prelude: nana bukan anak kopi senja

164K 17.4K 9.9K
                                        

Once upon a time, there was a boy who loved a girl,

and her laughter was a question he wanted to

spend his whole life answering.

—Nicole Krauss—

*

prelude – jevais nareshwara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

prelude – jevais nareshwara

Pak Kepala Sekolah tidak berlama-lama tinggal di kelas. Usai menggambarkan sedikit tentang kondisi kelas yang menurutnya paling istimewa sesekolahan, beliau undur diri. Itu bisa dimengerti, karena Pak Kepala Sekolah punya banyak catatan sejarah hitam di kelas XII IPS 1, terutma dengan Nana dan Injun. Saking ogahnya lama-lama berhadapan dengan dua cowok itu, Pak Kepala Sekolah bahkan sampai lupa memperkenalkan Jeno, si murid baru yang pertama kali masuk sekolah hari ini. Jeno sih tidak keberatan, dia lebih fokus menjaga supaya Bongshik tetap aman. Terutama, karena dia merasa beberapa anak cewek mulai melirik ganjen ke arah Bongshik. Ekspresi di wajah mereka menyiratkan, mereka siap menerjang meja dan kursi hanya untuk mengelus-elus badan Bongshik.

Berbeda dengan Jeno yang super protektif pada kucingnya atau Injun yang malah iseng membuat kapal-kapalan dari sobekan lembar buku penuh coretan tulisan cakar ayam, perhatian Nana justru tersita oleh Pak Terry. Cowok berambut cokelat kemerahan itu memandangi Pak Terry dengan lekat selama beberapa saat, hingga dia sampai pada kesimpulan jika Pak Terry itu bukan orang biasa. Tentu saja, dia terlalu cakep untuk jadi guru bahasa Inggris di sekolah mereka yang langganan dapat predikat sebagai sekolah dengan jumlah siswa tidak lulus Ujian Nasional terbanyak setiap tahunnya. Kedua, Pak Terry tidak terlihat seperti guru dengan kemeja licin nan rapi serta blazer mahal yang melekat di badannya, ditambah lagi piercing di salah satu telinga, rambut yang di-styling ala artis Korea dan sunglasses yang sempat dipakainya.

Tadinya, Nana menebak sekolah mereka mendadak jadi bintang reality show, namun seiring waktu yang berlalu dan kru televisi beserta puluhan kamera tidak kunjung muncul, teori Nana pun kontan terpatahkan.

Kelas masih hening saat Pak Terry tiba-tiba berdeham. Suaranya bikin anak-anak cewek terperangah, lalu mendesis sambil bisik-bisik keganjenan macam orang mabuk kepayang. Pak Terry hanya tersenyum sekilas pada mereka sebelum ekspresi wajahnya kembali datar.

"Buka buku kalian, halaman 66. Baca penjelasan dan pahami apa maksudnya, kemudian kerjakan sepuluh soal latihan. Itu bagian grammar, bagus buat kalian karena kalian sudah kelas tiga. Saya beri waktu tiga puluh menit, nanti akan saya koreksi. Seandainya ada pertanyaan, kalian bisa tanyakan."

Seisi kelas saling berpandangan, kompak diam dengan mulut terkunci, sampai akhirnya Injun mengacungkan tangan.

"Pak!"

"Apa?"

"Apa bahasa inggrisnya kucing hitam mati ketabrak truk di jalan tol gara-gara macet?"

Dream Launch ProjectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang