fifteenth note

69.2K 12K 9.4K
                                        

But behind all your stories

is always your mother's story.

Because hers is where yours begin.

—Mitch Albom—

*

Hari itu seharusnya jadi hari yang biasa saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari itu seharusnya jadi hari yang biasa saja.

Yah, apa yang bisa jadi luar biasa dari hari pertamanya menginjakkan kaki kembali di Jakarta? Perempuan itu tidak tahu. Dia bahkan tidak paham mengapa setelah bertahun-tahun berlalu, dia masih mau kembali ke tempat yang telah menorehkan begitu banyak luka. Masa lalunya. Masa mudanya. Semua kenangan yang dulunya manis, tapi kini berubah getir karena segalanya tak lagi sama. Dia hanya mengikuti kemana kakinya membawanya—menyuruh supir taksi yang ditumpanginya membelokkan mobil ke sebuah mal, hanya untuk terjebak dalam keramaian asing.

Dia telah sering terjebak dalam keramaian—berjalan diantara orang-orang yang melangkah cepat seakan-akan sedang diburu waktu. Hanya saja, di sini berbeda. Di sini, orang-orang tidak bergerak cepat seperti mereka yang di sana. Di sini, tidak ada rambut pirang, rambut merah, mata hijau, mata biru, semuanya terlihat serupa dengan rambut hitam dan mata cokelat. Seperti dirinya. Seperti lelaki itu.

Seperti seseorang yang selalu rindukan, tanpa rupa, hanya bayangan samar akan sosoknya pada suatu masa—yang pasti kini, sudah berbeda.

Perempan itu tak paham apa yang membuatnya tiba-tiba menghentikan langkah hanya untuk mematung sejenak di depan sebuah toko penuh aksesoris dan berbagai pernak-pernik lainnya. Dia bukan orang yang suka memakai aksesoris, apalagi mengoleksi benda-benda lucu, tapi entah kenapa seakan-akan ada kekuatan tak kasat mata yang menariknya masuk ke sana. Deretan rak yang memuat beraneka benda menyambutnya. Dari satu koridor ke koridor lain, perhatian perempuan itu mendadak tersita oleh sebuah gelang yang dia lihat dari kejauhan. Bisa jadi karena gelang itu tampak lebih berkilau dari benda-benda lain yang ada di dalam toko. Atau juga mungkin, karena warnanya hijau.

Perempuan itu berjalan mendekat, mengulurkan tangan untuk meraih gelang yang menarik perhatiannya, bersamaan dengan tangan lain yang turut terjulur dari arah yang berbeda. Spontan, perempuan itu menoleh, mendapati sesosok remaja berambut hitam di sebelahnya. Wajah remaja itu terlihat bingung, berbanding terbalik dengan mata sang perempuan yang kini menatap nanar.

"Kamu..."

Perempuan itu telah mendengar kabar kematiannya bertahun-tahun lalu. Dia tersekat, hampir lupa bagaimana caranya bernapas. Wajar, karena rasanya seperti melihat seseorang baru dibangkitkan dari kematian. Tetapi ketika anak itu balik menatapnya, perempuan itu menyadari sesuatu. Tidak. Anak ini bukan orang itu. Anak ini lebih muda, tanpa potongan rambut ala rocker dan celana jeans sobek-sobek, juga lengan yang dirajah tato. Kulitnya tidak cokelat terang, lebih pucat—seperti kulit perempuan itu sendiri. Sorot matanya lembut, tidak berkabut karena terlalu sering menenggak alkohol.

Dream Launch ProjectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang