(Completed)
"The art of dying is the art of living. The honesty and grace of the years of life that are ending is the real measure of how we die. It is not in the last weeks or days that we compose the message that will be remembered, but in all the...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
prelude – artajuna purnasaman
Ada banyak partner in crime yang jadi legenda, entah itu dalam kisah fiksi maupun cerita nyata. Partner in crime versi rekaan yang terkenal di telinga kebanyakan orang misalnya Joker dan Harley Quinn. Mulanya, Harley Quinn hanya psikiater muda biasa berkehidupan normal, yang kemudian berubah drastis dan rela menjadi kriminal usai jatuh cinta pada Joker. Cerita nyatanya juga ada, tentang Bonnie dan Clyde yang kerap disebut-sebut sebagai Joker dan Harley Quinn dunia nyata. Mereka adalah pasangan perampok bank yang terkenal di Amerika Serikat, beraksi pada masa The Great Depresion dan sempat menjadi musuh publik hingga tewas dalam sebuah baku tembak pada tahun 1934.
Tapi di sini, Injun tidak akan bicara tentang Bonnie dan Clyde. Juga tidak tentang Joker dan Harley Quinn—lagipula, dia tidak tahu banyak soal pasangan berdandanan nyentrik itu. Injun bukan fanboy DC Universe, walau dia juga tidak sesetia itu mengikuti film-film Marvel Universe.
Kalau menyebut partner in crime di sekolah, secara otomatis, seisi sekolah akan langsung teringat padanya dan Nana. Mereka sudah bersahabat sejak pertama masuk—bahkan datang bersama-sama di hari pendaftaran, dengan seragam sekolah putih-biru yang penuh noda coretan spidol dan piloks di sana-sini. Konyol sekali, juga menarik perhatian sebab diantara semua pendaftar yang berbusana rapi dan datang bersama orang tua mereka, hanya Injun dan Nana yang tampil seperti itu serta datang seorang diri. Kejutan lainnya adalah ternyata mereka berasal dari sekolah berbeda.
Iya, Injun dan Nana tidak pernah satu sekolah, sampai mereka masuk SMA. Apa itu artinya mereka tetangga yang rumahnya berdekatan? Tidak juga. Lantas, bagaimana mereka bisa bertemu dan kemudian berteman?
Injun pertama kali bertemu dengan Nana di semester pertamanya tahun terakhirnya berseragam putih-biru. Saat itu, Nana menyelamatkan Alma, adik perempuan Injun yang tak sengaja terjebak dalam zona tawuran antara dua sekolah menengah atas yang memang lama berseteru. Nana tidak kena bacok maupun kena timpuk batu, tapi dia sempat ditinju gara-gara disangka mata-mata dari sekolah lawan. Pipi sempat lebam gelap selama berhari-hari, namun Nana tidak menganggapnya masalah besar dan malah masih sempat mengantar Alma pulang dengan wajah bengkak sebelah. Injun sangat berterimakasih pada Nana, juga kagum, karena siapa juga di jaman sekarang yang rela mukanya bengep dihajar setelah melindungi anak SD yang tidak dia kenal?
Mereka bertukar nama, beberapa kali nongkrong di warkop Millenium sepulang sekolah untuk makan mendoan bersama dan semudah itu, mereka pun bersahabat.