanya terasa pening bukan main. Maklum, Yovita menikah dengan seorang pria berkebangsaan asing, sehingga tidak mengherankan jika deretan minuman beralkohol mengalir bebas sepanjang pesta resepsi yang berlangsung hingga larut malam itu.
"Heh, Nin... telepon dari ibumu, ini bunyi terus!" seru Sofia lagi dengan suara serak, melambaikan tangan ke arah luar kamar.
Anin yang sedang merapikan barang di dekat televisi bergegas melangkah masuk. Ia meraih ponsel pintarnya yang sedang diisi daya di atas meja rias kuno kamar hotel mereka. Di layar yang menyala terang, sebuah nama tertera jelas, sanggup membuat debar jantung Anin mendadak berubah ritme: Ibu.
Ibu? Dalam hati Anin bertanya-tanya diliputi rasa heran yang buncah. Pasalnya, ia sudah berpamitan dengan sangat detail bahwa ia akan menghabiskan waktu liburan di Yogyakarta selama lima hari penuh. Dan hari ini, baru memasuki hari kedua. Mengapa ibunya tiba-tiba menelepon di jam sepagi ini?
"Halo, Bu," sapa Anin pelan begitu menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikumnya mana, Ning?" Teguran tajam nan ritmis khas Nimas, sang ibu, langsung menyergap telinga Anin tanpa tedeng aling-aling.
Anin seketika memutar bola matanya jengah, sebuah kebiasaan refleks yang untungnya tidak bisa dilihat oleh ibunya di seberang sana. Ia benar-benar lupa mengucap salam karena terlalu dilingkupi rasa bingung.
"Assalamualaikum, Ibunda Ratu..." ujar Anin kemudian, nada suaranya berubah manis demi meredam ketegangan. Ia bahkan sempat tertawa cekikikan saat mendengar dengusan sebal dan omelan pembuka dari ibunya di ujung sambungan telepon.
"Wa'alaikumsalam. Ning, Bapak menyuruhmu pulang ke Solo besok pagi," ucap Nimas, langsung pada inti masalah tanpa basa-basi lagi.
"Lho, ono opo to, Bu? Kok mendadak sekali? Kan Ning izinnya baru pulang hari Selasa depan," jawab Anin, nadanya meninggi sarat akan kebingungan yang nyata. Rasanya tidak adil jika liburan yang sudah ia rancang jauh-jauh hari di sela-sela kesibukan kuliahnya harus dipangkas begitu saja.
Sebuah pikiran buruk mendadak melintas di benak Anin, membuat dadanya seketika berdesir perih karena cemas. "Memangnya... Bapak sakit lagi, Bu?" tanya Anin dengan suara yang mendadak melunak, khawatir jika sang ayah kembali mendapat serangan jantung seperti insiden medis yang menakutkan beberapa bulan yang lalu.
"Ndak, Bapakmu sehat walafiat. Pokoknya besok pagi kamu harus sudah sampai rumah, Ning. Ini perintah langsung dari Bapakmu, tidak boleh dibantah," ultimatum Nimas dengan nada bicara yang tidak menerima ruang negosiasi sedikit pun.
Anin menghela napas panjang, bahunya merosot turun. Ia tahu benar watak keluarganya; jika sang ayah sudah mengeluarkan sabda lewat perantara ibunya seperti itu, maka tidak ada satu pun orang di rumah yang bisa atau berani memprotesnya.
"Iya, iya, Bu. Besok pagi-pagi sekali Ning pasrah pulang ke Solo," sahut Anin mengalah.
"Yawes, kalau begitu. Ingat, jangan macam-macam selama sisa harimu di Jogja. Ibu itu sebenarnya ndak bisa percaya seratus persen kalau kamu perginya sama Sofia. Lha wong anak itu saja susah menjaga dirinya sendiri, bagaimana ceritanya mau menjaga kamu," cerocos Nimas, mulai mengalirkan wejangan dan penilaian pribadinya tentang lingkaran pertemanan Anin.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIL ROUGE
Fiksi PenggemarAnindya Ningrum, gadis berjiwa bebas dan penuh mimpi, sama sekali tidak menduga bahwa kehidupannya telah di atur sedemikian rupa. Dengan siapa dia akan menikah ? bagaimana ia harus bersikap ? Anin tidak pernah tahu, bahwa sejak kecil sang kakek tela...
