nineteenth note

58.1K 11.4K 7.9K
                                        

And nothing hurts when I'm alone.

When you're with me.

And we're alone.

—Billie Eilish—

*

Begitu turun dari panggung, satu-satunya yang jadi fokus pikiran Injun adalah menemukan Lala

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Begitu turun dari panggung, satu-satunya yang jadi fokus pikiran Injun adalah menemukan Lala. Beberapa orang sempat menghadang langkahnya, sebagian untuk mengucapkan selamat dan sebagian laginya bermaksud memujinya. Jelas itu pertama kali dia dipandang sebagai orang yang layak diberi ucapan 'selamat' selama hampir tiga tahun dia berada di sekolah, namun buat Injun, itu bisa menunggu. Cowok itu berlari melintasi keramaian, mencoba menemukan wajah orang yang dia cari. Pada akhirnya, Injun berhasil menemukannya. Kelihatannya, Lala baru saja habis dari toilet. Injun melihatnya dari belakang. Awalnya, dia sempat tidak yakin karena untuk pertama kalinya, Injun melihat rambut Lala tergerai—yang sekarang sedang cewek itu kembali ikat ke dalam bentuk kuncir ekor kuda.

"Lala!"

Lala menoleh, tersekat seketika. Wajahnya memerah. Dia masih terperangah, bingung harus melakukan apa saat tiba-tiba, sosok Adin muncul dari arah lain. Gadis itu berlari ke arah Injun dengan senyum cerah yang lebar merekah.

"Kak Artajuna!"

Lala melotot kesal, berniat buru-buru pergi dari sana karena ogah menjadi saksi kemesraan dadakan cowok yang ditaksirnya selama nyaris dua tahun belakangan. Dia menjauh secepat yang dia bisa, tapi seru nyaring bernada ceria milik Adin masih bisa terdengar telinganya. "Kak Artajuna, tadi itu keren banget!"

"Oh—hng—iya, makasih ya—"

"Aku suka—"

"Sori, Adin." Injun berujar, memotong dengan suara yang lebih tegas. "Ngobrolnya nanti aja ya? Soalnya gue masih ada—ehm—urusan. Tapi makasih udah nonton gue dan udah ngasih bunga."

"Hng... urusan apa?"

Injun tidak menjawab, langsung berjalan melewati Adin begitu saja. Dia berlari kecil untuk mengejar Lala yang melangkah kian cepat tanpa sekalipun berniat menoleh ke belakang. Adin memandang punggung mereka berdua, mengangkat alis sebelum kemudian dia kelihatan paham. Gadis itu menarik senyum pahit, memilih meninggalkan tempat itu seraya berusaha mengabaikan retak yang baru saja terjadi dalam dadanya.

"Lala!"

Lala terus berjalan, tidak menghiraukan Injun.

"Shavela!"

Tetap tidak bereaksi.

"Medusa!"

Lanjut jalan saja tanpa berhenti.

"Sayang!"

Lala nyaris tersedak, tapi untuknya masih bisa mengendalikan diri dan terus saja berjalan. Dia bisa mendengar decak Injun yang kehilangan kesabaran.

Dream Launch ProjectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang