(Completed)
"The art of dying is the art of living. The honesty and grace of the years of life that are ending is the real measure of how we die. It is not in the last weeks or days that we compose the message that will be remembered, but in all the...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bang Ali absen dari makan malam kali ini, karena belum pulang dari kantor. Kata Mama, ada urusan yang belum selesai dan kakak tertua Injun itu paling baru akan pulang menjelang tengah malam. Satu lagi yang selalu Papa banggakan dari anak sulungnya adalah sikapnya yang penurut dan mengutamakan keluarga, terlihat dari bagaimana dia tetap makan malam di rumah meski bisa saja pergi makan di luar bersama rekan-rekan sekantornya. Injun sendiri jarang ikut makan malam. Biasanya, dia akan langsung pergi keluar rumah sesaat sebelum makan malam dimulai, beralasan ingin menggambar. Sekarang pun sebetulnya Injun sudah berniat 'kabur', jika hujan yang turun rintik-rintik tidak menahannya.
Dari ruang makan, terdengar suara piring beradu dengan gelas. Injun mengabaikan bunyi itu, malah menatap ke luar jendela hingga samar, Injun mendengar namanya disebut.
"Di mana Artajuna? Suruh dia keluar, makan malam sama kita!"
Injun menghela napas dan sesuai tebakannya, pintu kamarnya diketuk tidak berapa lama kemudian. Tadinya, Injun mengira itu Alma dan dia telah menyiapkan alasan untuk menolak, tapi ternyata Mama sendiri yang menyambangi kamarnya.
"Makan, Juna."
"Aku belum lapar."
"Apa jawab dia tadi?" Papa kembali bicara dengan nada yang tidak bisa dikatakan menyenangkan dari ruang makan, disusul oleh suara berisik kursi yang digeser dan dalam hitungan detik, laki-laki itu muncul di depan pintu kamar Injun, berdiri tepat di sebelah Mama. "Papa suruh kamu makan ya makan! Segitu susahnya buat kamu untuk menurut meski cuma sekali, hah?!"
Injun berbalik, menatap sengit pada ayahnya. "Aku bilang aku belum lapar."
"Kalau urusan ngebantah orang tua, kamu itu pintar betul! Seandainya waktu belajar kamu juga sepintar ini, pasti kamu sudah jadi anak IPA, bukannya anak IPS yang begitu lulus sekolah nanti nggak jelas mau ngapain!" Papa menyindir pedas.
"Terserah."
"Makin jago kamu melawan ya? Papa diamkan saja kamu, bukannya instrospeksi, malah makin menjadi-jadi! Ini pasti karena kamu keseringan gaul sama anak nggak jelas itu! Siapa namanya? Sudah nggak becus belajar, parah pula dalam memilih teman. Kamu mau jadi apa nanti, hah?!"
"Apapun, asal nggak kayak Papa."
Papa berang dibuatnya. Wajah laki-laki itu merah oleh amarah. Jika Mama tidak menahannya, mungkin dia sudah berjalan masuk ke kamar dan menghajar Injun. Namun sebagai gantinya, Papa malah melampiaskan emosinya pada Mama, menamparnya keras hingga suaranya mencipta keheningan panjang di dalam kamar. Injun menatap nanar, langsung bergerak cepat menuju ayahnya, hingga Alma muncul dari arah ruang makan. Gadis itu berlari menghampiri kakaknya, memeluknya erat-erat supaya suasana yang sudah memanas tidak bertambah rumit.