seventeenth note

67.6K 11.8K 8.8K
                                        

It kills me sometimes, how people die.

—Markus Zusak—

*

Hidup dalam dunia yang seutuhnya tanpa suara terasa mengerikan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hidup dalam dunia yang seutuhnya tanpa suara terasa mengerikan. Terry tersekat, mencoba menarik napas, tapi semua ketenangan seakan dirampas paksa darinya saat detik demi detik berlalu dan dunianya masih tetap saja sunyi. Nana memandangnya, jelas memanggil namanya, namun tak ada bunyi yang terdengar oleh telinga. Terry nyaris kehilangan kewarasan, mulai memukul kepalanya sendiri, perlahan berlutut sementara air matanya mengalir. Dia ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. Lalu, senyap terganti oleh denging keras, seperti ada seseorang mengguncang lonceng di dekat telinganya. Kepalanya sakit, seolah-olah bisa meledak sewaktu-waktu.

Terry hampir berteriak frustrasi, hingga dia merasakan genggaman tangan Nana dan Jeno di bahu dengan lengannya menguat, membuatnya mengangkat wajah hanya untuk mendapati mata Nana sedang menatapnya. Mata itu berkaca-kaca. Hanya perlu satu kedipan dan air mata akan jatuh ke pipinya. Tetapi tanpa alasan yang tidak Terry ketahui, Nana menahan diri untuk menangis.

"Pak?" Dia memanggil dan kelegaan mengaliri dada Terry.

Dia bisa mendengar lagi.

"Kita harus ke dokter!" Jeno mendadak menyela.

"Bener. Kita harus—"

"Saya nggak apa-apa."

"Tapi, Pak—"

"Saya nggak apa-apa!" Terry mengulang dengan lebih tegas, tapi intonasinya terlalu tinggi hingga membuat Jeno dan Nana terdiam seketika. Bisa dimengerti. Mereka pasti terkejut, karena selama mengenal Terry, belum pernah sekalipun lelaki itu membentak dengan nada marah sungguhan. "Hng... maksud saya... saya baik-baik aja. Saya cuma butuh istirahat sebentar."

"Bapak yakin?"

Terry mengernyit. "Kamu nggak usah sok khawatir gitu sama saya. Geli."

"Saya serius!" Nana berseru. "Kalau bapak sakit, kita bisa antar bapak ke dokter!"

"Saya nggak apa-apa." Terry beranjak, menatap bergantian pada Jeno dan Nana dengan canggung, sebelum meneruskan ucapannya. "Kalian lanjutin aja diskusinya. Nanti kalau Injun udah dateng, makan duluan aja. Saya nyusul."

"Pak—"

Terry mengabaikan kekhawatiran yang terdengar jelas dalam suara Jeno, buru-buru melangkah pergi menjauhi mereka dan menghilang di balik pintu kamar yang lalu dia tutup. Lelaki itu bersandar sebentar di pintu, menghela napas dalam-dalam seraya meremas rambutnya diikuti embus napas frustrasi. Ada beberapa alasan yang membuatnya memutuskan hiatus dari pekerjaannya sebagai produser dan song-writer. Salah satunya adalah apa yang baru terjadi. Namun setelah setahun lewat, baru kali ini dia betul-betul tidak bisa mendengar sama sekali dan itu berlangsung dalam hitungan menit. Jujur, rasanya lebih menakutkan dari yang dibayangkan. Terry merasa kosong, hampa dan sepi.

Dream Launch ProjectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang