R.M Kenan Aryo Kisworo

2K 152 9
                                        

Aroma cat baru yang berbaur dengan partikel debu halus langsung menyergap indra penciuman Kenan begitu ia melangkah keluar dari garbarata. Bandar Udara Internasional Jenderal Ahmad Yani pagi itu tampak bagai kanvas yang belum selesai dilukis; lengang, senyap, dan menyimpan gema yang terlalu kentara dari langkah kakinya sendiri. Jam dinding digital di sudut ruang tunggu menunjukkan pukul tiga dini hari-sebuah waktu di mana dunia seolah sedang menahan napasnya dalam-dalam sebelum fajar pecah. Menarik koper rimowa peraknya dengan langkah tergesa, sepatu kulit Kenan mengetuk lantai marmer yang masih kinclong dengan ritme yang memburu. Sesekali ia mengedarkan pandangan tajamnya ke sekeliling lobi kedatangan yang sepi. Hanya ada satu-dua petugas kebersihan yang terkantuk-kantuk memegang sapu, serta beberapa pramugari yang berjalan searah dengannya dengan wajah lelah. Dalam hati, Kenan merutuki situasi ini. Mana mungkin ia bisa menemukan taksi konvensional atau transportasi daring yang andal di jam sekritis ini, terutama di bandara yang baru saja diresmikan dan belum sepenuhnya beroperasi normal. Sambil membenarkan letak kerah jaket jins gelapnya, ia mempercepat langkah, didorong oleh rasa kantuk yang mulai berpadu perih dengan sisa jetlag penerbangan internasionalnya.

​Langkah kaki Kenan mendadak melambat saat matanya menangkap sesosok figur yang berdiri tegak di dekat pagar pembatas penjemput. Pria paruh baya itu tampak begitu mencolok di antara sedikit orang yang ada di sana. Ia mengenakan kemeja batik motif parang klitik yang rapi, lengkap dengan blangkon Solo yang membingkai wajah tenangnya. Di tangannya, selembar karton putih bertuliskan "RADEN MAS KENAN ARYO KISWORO" terangkat dengan posisi yang sangat simetris. Kenan menghela napas panjang, separuh lega, separuh tak percaya, lalu melangkah mendekat.

​"Kok, Bupati Sepuh Suwardono sendiri yang jemput? Memangnya sudah tidak ada Bekel Anom di Solo yang bisa ditugaskan untuk menjemput saya pagi-pagi buta begini, Pak?" tanya Kenan dengan nada bicara yang berbisik namun sarat akan kebingungan.

​Pria paruh baya yang dipanggil Pak Dono itu tidak langsung menjawab. Ia melipat karton putihnya dengan rapi, lalu menyatukan kedua telapak tangan di depan dada sembari membungkuk dalam-sebuah gestur penghormatan khas abdi dalem yang telah mendarah daging. Sebuah senyuman tulus namun misterius terukir di wajahnya yang dihiasi guratan usia. "Susuhunan ingin memastikan sendiri bahwa Raden Mas sampai di tanah Jawa dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun. Margi saking menika, beliau mengutus saya pribadi untuk mapag jengandika," jawab Pak Dono dengan bahasa Indonesia yang medok dan amat santun.

​Kenan memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Bilang sama Kakek, Pak... saya tidak akan kabur. Saya sudah pulang, kan? Oh ya, apa Ayah dan Ibu saya juga sudah sampai dari Jakarta?"

​"Sampun, Raden. Kemarin siang Kanjeng Gusti Pangeran Harya Dwiandaru sudah tiba di istana wetan, didampingi oleh Gusti Raden Ayu Nastiti."

​Kenan mendesah pasrah. Ia benci atmosfer yang kaku ini. "Sudahlah, Pak Dono. Kita sedang di bandara, tidak usah terlalu formal begitu. Saya pusing mendengarkan deretan gelar-gelar kerajaan itu semenjak mendarat. Cukup panggil saya Kenan seperti biasa kalau sedang berdua begini." Tanpa menunggu jawaban, Kenan berjalan mendahului menuju pintu keluar. Pak Dono dengan sigap mengejar langkah sang pangeran muda, dengan halus mengambil alih pegangan koper besar yang ditarik Kenan. "Biar saya saja yang membawa punika, Raden," jarinya dengan lembut namun tegas menggeser tangan Kenan.

​Kenan enggan mendebat lebih panjang; rasa lelahnya terlalu kentara untuk sekadar mempertahankan sebuah koper. Sejak ia masih mengenakan seragam sekolah hingga kini kepalanya dipenuhi urusan bisnis internasional, tabiat Pak Dono tidak pernah berubah satu inci pun. Pria sepuh itu adalah personifikasi dari adat istiadat Keraton yang kaku, yang menganggap bahwa menjaga martabat sang gusti adalah bagian dari napas hidupnya. Dan bagi Kenan, seluruh kepatuhan mutlak itu sering kali terasa bagai batu besar yang mengikat kedua pergelangan kakinya.

FIL ROUGECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang