twenty third note

74.9K 11.5K 5.4K
                                        

Why are you sad? He asked.

When I am here.

When I love you.

—Lang Leav—

*

Jeno dan Injun refleks beranjak dari tempat mereka duduk, bersiap melakukan tindakan penyergapan layaknya sekumpulan polisi yang hendak menangkap serombongan pengedar narkoba

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jeno dan Injun refleks beranjak dari tempat mereka duduk, bersiap melakukan tindakan penyergapan layaknya sekumpulan polisi yang hendak menangkap serombongan pengedar narkoba. Untunglah, Nana cepat memahami situasi. Cowok itu ikut berdiri, menahan dua rekannya sebelum mereka melakukan tindakan radikal yang bisa saja dapat berujung pada terseretnya pihak-pihak yang diduga provokator ke ruangan khusus milik pihak keamanan apartemen.

"Injun, Jeno, setop! Gue kenal dia."

Yeda mengangkat alis, tapi sudut bibirnya membentuk senyum samar kala matanya dan Nana bertemu. Injun tercengang. Begitupun dengan Jeno yang sampai lupa menutup mulutnya.

"Kenal dimana?!"

"Ada."

"Kenal dimana?!" Jeno ikut bertanya, tidak kalah mendesaknya dari nada suara Injun.

Alis Nana terangkat. "Kok kalian jadi posesif gini, sih?"

"Kita butuh penjelasan!" Injun berseru, masih sedramatis sebelumnya, yang didukung Jeno dengan anggukan kepala berkali-kali.

"Dia ini—" Nana belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika Terry sudah lebih dulu memotong ucapannya.

"Dia adik saya. Namanya Yeda."

"Yoda?"

"Ye-da." Yeda mengoreksi Injun.

"Oh, Yoda." Injun tetap, seperti karakter alaminya, gemar mengajak ribut orang sekalipun dia baru mengenal orang itu kurang dari sepuluh menit.

Yeda memilih mengabaikan Injun. "Sori. Gue nggak tahu kalau hari ini bakal ada banyak tamu. Tapi berhubung Jevais sudah ada di sini... minat minum kopi bareng di kafe lantai dasar?"

"Nana, jangan!" Injun sudah rempong melarang.

"Kenapa?"

"Jangan ngopi sama dia. Auranya ni orang rada-rada mirip Jessica. Lo mau berakhir kayak Mirna?!"

"Injun—"

"Injun benar, Na!" Jeno lagi-lagi berpihak pada Injun dan Nana curiga ada yang tengah tidak beres pada otak anak itu hari ini.

"Gue udah lama kenal Yeda." Nana membantah, tetap ngotot dan melangkah menghampiri Yeda. "Boleh. Tapi lo yang bayar ya? Gue nggak bawa banyak duit."

"Oke."

"Kalau gitu, kita juga ikut!"

"Oh, tidak bisa." Terry menukas cepat, membuat kepala Injun dan Jeno sontak tertoleh seketika. "Kalian dihukum karena sudah berani-beraninya hampir memicu keributan di apartemen saya. Apalagi kamu, Injun! Kamu menyuruh Jeno menyergap adik saya sendiri di depan pintu!"

Dream Launch ProjectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang