PART 27 - HEAVY EXAMS

3.2K 594 62
                                        

Hari pertama dan kedua ujian, biasanya memang terasa begitu mendebarkan. Namun, semakin kesini, pelajaran yang diujikan semakin sulit. Terlebih jika itu sudah memasuki ujian untuk mata pelajaran peminatan. (Namakamu) tidak tahu apa jadinya kalau tidak ada Iqbaal yang mau dengan senang hati membantunya mengerti tentang soal kisi-kisi matematika dari guru pengampu. Meski mereka tidak berada dalam satu ruangan-juga geng rempongnya kecuali Nadira, kadang saat istirahat begini, Iqbaal selalu mampir ke kelasnya sekadar untuk mengajaknya jajan, makan siang, atau belajar.

Karena (Namakamu) sendiri terlalu malas untuk keluar kelas walau terkadang Nadira sering mengajaknya ke kelas sebelah untuk kumpul dengan teman lainnya.

"Gimana? Masih perlu aku jelasin lagi nggak?" Iqbaal mengalihkan pandangan dari kotretan di atas meja pada (Namakamu) yang masih membisu usai penjelasannya tentang materi integral berakhir. "Pusing ya? Apa aku tadi jelasinnya kecepetan?"

"Nggak, udah. Aku ngerti kok." Wajah itu akhirnya muncul di kedua mata Iqbaal. Bersama sebuah cengiran yang mampu menghangatkan hati. "Makasih, Baal!"

Iqbaal pun tersenyum. Tanpa lupa meletakan tangannya di puncak kepala (Namakamu), memberikan sebuah usapan. "Anything for you, Sweet!"

"Gombal deh!" (Namakamu) yang tersipu mencubit pelan perut Iqbaal. Lalu mencebikan bibir bawah. "Nanti ketauan adek kelas, malu tau!"

Setiap melakukan ujian semester, posisi duduk pun tidak akan sama seperti saat belajar biasa di kelas. Akan dipilih secara random oleh pihak sekolah hingga akhirnya kelas (Namakamu) satu kelas dengan kelas X IPA 2 yang terbagi ke dalam dua kelas. Jadi, selama satu minggu ini, (Namakamu) tidak akan duduk satu meja dengan Iqbaal. Melainkan dengan adik kelas yang entah siapa namanya. (Namakamu) lupa. Yang pasti, adik kelasnya itu perempuan.

"Ngapain malu? Harusnya kamu bangga, punya pacar pinter gini mau bela-belain ngajak kamu belajar bareng." Katanya. Narsis seperti biasa.

(Namakamu) memutar bola mata. "Udah ah! Kamu balik kelas sana! Bentar lagi masuk."

"Ngusir nih?" Iqbaal mengangkat sebelah alisnya. Sekilas melirik jam di tangan yang menunjukan bahwa masih ada sepuluh menit lagi hingga bel masuk bunyi. "Mau ke kantin nggak? Kamu belum jajan apa-apa dari tadi perasaan. Nanti kalo nggak bisa mikir gara-gara laper gimana? Habis ini matematika lho." Tuturnya memberi sebuah ajakan.

Sesaat, laki-laki itu memandangi (Namakamu) yang masih terpekur di kursinya. Perempuan yang sedang berusaha memahami baik-baik materi tentang integral di kepalanya. Tanpa sadar Iqbaal mengurai senyuman lebar. Menekuk siku di atas meja untuk menopang sisi kepala yang sedikit dimiringkan. Menyaksikan dengan khidmat bagaimana (Namakamu) yang begitu berusaha keras memahami materi yang tidak dimengertinya.

Menikmati setiap detiknya. Saat dimana untuk kesekian kalinya Iqbaal dibuat jatuh cinta pada (Namakamu) walau perempuan itu hanya diam, tidak melakukan apapun.

"Baal, kalo yang ini..."

Refleks, kedua alis Iqbaal terangkat seiring wajah (Namakamu) yang menoleh padanya dengan sebuah pertanyaan terlontar dari bibir mungilnya.

"Kenapa?"

(Namakamu) justru terdiam saat Iqbaal sudah berusaha memberikan respon.

"Kok diem?" Iqbaal terkekeh. Meninggalkan posisi bertopangnya untuk kembali mendekat pada (Namakamu) dan menatap lekat kertas kotretan. Mengikis jarak yang ada hingga Iqbaal dapat melihat dengan sangat jelas ekspresi wajah (Namakamu) di sebelahnya. "Mana yang nggak ngerti? Yang ini?" Tebaknya seraya menunjuk sebuah tulisan di atas kertas.

Butuh beberapa saat untuk (Namakamu) mampu menarik konsentrasinya kembali ke permukaan. Kejadian tadi, kala matanya tanpa sengaja menangkap basah Iqbaal sedang memandanginya lekat, sukses membuat syarafnya tak berfungsi. Iqbaal dan segala sikap manisnya. (Namakamu) tidak mengerti kenapa hanya dengan sebuah pandangan mampu membuatnya tak berkutik. Bahkan ketika bibirnya biasa mengeluarkan protes atau rengekan, sewaktu melihat Iqbaal tadi, bibirnya tiba-tiba terkatup rapat.

Love, IqbaalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang