Seminggu bergulir setelah riak ketegangan di gazebo belakang rumah Solo, Anin memilih untuk melarikan diri kembali ke Bandung. Di kota kembang ini, ia berharap bisa mengulur waktu dan menjernihkan isi kepalanya yang kalut. Namun, takdir rupanya enggan berjalan lambat; seminggu dari sekarang, ia dan Kenan dijadwalkan untuk melangsungkan prosesi pertunangan sekaligus lamaran resmi di Jakarta.
Seluruh urusan domestik dan kemegahan acara itu sepenuhnya diambil alih oleh orang tua Kenan yang menetap di ibu kota. Sebenarnya, Kanjeng Gusti Susuhunan sempat bersikeras agar selebrasi sakral itu diselenggarakan di dalam lingkungan Keraton Solo demi menjaga tradisi adat. Namun, mengingat jaringan kolega bisnis dan mitra internasional orang tua Kenan sebagian besar berpusat di Jakarta, sebuah jalan tengah pun diambil. Jakarta dipilih menjadi saksi, apalagi mengingat status Kenan yang merupakan putra tunggal dari garis keturunan pangeran sepuh tersebut.
Anehnya, semenjak hari perkenalan yang kaku itu berlalu, Anin dan Kenan sama sekali tidak pernah bertukar kabar. Jangankan berkirim pesan singkat melalui WhatsApp, nomor telepon genggam Kenan saja Anin tidak punya. Mereka bagai dua orang asing yang dipaksa berjalan searah dalam kegelapan.
Pagi itu, atmosfer di dalam kamar kos Anin terasa begitu menjemukan. Karena perkuliahan masih dalam masa libur semester, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu tidak memiliki banyak aktivitas. Ia lebih memilih untuk menenggelamkan diri dalam kemalasan, bergelung di balik selimut kamar kosnya di kawasan Bandung Utara ketimbang harus keluyuran membelah kota.
Saat ia baru saja bangkit berdiri dan berniat melangkah menuju dapur bersama untuk mengambil segelas air, keheningan kamarnya dipecah oleh dering nyaring dari ponsel pintarnya yang tergeletak di atas kasur. Anin mengernyitkan dahi dalam-dalam saat mendapati deretan angka asing tanpa nama tertera di layar digitalnya.
"Assalamualaikum..." ucap Anin membuka percakapan dengan nada ragu.
"Wa'alaikumsalam. Ini saya, Kenan... Ning. Saya sekarang sedang ada di depan pagar kosan kamu."
Suara bariton yang berat, dalam, dan terlampau familier itu seketika berdesir hebat di indra pendengaran Anin, sanggup membuat tubuhnya beringsut tak karuan dalam kepanikan yang mendadak. Kenan ada di depan kosan? Ada angin apa? Dan dari mana pria kaku itu bisa mendapatkan nomor ponsel serta alamat lengkap kosannya?
Tanpa sempat berpikir panjang atau sekadar mematut diri di depan cermin, Anin langsung berlari keluar kamar. Langkah kakinya yang tergesa-gesa mengetuk anak tangga kayu dengan riuh, bahkan ia mengabaikan sapaan heran dari Razel, teman satu kosnya yang sedang menyapu di koridor tengah.
Braaakk...
Pintu ruang tamu utama kosan itu terbuka lebar oleh dorongan tangan Anin yang memburu. Di seberang pagar, siluet tegap Kenan tampak sedang berdiri bersandar pada pintu mobil Honda CRV hitamnya. Pria itu tampak kasual namun tetap memancarkan aura superior, sibuk mengobrol santai dengan Dian yang berdiri di sampingnya.
"Hngh... M... Mas... Mas Kenan? Sudah... sudah lama sampai di sini?" tanya Anin terbata-bata dengan napas yang masih tersengal-sengal di tenggorokan. Ia refleks menyeka bulir keringat tipis yang mulai membasahi keningnya akibat berlari menuruni tangga.
"Hei... santai saja, Ning! Penampilanmu sudah persis seperti orang yang baru saja menyelesaikan lari maraton," celetuk Dian sembari mengulas senyuman jenaka yang lebar, mencoba mencairkan ketegangan yang dibawa oleh adik sepupunya itu.
Anin hanya bisa meringis canggung, merutuki kebodohannya yang tampak begitu tidak anggun di depan calon suaminya. Namun, atmosfer kaku itu seketika runtuh saat pintu belakang mobil terbuka, menampilkan dua sosok bocah kecil yang langsung melompat turun dan berlari riang ke arahnya.
"Tante Ning!!" seru kedua bocah itu bersamaan, langsung menghambur memeluk kedua kaki Anin dengan erat
.
"Mereka berdua anak-anak gue. Kenzi dan Javier," ujar Dian memperkenalkan dengan nada bangga. "Ayo Bang Kenzi, Dedek Javi... salim dan cium tangan dulu sama Tante Ning."
KAMU SEDANG MEMBACA
FIL ROUGE
FanfictionAnindya Ningrum, gadis berjiwa bebas dan penuh mimpi, sama sekali tidak menduga bahwa kehidupannya telah di atur sedemikian rupa. Dengan siapa dia akan menikah ? bagaimana ia harus bersikap ? Anin tidak pernah tahu, bahwa sejak kecil sang kakek tela...
