interlude

40.1K 7.1K 4.8K
                                        

TRIGGER WARNING. 

IF YOU DON'T FEEL WELL MENTALLY, DON'T READ. 

I AM NOT JOKING, PLEASE, BE BETTER FIRST AND BE OKAY FIRST BEFORE YOU READ THIS CHAPTER.

*

My father told me once that

the most important thing every man should know is

what he would die for.

—Tana Fench—

*

Ada beberapa hari dalam hidup seorang Ryona Keshamora yang tidak akan pernah bisa dia lupakan, bahkan meski dia mencoba untuk tidak pernah mengingatnya lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada beberapa hari dalam hidup seorang Ryona Keshamora yang tidak akan pernah bisa dia lupakan, bahkan meski dia mencoba untuk tidak pernah mengingatnya lagi. Satu adalah hari ketika dia membatalkan pernikahannya dengan seseorang secara sepihak. Satu adalah malam dimana dia bertemu dengan seseorang yang lain, yang berhasil menghancurkan hidupnya begitu rupa. Satu terakhir adalah saat dia melepaskan seseorang berikutnya dari dalam dekapannya. Seseorang yang baru punya sebatas tangis untuk berkomunikasi. Seseorang yang waktu dia tinggalkan, memejamkan mata dengan kelima jari mungil menggenggam jari telunjuknya—sebelum dia paksa tarik lepas.

Ryona ingat segalanya tentang satu yang terakhir. Langit mendung, seperti ikut berduka untuk perpisahan yang telah dia putuskan. Jalanan sepi ketika dia turun dari taksi, berjalan melewati halaman luas menuju teras rumah, bersamaan dengan seorang lelaki tinggi muncul dari dalam. Lelaki itu menyadari keberadaannya, langsung mematung di ambang pintu. Ryona terus saja melangkah, memandang nanar dan mata mereka saling terkunci.

"Ini anak kamu." ujarnya tanpa basa-basi setelah mereka cukup dekat.

"Ryona,"

"Jangan sebut nama saya. Kita nggak saling kenal. Dan seharusnya, memang nggak pernah bertemu."

"Selama beberapa bulan ini," Lelaki itu menelan ludah. "Selama beberapa bulan ini... kamu ke mana?"

"Ke suatu tempat yang nggak perlu kamu tahu."

"Dengarkan saya—"

"Nggak. Saya nggak mau dengar apapun dari kamu. Sekarang, kamu yang seharusnya mendengarkan saya." Ryona memotong dingin, tanpa ekspresi. Tatapan beralih turun, berpindah pada sosok kecil dalam dekapannya. Semakin dia melihatnya, semakin dia sadar bahwa hampir tidak ada jejaknya yang tertinggal pada sosok itu. Semua pada wajah sosok itu lebih mirip dengan lelaki yang kini berdiri di depannya. Lelaki yang jika dia bisa, ingin dia hapus eksistensinya dari dunia. "Ini anak kamu. Saya nggak mengakuinya. Saya mengembalikannya ke kamu."

Lelaki itu diam saja, tetapi dia menuruti keinginan Ryona, balik meraih sosok mungil dalam dekapan perempuan itu hingga berpindah dalam pelukannya. Ryona menatap wajahnya sejenak, tidak tahu kenapa tiba-tiba dia ingin menangis, padahal dia tidak seharusnya menangis. Sebab, dia tak mengasihi anak itu. Anak itu merenggut semua yang berharga dari hidupnya. Anak itu adalah pengingat untuk kebodohan-kebodohan yang tidak seharusnya terlaksana. Anak itu adalah perusak semua harap yang telah terencana, apa-apa yang Ryona inginkan mengisi masa depannya. Anak itu adalah monster paling nyata yang pernah dikenalnya.

Dream Launch ProjectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang