void: artajuna

100K 11.7K 10.7K
                                        

Setiap mendengar tentangnya, yang terlintas hanya kunang-kunang.

Cahaya yang lunaskan segala sangkutan sebelum padam,

lantas bergegas tanpa kata menuju keabadian.

Harap yang kupunya hanya satu;

semoga terang pulangmu.

*

Katanya, dari sekian banyak cara untuk berpisah dengan seseorang, kematian adalah cara paling baik hati yang pernah ada

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Katanya, dari sekian banyak cara untuk berpisah dengan seseorang, kematian adalah cara paling baik hati yang pernah ada.

Awalnya, gue kira begitu, karena apa yang lebih sakit daripada berkabung untuk seseorang yang masih hidup? Seseorang yang masih berada dalam satu dimensi yang sama dengan lo, tapi nggak bisa lo temui, nggak bisa lo ajak bicara, nggak bisa lo anggap ada, karena dengan suatu cara, memang itu yang seharusnya terjadi. Bodohnya, gue mempercayai itu ketika gue nggak pernah sekalipun bersentuhan dengan kematian. Gue nggak dekat dengan kakek-nenek gue, entah itu dari pihak bokap maupun pihak nyokap. Mereka tinggal di luar kota. Jadi ketika salah satu dari mereka meninggal, gue nggak merasa kehilangan seseorang yang tanpanya, bakal membuat hidup gue jadi berbeda. Gue juga nggak punya hewan peliharaan dan meski gue pernah benar-benar berharap bokap gue tiba-tiba nggak ada, seluruh anggota gue hamdallah masih sehat, baik-baik saja, luar biasa yes-yes-yes.

Sampai suatu hari, gue hampir kehilangan teman terdekat yang gue punya. Gue masih ingat hari itu dengan jelas, gimana gue melihatnya berada di tengah jalan, dengan darah mengalir di aspal dan plastik berisi aneka snack yang sudah berceceran nggak karuan. Gue nggak bisa berkata-kata, sejenak membeku di tempat dan nggak tahu harus berbuat apa. Rasanya, semua kayak mimpi dimana mendadak, gue lupa bukan hanya gimana caranya berbicara, tetapi juga gimana caranya bernapas.

Seperti apa hari-hari gue tanpa seorang Jevais Nareshwara?

Gue nggak tau, yang sebetulnya agak lucu karena ada waktu-waktu di dalam hidup gue dimana gue nggak mengenal dia dan gue merasa gue baik-baik aja. Tapi setelah hari-hari yang nggak terhitung kita habiskan bareng buat sarapan di Warmil punya Bang Horas, agenda nyolong mangga tetangga buat dibikin rujak yang nggak kalah dadakan ama tahu bulat lima ratusan di pos ronda, pengalaman mengagumi melon kembarnya Duo Serigala pertama kali, gimana bucinnya dia ke Kasa dan siasatnya biar gue bisa meledek Lala dengan bebas sentosa tanpa takut kena geprek sampe bonyok...

Gue sudah seterbiasa itu dengan hadirnya sehingga gue takut, gue harus gimana kalau tiba-tiba dia nggak ada.

Hari itu gue berdoa dengan sungguh-sungguh supaya Nana tetap diizinkan ada karena tanpanya, gue hanyalah nasi padang yang karetnya udah sekarat, kena senggol dikit juga putus dan bikin isi nasi padangnya ambyar aur-auran kemana-mana.

Gue nggak mengira, seminggu setelahnya, gue justru merasakan penyesalan terhebat yang pernah gue rasa di sepanjang hidup.

Nggak, gue nggak menyesal karena meminta Nana tetap diizinkan ada.

Dream Launch ProjectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang