(Completed)
"The art of dying is the art of living. The honesty and grace of the years of life that are ending is the real measure of how we die. It is not in the last weeks or days that we compose the message that will be remembered, but in all the...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Katanya, orang bisa sayang karena nyaman. Bisa juga kebalikannya, nyaman sebab sayang. Tapi bagaimana jika nyaman dan sayangnya Jeno ada di dua orang yang berbeda?
Jeno, apa kabar? Aku kangen.
Hanya dua kalimat, tapi dampaknya sebesar itu bagi seorang Ezekiel Noelish Karsa. Bahkan hingga sekarang, dia tidak bisa melenyapkan dua kalimat dalam dua balon chat yang diterimanya dari Giza tadi pagi. Jujur, waktu membacanya, reaksi pertama yang terlintas dalam pikiran Jeno adalah; iya, Giza. Aku juga kangen.
Seharusnya tidak begitu, sebab setelah hubungan mereka tersudahi dalam sebuah pertengkaran hebat hampir setahun lalu, tiada lagi yang mesti tertinggal selain kenangan—yang sampai kapan pun, tidak akan pernah Jeno lupakan. Sofia Giza Imalona adalah perwujudan kata pertama dalam bentuk manusia baginya. Pacar pertama. Gadis pertama yang dia gandeng tangannya. Orang pertama yang muncul di rumahnya bersama kue ulang tahun berbentuk kepala kucing. Pelukan pertama. Ciuman pertama.
Jeno tidak pernah ingin jadi cowok yang dipandang brengsek oleh orang lain. Dia ingin selalu jadi anak baik yang bisa dibanggakan ibunya. Anak yang tidak pernah menyakiti siapa-siapa. Namun terkadang, keadaan bisa menyulap segalanya jadi tak selalu sejalan dengan keinginan kita. Dalam sudut pandang yang berbeda, kita bisa jadi antagonis di lain cerita.
Hampir setahun yang lalu juga, beberapa bulan pasca putus dari Giza—tanpa nyambung lagi, yang sempat bikin Injun dan Nana terkejut—Jeno bertengkar hebat dengan Injun. Alasannya sederhana; gara-gara Jeno jadi sedekat itu dengan Alma, adik perempuan Injun. Jeno masih ingat, ketika itu dia sedang duduk di salah satu ruangan di Frasa Entertainment tatkala Injun membuka pintu tanpa mengetuk, langsung meraih kerah bajunya dan menyudutkannya ke tembok macam adegan sinetron Anak Langit.
"Lo ngapain sama adik gue?!"
Jeno tidak ngapa-ngapain. Dia hanya mengobrol dengan Alma, lalu Alma menawari mengantarnya pergi membeli makanan kucing. Setelahnya, mereka sempat mampir di Gramedia dilanjut makan bersama. Bukannya itu wajar? Jeno kenal Alma dengan baik, sebab dia adik Injun dan otomatis, mereka cukup sering bertemu dikarenakan tak jarang, Alma menyambangi apartemen mereka atau mendatangi Injun di gedung Frasa Entertainment.
Tapi Injun bereaksi seolah-olah Jeno adalah penjahat.
"Gue—"
"Lo mau mainin adik gue juga?!"
Juga.
Jeno perih mendengarnya.
Berani sumpah, Jeno tidak pernah mempermainkan siapapun. Dia hanya bersikap pada semua orang. Itu saja. Termasuk dengan teman-teman kuliahnya dulu. Mereka satu kampus, bahkan satu kelas. Arah pulang mereka sama. Apa ada larangan buat teman untuk pulang bareng? Jeno tidak pernah mengerti mengapa lantas orang-orang menganggapnya playboy karena dia sering pulang bersama gadis yang berbeda-beda. Jeno juga tidak paham, kenapa Giza cemburu karenanya.