(Completed)
"The art of dying is the art of living. The honesty and grace of the years of life that are ending is the real measure of how we die. It is not in the last weeks or days that we compose the message that will be remembered, but in all the...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeno sengaja tidak bilang pada Nana, Injun atau Terry soal pesan teks dari Dean. Memang, rasanya sulit buat percaya pada Dean yang membuatnya tidak bisa menyandang tas di salah satu bahu untuk setidaknya seminggu ke depan, tapi Jeno merasa dia tidak punya pilihan lain. Nana dan Injun sudah terlalu banyak memberinya bantuan, turut dihajar gara-gara masalah pribadinya dan itu bikin Jeno merasa bersalah. Maka, dia mencoba menghadapinya sendirian. Dan lagi, hari ini adalah jadwal bersih-bersih Markas tempat mereka biasa berkumpul. Jeno hanya perlu minta ijin keluar sebentar untuk membeli minuman di supermarket dan seandainya terjadi apa-apa padanya hingga dia lama kembali, Nana, Injun dan Terry pasti bisa membaca situasi.
Dean tidak berniat mengajaknya adu jotos seperti tempo hari, Jeno berpikir waktu dia tiba dan sadar Dean hanya ditemani oleh dua antek-anteknya. Mereka duduk di teras minimarket, bertemankan teh botol dalam kemasan kotak dan rokok terjepit diantara jari. Rokok itu menyala. Dean menjentikkan abunya, tersenyum miring kala Jeno mendekat.
"Hebat juga lo masih hidup setelah kena hantam besi."
Jeno membalas dengan suara tenang. "Kamu mau ngomongin apa?"
"To the point dan berani. Pantesan aja cewek gue mau belok ke lo."
"Giza bukan cewek kamu lagi."
Dua kaki-tangan Dean mendengus, jelas kesal karena sikap tidak sopan Jeno, tapi Dean mengibaskan tangan, memberi kode supaya keduanya diam. "Nggak perlu dendam begitu. Lo juga bikin gue susah beberapa hari ini."
Jeno mengernyit. "Hah?"
"Gue nggak tau gimana caranya lo bisa temenan sama sekelompok cewek jadi-jadian itu, tapi yang jelas, mereka bisa lebih ganas dari hiu." Dean menggulung lengan baju seragamnya, menunjukkan bekas luka cakaran dan lebam kebiruan yang terlihat jelas. "Gue udah capek kudu ngumpet-ngumpet tiap nongkrong di warkop atau warnet. Udah macam buronan. Jadi tolong kasih tau mereka untuk berhenti nargetin gue."
"Maksud kamu, Jupe dan teman-temannya?"
"Siapa lagi?"
Jeno diam sebentar. "Saya bisa suruh mereka buat nggak ganggu kamu lagi, tapi dengan syarat, kamu berhenti ngejahatin Giza."
Dean mematikan rokoknya dengan menekankan ujung baranya ke atas meja, tak peduli walau itu meninggalkan bekas kehitaman dan bagian plastik yang meleleh. "Sampah. Gue udah nebak pasti lo bakal minta ini. Jawabannya adalah nggak. Lo kira gue lemah? Lo boleh tanya Jevais, teman lo yang letoy itu, kelompok gue bukan anak-anak ingusan kemarin sore yang baru belajar megang rokok dan bisa dipukul mundur sama banci. Gue hanya nggak mau ada tawuran viral yang bisa bikin kita jadi bulan-bulanan massa dunia maya."