(Completed)
"The art of dying is the art of living. The honesty and grace of the years of life that are ending is the real measure of how we die. It is not in the last weeks or days that we compose the message that will be remembered, but in all the...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Untungnya, Terry tidak betul-betul memulangkan paksa Injun dan Nana lewat go-send express—ya lagian kasihan juga abang-abang ojeknya jika harus memboncengi anak-anak seperti Injun dan Nana. Supaya tidak ada kepanikan dan tindakan yang tidak perlu dari para orang tua (seperti misalnya menyebar selebaran anak hilang atau parahnya, sampai lapor polisi), Terry menghubungi masing-masing dari mereka, memberitahu kalau Jeno, Injun dan Nana akan menginap di tempatnya demi sesi belajar intensif menjelang ulangan harian. Mama Injun dan Nenek Nana yang sudah pernah bertemu Terry sebelumnya langsung mengiakan. Mama Jeno tidak, sehingga butuh beberapa saat buat Terry meyakinkan wanita itu.
Tapi kerepotan Terry tidak berhenti sampai di sana. Injun dan Nana banyak berulah ketika makan malam, makin nakal waktu Terry menghukum mereka dengan menyuruh keduanya mencuci piring. Belum lagi tangan mereka yang jahil tidak bisa diam. Terry baru betul-betul bisa bernapas lega kala ketiganya sudah terlelap. Injun dan Nana menolak tidur di kamar Yeda, lebih memilih rebahan asal di lantai berlapis karpet. Jadilah, Terry membiarkan mereka—walau diam-diam, di tengah malam, dia menyelimuti dua anak itu dengan selimut ekstra.
Pagi ini, mereka sarapan sebelum berangkat ke sekolah bersama.
"Nanti kalian turunnya dekat sekolah ya, jangan pas di sekolahnya." Terry bilang seraya mengisi cangkirnya dengan teh.
"Dih, kayak orang yang pacarannya backstreet aja!" Nana protes, sementara Injun manggut-manggut dengan mulut penuh makanan. Jeno mengernyit, menggeser sedikit duduknya waktu sadar ada remah-remah biskuit dari mulut Injun yang muncrat sampai ke dekat sikunya.
"Saya nggak mau dikira dekat sama kalian. Sori-sori aja."
"Seisi sekolah juga udah tahu kita budak bapak."
"Mana ada budak berangkat sekolah sama majikan?" Terry berdecak. "Habis dari sekolah, kalian bisa pulang ke rumah masing-masing."
Spontan, ketiganya berhenti mengunyah.
"Pak..."
Jeno menyambar. "Semalam lagi nginep di sini dong, Pak..."
Nana setuju. "Tunggu ampe memar saya mendingan dulu, Pak!"
Terry tersedak teh yang sedang dia seruput. Lelaki itu melotot, meletakkan kembali gelasnya di atas meja hanya untuk mendapati tiga anak berseragam SMA tengah menatapnya dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin. Nana bahkan berinisiatif menarik tisu dan melap sisa teh di sudut bibir Terry, yang bikin Terry lagi-lagi terbatuk.