BTW//LT~4

2K 241 3
                                        

"I'm coming!"

Aku berteriak pada saat membuka pintu rumah lalu meletakkan skateboard dibalik pintu sebelum menerobos masuk ke dalam rumah tanpa melepas sepatu. Yap, kebiasaan burukku.

Hari ini aku tidak di jemput oleh Zain atau pun Daddy. Mereka bekerja dan untungnya aku membawa skateboard sehingga selama perjalanan pulang tidak terasa begitu jauh.

"Hey, kau sudah pulang?"

Aku mendapati Zain sedang asik bermain video game bersama Niall. Niall adalah sahabat Zain bahkan dia selalu kemari setiap hari hanya untuk makan bersama. Orang tua Niall, mereka berada di Muligar.

Awalnya aku berpikir bahwa Niall itu salah satu personil One Direction, tapi nyatanya dia adalah Niall James hanya tempat lahir yang sama dengan Niall Horan dan mana mungkin Niall Horan mau berteman dengan Zain. Kakak paling menyebalkan dan misterius yang pernah kupunya.

"Bodoh! Jelas-jelas aku sudah dirumah. Jelas saja aku sudah pulang."

Seketika Niall tertawa heboh. Aku mengangkat sebelah alisku heran. Apa ada yang lucu dengan ucapanku?

"Kau benar Tiff, Zain memang bodoh!"

Terdengar oleh telingaku bahwa Zain mengendus kesal dan mengumpat, "Sialan!"  Tepat berada di wajah Niall.

Aku hanya memutar bola mata dan berlalu menuju kamar. Langsung menghempaskan tubuhku di atas ranjang yang empuk. Rasanya nyaman sekali setelah kegiatanku yang begitu melelahkan hilang seketika. Aku pun membuka sepatu kemudian kaos kaki lalu meluncur ke kamar mandi.

Setelah selesai berurusan dengan kamar mandi, aku membuka ponselku masuk ke Twitter siapa tahu ada berita baru tentang One Direction. Meskipun aku tidak terlalu fanatik, tapi aku menyukai musik dan suara mereka. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan wajah asli mereka karena setiap pertunjukan mereka selalu menggunakan kacamata hitam andalannya.

Hal itu menjadikan alasan aku menyukai mereka yang sama sekali belum tahu wujud aslinya tapi aku sudah jatuh cinta dengan suara mereka. Dari suara mereka  yang indah aku sudah menduga bahwa wajah mereka sangatlah tampan.

"Tiff!" Aku menoleh ke asal suara, menemukan Niall sedang menutup pintu kamar dan menghampiriku.

"Kau sedang apa?"

Dia pun duduk disebelahku. "Melihat berita tentang lima calon suamiku," ucapku asal yang masih fokus dengan ponsel.

Lalu aku merasakan ranjangku bergerak pelan saat Niall mulai berbaring.

"Kau kenapa? Sepertinya lelah sekali?" Tanyaku penasaran saat melihat wajah Niall yang kusut.

"Aku lelah, aku ingin tidur. Jangan ganggu aku."

Seketika aku menatap tajam Niall. Enak saja dia tidur di kamarku, biasanya dia tidur di kamar Zain atau di kamar tamu.

"Apa? Kau keberatan?" Niall menatapku dengan wajah polosnya.

"Jelas, aku keberatan Mr. James. Mengapa kau tidak tidur di kamar Zain saja atau di kamar tamu?"

"Zain tidak mengizinkanku karena aku tadi mengatainya habis-habisan dan dia juga menyita kunci kamar tamu. Ayolah, izinkan aku tidur disini, aku sedang malas bila harus pulang."

Niall yang malang. Tapi dia tetap saja sama menyebalkannya seperti Zain. Sepertinya sekarang, dirinya yang sudah tertidur pulas tanpa menunggu persetujuan dariku.

Aku keluar dari kamarku, untuk apa aku harus diam di kamarku? Melihat Niall tidur? Membosankan. Aku akan menonton nonton film saja daripada aku mati kebosanan.

Aku menyala televisi sembari berselonjoran mencari posisi yang nyaman. Aku terus memijit remote mencari saluran yang menarik. Lalu terdengar suara pintu kamar Zain yang terbuka dan muncul sosoknya yang melihat ke arahku.

"Tiff, dimana Niall?"

Aku melihat Zain memegang poselnya dengan serius.

"Dia sedang tidur dikamarku," ucapku datar bersikap tidak peduli. Lalu Zain mendecih kesal.

"Memangnya ada apa kau mencari, Niall?" Aku masih fokus kelayar televisi setelah menyadari Zain sudah tidak ada ditempat.

"Menyebalkan! Aku dibiarkan bicara sendiri!" Gerutuku sambil memijit remote dengan kesal. Hingga akhirnya, aku mendengar beberapa langkahan kaki menuruni tangga.

"Oh, Zayn aku lelah dan sekarang kita harus kembali ke studio—hmmph!"

Aku mengalihkan pandangan ke arah mereka berdua di mana Zain sudah membekap mulut Niall rapat-rapat. Ada apa dengan mereka?

"Studio apa? Lalu siapa Zayn? Kurasa aku pernah mendengar nama Zayn?"

Aku mengingat ngingat nama itu, sepertinya aku pernah mendengarnya. Oh sial! Mengapa penyakit pelupaku kumat lagi?

"Studio?" Zain balik bertanya disusul oleh tawaan aneh, "Maksud Niall itu Starbucks bukan studio. Kau salah dengar Tiff. Lalu Zayn, aku tidak mengenal siapa Zayn, iya 'kan Niall?" Zain menyenggol siku Niall agar Niall menjawab.

"Ye-yeah...." Niall tertawa hambar. Aku mengerutkan kening merasa ada yang aneh dengan mereka berdua.

****

Better Than WordsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang