Happy Reading
.
.
.
.
.
.
.
"Sudah lebih tenang?" Tanya Jiyeon masih memeluk Sehun, ngomong-ngomong ini sudah menit ke 20 Sehun menangis dalam pelukan Jiyeon.
Sehun bergumam lirih lalu melepaskan pelukannya pada Jiyeon, "Terimakasih"
Jiyeon menggeleng, "Seharusnya aku yang berterimakasih"
"?"
"Terimakasih sudah mau menceritakannya padaku, terimakasih karena sudah mau berbagi sakitnya padaku. Aku mencintaimu" setelah mengatakan itu Jiyeon menarik wajah Sehun untuk mendekat kearahnya.
Cup. Gadis itu mendaratkan bibirnya pada belah bibir Sehun, melumatnya dengan lembut lalu melepaskannya. Kedua manusia itu saling bertatapan dengan jarak tipis.
"Aku juga mencintaimu" bisik Sehun telat di depan bibir Jiyeon. Gadis itu tersenyum lalu memeluk tubuh Sehun dengan erat.
"Sehun" panggil Jiyeon setelah melepaskan pelukannya, "Karena kau sudah jujur padaku, aku juga akan jujur padamu"
"Ne?" Sehun menatap Jiyeon dengan bingung lalu gadis itu mengecup singkat bibirnya.
"Alasan kenapa dulu aku terus menolakmu" kata Jiyeon.
"Ah itu. Kau yakin akan menceritakan semuanya padaku?" Tanya Sehun dan Jiyeon mengangguk mantap.
"Kau ingat saat aku mengatakan bahwa aku tidak percaya dengan yang namanya cinta?" Tanya Jiyeon dan Sehun mengangguk.
"Aku mengatakan itu bukan tanpa alasan. Aku mempunyai kenangan buruk dengan keluargaku, maaf untuk satu ini aku tak bisa mengatakannya padamu" ucap Jiyeon membuat Sehun tersenyum.
"Tak apa, cukup ceritakan apa yang kau mau saja" Jiyeon tersenyum lalu kembali melanjutkan ceritanya.
"Semenjak kematian ibu 10 tahun yang lalu, tepat aku berusia 15 tahun, aku menutup diri dari orang-orang. Hanya Seokjin Oppa dan Jisoo lah orang yang dekat denganku. Sampai dimana aku mulai senior high school, aku bertemu dengan seorang pria bernama Park Chanyeol, kedatangannya yang tiba-tiba memberikanku perhatian membuatku akhirnya membuka hati untuknya. Singkatnya, akhirnya kami berkencan. Sama sepertimu, hubungan kami masih baik-baik saja bahkan setelah kami mulai kuliah, bahkan kami sudah merencanakan sebuah pernikahan." Sehun terkejut saat mendengar kata pernikahan dari mulut Jiyeon.
Seakan mengerti keterkejutan Sehun, Jiyeon kembali melanjutkan ceritanya, "Ya, kami memang merencanakan sebuah pernikahan. Tapi semua itu musnah saat usia kami 22 tahun, beberapa bulan setelah kelulusannya, Chanyeol ditugaskan untuk menjadi CEO perusahaan ayahnya. Untuk merayakan hal itu, aku memutuskan untuk mendatanginya sekedar mengucapkan selamat" Jiyeon menjeda ucapannya saat kilasan peristiwa itu kembali terlintas diotaknya. "Aku melihatnya sedang bercumbu dengan gadis lain, 3 bulan sebelum pernikahan kami terlaksana"
Sehun mendelikkan matanya kaget, melihat itu Jiyeon hanya terkikik pelan, "Lucunya, pria itu sama sekali tidak bersalah. Bahkan dia mengatakan jika selama ini dia tidak mencintaiku. Dan ya... Sejak saat itu aku tidak percaya dengan apa yang dinamakan cinta. Bahkan setelah pertemuan kita beberapa kali"
"Apa pria itu gila? Bisa-bisa dia mengkhianati gadis secantik dirimu" seru Sehun membuat tawa Jiyeon meledak.
"Sungguh, Ji. Aku rasa pria itu tidak punya otak. Aku saja mati-matian untuk menjadikanmu kekasih tapi pria bernama Park Chanyeol sialan itu malah mengkhianatimu dengan seenaknya"
"Aku rasa alasannya cukup bisa diterima. Tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu, maafkan aku" Sehun menggeleng lalu mengelus kedua tangan Jiyeon dengan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trust Me! (COMPLETED)
FanfictionTentang Jiyeon yang tidak percaya dengan apa yang mereka sebut dengan "Cinta". Menurut Jiyeon, "Cinta" adalah sepenggal kata yang membuat orang lain tampak bodoh juga lemah. Jika "Cinta" menurut sebagian orang adalah kebahagian. Maka, menurut Jiyeon...
