Karawang, 14 Maret 2019
***
Jujur adalah cara terbaik memperbaiki apapun, meski kejujuran kadang menyisakan luka, menyakiti jauh dari apa yang kita duga.
***
Semalaman Salsa berpikir keras, bagaimana, dan apa yang harus ia lakukan. Ia ingin mengungkap kebenaran, tapi tak mungkin ia memenjarakan klienya sendiri. Jika ia menungkap semuanya dengan bukti yang ia punya, kasus ini akan selesai. Tapi karirnya juga bisa selesai saat itu juga. Dengan tidak membela klienya di persidangan ia sama saja melanggar kode etik sebagai pengacara. Mungkin Om Hot juga akan mendepaknya dari kantor.
Apa yang harus ia lakukan. Pagi ini Salsa belum bersiap siap ia masih memakai piama, padahal siang ini sidang akan dimulai. Salsa menatap berkas perkara itu, sedih rasanya membayangkan dirinya berada di posisi merry. Tapi akan lebih sedih lagi jika karirnya hancur begitu saja. Kepala Salsa terasa pusing karna memikirkan ini semalaman.
"Pagi."sapa Teo yang tiba tiba muncul di sampingnya dan lagi lagi membuat Salsa kaget.
Salsa mendengus seraya mengelus dadanya sendiri."Astaga, kebiasaan banget sih."
"Kok belum siap siap?"
"Gue masih bingung apa yang harus gue lakuin nanti."Salsa mengerucutkan bibirnya.
"Ikutin aja kata hati lo."balas Teo santai.
"Tapi kalo karir gue hancur gimana."
"Itu konsekuensi."
Salsa mencibik."Enak banget ya bilang kayak gitu, gue kuliah bertahun tahun merintis karir, sekarang pas karir gue mau berkembang gue harus relain gitu aja."
Teo menepuk bahu gadis bermabut hitam legam itu."Gue yakin lo tahu yang terbaik."
"Tapi."
"Udah cepetan ganti baju."perintahnya.
Salsa menggeleng."Gue masih bingung."
Teo mencondongkan tubuhnya ke arah Salsa."Ganti baju atau gue yang gantiin."
Seketika wajah Salsa lansung memerah."Eh iya iya gue ganti baju, jangan ngintip."
"Dikit boleh kali."godanya sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Enak aja."
Salsa segera mengambil bajunya di dalam lemari lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.
"Jangan ngintip."himabau Salsa lagi sebelum ia benra benar masuk ke kamar mandi.
"Iya."
Dengan cepat Salsa mengganti bajunya, menyiapkan semua berkas dan keperluan lainya untuk ia bawa ke persidangan kali ini. Jadwalnya lelaki bernama Firman juga akan dihadirkan dalam sidang ini, dan tentu saja dia juga akan membawa pengacara. Salsa merapikan rambutnya, menyisirnya lalu mengikatnya ke belakanga. Setelah di rasa rapi ia mngambil tasnya dan bergegas keluar rumah.
Saat hendak keluar Salsa berpapasan dengan sang papah yang hendak menuju ruang makan.
"Sayang kamu gak sarapan dulu?"tanya papanya itu karna melihat Salsa yang nampaknya sangat terburu buru.
"Enggak pah Salsa buru buru."balasnya dengan cepat.
"Ya udah jatah kamu buat papah ya."
"Iya makan aja biar papah jadi gendut."ucap Salsa lalu mencium tangan papanya itu dan segera keluar dari rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boyfriend is a Ghost
Teen FictionSemuanya berawal dari sebuah kecelakaan yang dialami salsa, kecelakaan yang menghilangkan seluruh ingatanya. Bahkan ia sama sekali tidak bisa mengingat orang tuanya, dan semua kenangan masa kecilnya. Tidak hanya itu kecelakaan yang menimpanyapun mem...
