SLARAAAKK
DEBUG
WANJIR SAKIT BANGET...
Aku jatuh gara-gara karpet yang ku pijak robek. Rasanya tubuhku habis dibanting dari atap istana negara, badanku jadi ngilu semua, kakiku lebih-lebih. Kayaknya kakiku kecengklak deh. Padahal lagi asik maen, poin ku sama Ko Marcus sudah unggul tapi mungkin karena aku mainnya petakilan jadinya begini deh. Rasanya jadi pengin nyanyi lagu Cakra Khan.
Sorak sorai penonton berubah menjadi pekikan, mereka mungkin kaget dengan gaya jatuhku yang sangat tidak sempurna. Aku juga salah tidak langsung mengimbangi badan saat oleng tadi. Teriakan Ko Marcus yang paling kenceng, padahal dia berdiri cuma semeter dua puluh senti lima mili dari tempat ku terjatuh. Widiih.. pinter banget aku ngira-ngiranya.
Beruntung penonton disini tidak menyorakiku saat terjatuh mungkin karena faktor yang menjadi lawanku bukan dari Malaysia. Kalau sampai mereka begitu aku sumpahin mulut mereka kemasukan kecoa pas tidur mangap.
Pergelangan kakiku nyeri sekali saat digerakkan. Ototku kayaknya ada yang mengsol keluar dari jalurnya. Ini sih fix, aku nggak bisa melanjutkan permainan lagi. Ngegerakin kaki aja rasanya kaya mau dicabut tulangnya. Aku melototi karpet merah yang menjadi tersangka utama atas jatuhnya aku. Karpetnya robek parah, tuh karpet kw berapa sih sekali pijak bisa langsung tak berdaya, lemah banget pertahanannya. Dari kemaren karpet ini memang pembawa sial, sudah banyak korban berjatuhan gara-gara karpet durjana ini. Emang panitia nggak bisa nyediain karpet kuwalitas super apa buat keselamatan para atlet. Dan disini yang jadi korban terparahnya itu aku.
"Vin," Ko Marcus berlutut di sisi kananku, wajahnya terlihat cemas dan panik, dia melihat kakiku yang masih menekuk di posisi yang sama ketika aku jatuh. "Kaki kamu?"
Aku menggeleng, "sakit banget Ko, buat digerakin aja sakit."
"Ya udah kita udahin permainannya." Ko Marcus menggenggam tanganku mencoba menenangkan. Dia sangat tahu kalau aku nggak mudah nerima kekalahan apalagi kalau harus nyerah. Tapi kali ini aku nggak bisa maksa kakiku buat loncat sana sini ngejar kok yang ada malah tambah parah.
Aku mengangguk.
Petugas medis datang, mereka langsung menggerumbungiku, menanyakan keadaanku, bagian mana yang sakit tapi yang menjawab semua pertanyaan mereka adalah Ko Marcus, anehnya dia menjawab persis seperti yang aku rasakan. Petugas laki-laki bule mencoba meluruskan kakiku, aku meringis kesakitan, tanganku yang berada digenggaman Ko Marcus meremasnya kuat-kuat. Sampai petugas bule itu membenarkan posisi kakiku ke posisi semula.
"Aargghhhh..."
Aku menjerit keras. Tulangku rasanya ditarik keluar dari dagingnya. Sakit sekali sampai air mataku keluar. Suaraku mungkin menggema kencang sampai satu stadion ikut senyap. Aku memang memiliki bakat teriakan yang dahsyat. Ko Marcus semakin panik. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain menggenggam tanganku.
Aku mendengar suara yang sudah sangat ku kenali di belakang punggung para medis. Dia membentak-bentak seseorang menggunakan bahasa inggris bercampur bahasanya sendiri. Aku mengintip dari balik badan bule yang memeriksa kakiku. Itu si manusia kardus dia sedang memarahi panitia penyelenggara sambil melototi mereka, dia terlihat sangat menyeramkan kalau seperti ini. Aku melihat penonton juga menyaksikannya memarahi panitia atau aku yang kini dikerubungi beberapa orang sampai match sebelah diacuhkan. Kali ini aku senang dengan apa yang dilakukannya, dia mewakilkanku memaki-maki panitia pelenggara.
Brangkar sudah disiapkan untuk membawaku ke ruang medis.
"Kevin," pria korea itu tiba-tiba menghampiriku menerobos petugas yang hendak membantuku naik ke atas brangkar. "Your feet are fine?"
KAMU SEDANG MEMBACA
HELLO, BOY
Fanfiction"Aku tahu ini salah. Tapi hatiku sudah tercuri seluruhnya oleh dia. Dan sekarang aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Aku begitu mencintainya." - Marcus. "Kalau mau marah, marah lah. Kalau mau menangis, menangis lah. Aku selalu siap menjadi pundak...
