(Completed)
"The art of dying is the art of living. The honesty and grace of the years of life that are ending is the real measure of how we die. It is not in the last weeks or days that we compose the message that will be remembered, but in all the...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Pak Terry sakit."
Nana hanya menjawab sekenanya ketika semua orang mengangkat alis kala dia memberitahu mereka tidak jadi makan-makan untuk merayakan keberhasilan penampilan mereka di Pensi. Ryona sempat ingin menyahut, tapi memilih bungkam kala dia melihat kecemasan di wajah Nana, yang berusaha remaja itu tutupi. Tangannya melingkar di lengan Terry. Ryona tidak tahu persis seperti apa hubungan Terry dengan Nana-Jeno-Injun, namun kelihatannya mereka cukup dekat. Siapa yang mengira jika tiga remaja berkelakuan semaunya yang hobi cengengesan tanpa kenal waktu bisa tiba-tiba tampak secemas itu?
Mereka berpisah di gerbang sekolah. Mama Injun pulang bersama Kasa. Mama Jeno bersama Bongshik—tadinya, Bongshik ogah berpisah dengan budaknya. Jeno sampai harus menenangkan Bongshik, bilang kalau ada urusan penting. Untungnya, Bongshik mengerti dan berhenti merajuk. Jadi Jeno bisa ikut mengantar Terry pulang bersama Nana, Injun dan Ryona. Sepanjang perjalanan, tidak ada dari mereka yang bicara. Terry menatap keluar jendela dengan wajah muram.
Begitu tiba di lobi, Terry berhenti melangkah, memandang bergantian pada tiga siswanya. Suaranya serak kala dia bicara. "Kalian bisa pulang."
"Tapi, Pak—"
"Sekali ini aja, bisa dengerin saya?"
Jeno, Nana dan Injun berpandangan sebelum ketiganya kompak menghela napas diikuti anggukan. Nana beralih pada Ryona, tapi sebelum dia sempat bertanya, Terry lebih dulu berujar. "Saya ada perlu sama Tante Ryona. Kamu duluan aja."
"Hng... perlu?"
"Bukan urusan anak kecil."
Nana merengut, membuat Ryona bertanya-tanya bagaimana bisa anak dengan wajah dan penampilan seperti Nana terlihat cute layaknya balita yang tengah merajuk. "Yaudah. Saya pulang. Tapi janji loh ya, kalau ada apa-apa, bapak harus kasih tahu kita?"
"Nggak janji."
"Kalau gitu, saya nggak mau pulang!"
"Gampang. Tinggal suruh satpam usir kamu."
"Kita bakal kemah di depan. Bikin tenda." Injun mengusulkan. "Sekalian bikin api unggun sama bawa panci Indomie. Bapak sukanya rasa ayam bawang apa rasa soto?"
"Ck. Iya, nanti saya kasih tahu."
Jeno manggut-manggut, melirik pada Nana dan Injun, lantas mereka berbalik untuk selanjutnya melangkah menjauhi lobi. Ketiganya terutama Nana kelihatan tidak rela, tapi mereka menghargai keinginan Terry. Terry baru ganti menatap Ryona setelah memastikan tiga siswanya sudah benar-benar lenyap dari pandangan.
"Ada sesuatu yang mau saya bicarakan dengan kamu. Terkait Jevais."
Ryona mengangguk dan Terry lanjut berjalan. Lift yang membawa mereka ke lantai atas kosong. Sejenak, Ryona merasa canggung sebab Terry diam saja. Mata lelaki itu memandang kosong pada pantulan wajahnya sendiri di panel tombol lift yang terbuat dari logam mengilap.