EXTRA: INJUN

84.7K 7.1K 3.9K
                                        

Pacaran itu dimana-mana berdua, kalau rame-rame itu mau manasik haji namanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pacaran itu dimana-mana berdua, kalau rame-rame itu mau manasik haji namanya. Injun sering berpikir begitu. Mereka yang memiliki, mereka yang menjalani, maka sudah tentu, wajar jika Injun menganggap hubungan mereka sebagai privasi. Tapi... apa Lala juga mikirnya begitu?

Bukan hanya fans mereka, Nana dan Jeno sering dibuat heran oleh bagaimana cara Injun memperlakukan Lala. Gimana nggak? Berbeda dengan Jeno yang paling gercep dan paling banyak minta tiket gratisan konser mereka untuk diberi kepada orang-orang terdekat—setidaknya, setengah lusin sendiri dibutuhkan buat Bongshik sekeluarga—atau Nana yang tidak pernah tidak menyebut Nenek, Tante Ryona dan Kasa dalam lembar thanks-to album mereka, Injun dikenal pelit memberi tiket pada Lala. Dia juga hanya pernah menyebut Lala satu kali, itu juga pesannya tidak manis-manis amat. Begini bunyinya;

"As always, my gratitude will always go to Komandan Toil, Tertius Senandika, missing you everyday. Terimakasih babak dua diucapkan untuk rekan-rekan serumah yang kalau tidur ngalah-ngalahin kebo sawah abis dugem, Mama, Papa, Almira adik abang yang tergemas, Bang Ali yang diam-diam suka ngedengerin lagunya walau kemudian pura-pura nggak sengaja denger juga Shavela, berhala mungil gue yang suaranya senyaring peluit kapal laut, tetap jadi ratu ular terbaik buat gue ya."

Dari sekian banyak panggilan, Injun menyebut Lala berhala mungil.

Kasa sampai melongo, apalagi Nana yang sempat manas-manasin Lala. Tapi orangnya diam saja, cuek memainkan ponsel sambil bilang. "Kayak nggak tahu aja kelakuan Injun macam gimana."

Jawaban Lala bikin bukan hanya Nana dan Kasa yang cengo, tapi Bongjun dan Bongcil pun ikut berhenti minum susu dari mangkuk mereka. Jika sudah begitu, Jeno bakal menepuk pelan kepala dua anak Bongshik itu seraya berkata. "Kan udah Pakdhe Nono bilang, jangan suka nguping pembicaraan orang dewasa!"

Urusan konser lain lagi. Injun nggak pernah menyisakan tiket buat Lala. Bilangnya sih, "Kamu war tiket sendiri ya, aku nggak mau KKN, ntarnya dosa!"

"KKN nggak dosa, Jun. KKN itu enak." Nana nyeletuk.

"Apaan?!"

"Yeu, nggak percaya KKN tuh enak? Tanya aja Bima sama Ayu coba!"

Injun memutar bola matanya begitu sadar KKN yang dimaksud Nana adalah cerita tentang KKN di dancer village yang sempat viral dan menarik perhatian khalayak ramai di internet.

Untung aja, tangan Lala wangi, jadi dia selalu menang war tiket—walau pernah juga apes dan kehabisan tiket yang viewnya bagus. Jadinya jauh banget dari panggung. Ibarat kata, panggung tempat Injun berada ada di Bandung, Lala nontonnya dari Cimahi alias paling belakang banget. Nggak apa-apa sih. Lala senang bisa lihat gimana Injun seantusias dan selincah itu di atas panggung, meski diam-diam Injun juga berusaha mencari Lala di tengah-tengah kerumunan penonton.

Kondisi itu jauh berbeda jika dibandingkan dengan Kasa dan Giza—sewaktu masih pacaran sama Jeno. Mereka selalu mendapatkan posisi terdepan alias semepet-mepetnya sama panggung, deh. Pernah, Kasa dan Giza mengajak ngobrol Lala, bertanya apa kelakuan Injun masalah tiket-tiketan menganggunya atau tidak, tapi Lala hanya bilang;

Dream Launch ProjectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang