BTW/LT-33

1.4K 172 6
                                        

Sejak kejadian dua hari yang lalu, aku lebih memilih menyendiri. Aku memang sengaja menjauhi semua orang terdekatku kecuali mama. Aku tahu mama ikut terlibat dalam hal ini, tapi apa aku tidak sanggup jika harus menjauhi ibuku sendiri.

Malam itu, setelah bertemu Luke, aku tiba di rumah. Melihat mama yang mungkin sudah menunggu, terlihat dari wajahnya tampak cemas. Sementara di seberang sofa tampak wajah yang sama sekali tidak ingin aku lihat, bahkan menyebut namanya pun aku bingung dan merasa asing. Seolah pria itu bukanlah kakakku yang sesungguhnya bahkan aku menjadi ragu apa pria itu memang kakakku atau bukan.

Tapi setelah mama meminta maaf dengan mata yang berkaca-kaca, aku sadar bahwa memang tak pantas aku memiliki pikiran seperti itu terhadap kakakku sendiri. Wajahnya pada saat itu sangatlah kacau dan terluka bahkan aku tersenyum miris saat melihat wajah terlukanya, untuk apa dia merasa terluka, justru disinilah aku yang sangat terluka. Kakak yang selama ini aku sayangi, telah membohongiku.

Lalu mama dengan pengertiannya membiarkan aku masuk ke kamar tanpa harus mendengar penjelasan dan kalimat minta maaf dari kakakku. Bagiku saat itu maaf tidak bisa mengubah semuanya, tapi maaf hanya bisa menyembuhkan sedikit rasa sakit di hati.

Aku menghela nafas panjang, merasa sedikit tenang sekarang. Apalagi saat menyadari ternyata koridor sudah sepi, padahal jam istirahat hanya beberapa menit lagi. Aku menggidikkan bahu tidak peduli dengan itu, yang aku pedulikan hanya koridor ini bisa menjadi milikku sendiri. Menjadikan tempat ini sebagai tempat yang membuatku tenang kembali dan mencerna semua yang terjadi beberapa hari lalu yang menimpaku.

Kebohongan demi kebohongan seakan membuatku tahu bahwa mereka juga masa laluku yang ingin aku miliki, tapi untuk saat ini aku tidak membutuhkan mereka.

Tiba-tiba terdengar suara decitan pintu UKS yang tak jauh dari tempatku berpijak, terbuka. Menampakkan sosok yang tak asing. Setelah sosok itu menutup pintu dan berbalik menghadapku, aku membeku di tempat. Melihat wajahnya yang sama-sama terkejut sepertiku, membuat hatiku seperti teiris-iris dan mengingatkan aku kembali pada kejadian itu.

Wajahnya yang semula terkejut berubah menjadi tertekan, bersalah, dan terluka. Oh, aku bosan melihat ekspresi itu. Tidak Zayn dan dia, sama saja, selalu ingin membuatku sakit. Tak terasa air mata bodohku keluar tanpa diinginkan yang membuatnya melangkahkan kaki mendekat. Ingin rasanya aku berlari dan menjauhinya, tapi aku tidak bisa, kakiku seolah di lem pada lantai sehingga mempersulitku untuk berjalan.

Dengan terpincang-pincang dia menghampiriku dan baru aku sadari wajahnya penuh dengan luka memar kebiruan. Ada sedikit rasa khawatir dalam diriku ketika melihat wajahnya, tapi aku menepisnya sekuat mungkin. Aku tidak akan tertipu lagi olehnya. Bisa saja dia sengaja melakukan itu agar aku bisa memaafkannya. Aku tidak mau dibodohi lagi.

Disaat jarak aku dan dia menipis, dia menatapku tepat di iris mata cokelat milikku. Aku bisa melihat dari sorot matanya bahwa dia kacau, cemas dan sangat terluka, seperti anak anjing yang tersesat. Dengan satu tarikan, dia mendekapku dengan sangat hati-hati, jika sedikit saja dia tidak berhati-hati, aku akan pecah seperti kaca yang mudah pecah.

Terjadi keheningan panjang di koridor yang lenggang hanya ada suara detak jantungnya yang cepat melebihi ritme biasanya. Hembusan nafas hangatnya menggelitiki leherku dan entah sampai kapan pelukan ini berakhir yang pasti aku merasakannya lagi, merasakan ketenangan yang selalu dia berikan terhadapku, seperti biasanya.

"Aku mencemaskanmu sejak kau pergi begitu saja," Dia bergumam cukup jelas, mendengar dia berkata seperti itu aku tersenyum kecut. Aku tidak tahu apa memang benar dia mencemaskanku atau dia hanya berpura-pura.

"Kebohongan mana lagi yang kau sembunyikan?" Aku tahu pertanyaanku akan menyakitinya, tapi semua kata demi kata meluncur begitu saja dari mulut.

Mungkin karena pertanyaanku yang nyaris seperti sindiran dia akhirnya melepaskan pelukannya dan menatapku dalam. Itu semakin membuat air mataku semakin deras. Louis sialan. Kau mambuatku sakit hanya menatap mata terluka itu. Mengapa kau merasa terluka? Justru seharusnya disinilah aku yang paling terluka. Kau membohongiku, Louis.

Better Than WordsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang