(Completed)
"The art of dying is the art of living. The honesty and grace of the years of life that are ending is the real measure of how we die. It is not in the last weeks or days that we compose the message that will be remembered, but in all the...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Petang itu, secara tidak terduga Mama pulang dari tempat kerjanya lebih awal bersama sekotak donat glazed kesukaan Jeno. Jeno terkejut awalnya, tapi tersenyum ketika Mama bilang, itu hadiah dari Mama buat penampilan perdananya yang memuaskan bersama Injun dan Nana di sekolah tempo hari. Mereka menghabiskan sisa sore di ruangan yang sama. Mama membiarkan jendela terbuka agar sorot cahaya jingga dari matahari yang sebentar lagi lenyap di ujung barat turut memasuki ruangan, menusuk tembok serupa sinar proyektor. Beliau duduk, memegang buku dengan kacamata baca bertengger di hidung. Jeno duduk di bersila di lantai, di depan sekotak donat, menghadap pada Bongshik yang tengah asyik makan whiskas dari mangkuk.
"Ma." Jeno tiba-tiba memanggil, secara instan menyita seluruh perhatian Mama.
"Iya, sayang?"
"Pak Toi—maksudku, Pak Terry sakit."
Mama kini menutup bukunya, memandang anak tunggalnya yang kini tertunduk. Walau Jeno masih bicara sambil makan donat, Mama tahu dia merasa sedih. "Belum sembuh, Nak?"
Jeno menggeleng.
"Pak Terry sakit apa?"
Jeno menggeleng lagi. "Nggak tahu. Pak Terry nggak mau ngomong. Tapi... kadang-kadang Pak Terry nangis kalau dia udah nggak bisa dengar apa-apa."
"Nggak bisa dengar apa-apa?"
"Apa tuh ya namanya, Ma..." Jeno berpikir keras sebentar, mencoba mencari padanan kata yang lebih sopan, tapi akhirnya menyerah. "... budek. Kata Nana, bisa jadi Pak Terry ketempelan setan budek."
Mama jadi geli. "Daripada berspekulasi, kenapa kalian nggak tanya langsung aja ke Pak Terry?"
"Pak Terry udah lama nggak ke sekolah. Kalau ditanya juga nggak mau jawab. Dichat di grup, kita semua dicuekin. Kita jadi bingung harus gimana."
"Bingung karena kepo?"
"Sebenarnya aku nggak ngerasa perlu tahu Pak Terry sakit apa..."
"Terus?"
"... aku cuma mau mastiin kalau Pak Terry baik-baik aja. Selama Pak Terry baik-baik aja, aku udah senang."
Mama menghela napas, kembali meneliti Jeno lewat tatapan mata. Dia mengenal anaknya sebaik dia mengenali dirinya sendiri. Jeno yang selalu jadi anak manis dan penurut sejak kecil. Jeno yang tidak pernah membolos apalagi tertarik melakukan kenakalan-kenakalan khas remaja selepas jam sekolah. Jeno yang memperlakukan kucing-kucingnya—bukan hanya Bongshik, tapi juga Bongsai saat kucing itu masih hidup—selayaknya mereka manusia, seperti saudara yang tidak pernah dia miliki. Jeno itu anak yang lembut, namun bukan tipe orang yang mudah membuka diri apalagi dekat dengan orang lain. Sekarang, mendengarnya bicara seperti itu tentang Terry, meski tidak tahu persis, Mama paham seberapa berarti Terry buat Jeno.