seventh note

73.3K 12.3K 8.2K
                                        

I think the hardest part about being teenager

is dealing with other teenagers.

The criticism and ridicule,

the gossip and rumors.

—Beverly Mitchell—

*

Nana tidak bilang apa-apa ketika Jeno dan Injun kembali ke meja—begitupun dengan Terry yang kelihatannya tidak curiga pada sedikit perubahan ekspresi di wajah Nana usai membaca pesan singkat dari Bang Horas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nana tidak bilang apa-apa ketika Jeno dan Injun kembali ke meja—begitupun dengan Terry yang kelihatannya tidak curiga pada sedikit perubahan ekspresi di wajah Nana usai membaca pesan singkat dari Bang Horas. Tapi begitu Terry melaju pergi bersama mobilnya usai menurunkan mereka di depan minimarket yang tidak jauh dari rumah ketiganya (atas permintaan Jeno yang bilang dititipi Mama untuk membeli sebotol pewangi pakaian, membuat Injun dan Nana ikut minta diturunkan di tempat yang sama), Nana langsung menarik lengan Jeno, memaksa cowok itu menatapnya.

"Lo sama pacarnya Dean ada hubungan apa?"

Jeno mengerjap, sempat bingung sebentar. "Maksud kamu Sariffudin?"

"Sariffudin... Saripudean, sama aja." Nana menegaskan. "Jawab pertanyaan gue. Lo ada hubungan apa sama pacar anak itu?"

Jeno tetap diam, tak menjawab dan anehnya, tanpa diamnya cowok itu mampu membuat Nana paham seketika. Matanya menggelap. Senyum kini sudah hilang dari wajahnya. Jelas, ini adalah kali pertama Jeno melihat Nana memasang ekspresi seserius itu.

"Gue kan sudah bilang, jangan cari urusan sama pacarnya Dean!"

"Saya nggak cari urusan."

"Terus apa?" Nana memburu. "Kalau lo nggak punya salah atau nggak berbuat apa-apa, nggak mungkin Dean dan antek-anteknya nyariin lo sampai nanya-nanya ke Bang Horas!"

"Sarif nyariin saya?"

Injun mengamati kedua cowok di depannya. Dia paham kalau sikap gusar Nana sangat beralasan, tapi di sisi lain, Injun juga mengerti jika anak baik-baik seperti Jeno tidak tahu efek berbahaya dari berurusan dengan tukang bully yang tak segan-segan menghajar orang sampai babak-belur seperti Dean dan kelompoknya. Cowok itu meraih tangan Nana, melepaskan cengkeramannya dari lengan Jeno.

"Tolong diperselow ya. Kita nggak mau mengundang masyarakat dan handai-taulan datang ke sini gara-gara kalian jotos-jotosan."

Nana mengabaikan ucapan Injun. "Jangan main-main sama Dean, Jeno!"

"Kenapa?" Jeno malah bertanya dengan nada setengah menantang. "Kamu takut sama dia? Kamu nggak berani karena dia lebih jago nonjok daripada kamu?!"

Tangan Nana terkepal tatkala dia membantah sengit. "Gue nggak takut!"

"Kamu kelihatannya takut."

"Gue. Nggak. Takut." Nana mengulang, kali ini penuh penekanan. "Tapi gue juga bukan orang tolol yang bisanya nonjok tanpa pake otak! Gue nggak bisa membela orang yang salah, dan menurut gue, lo salah kalau lo ganggu pacar orang!"

Dream Launch ProjectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang