Dengan bertopang pada kedua kakinya, Iqbaal sedikit merapikan rambut depannya yang agak rusak karena memakai helm selama mengendarai motor. Sebelum akhirnya laki-laki yang memakai kaos putih dan dibalut dengan jaket jeans andalan, mengangkat tangannya untuk menekan bel yang terpasang di tembok sisi pintu.
Untuk beberapa saat Iqbaal menunggu. Mungkin orang rumah sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing hingga tidak mendengar suara bel. Pikirnya. Sekali lagi, Iqbaal menekan bel rumah berharap seseorang akan menyadari kalau ia datang bertamu. Sejurus kemudian, terdengar suara kunci diputar dari dalam, membuat Iqbaal refleks mengambil dua langkah mundur supaya tidak terlalu dekat dengan pintu.
“Eh, hai!”
Iqbaal tersenyum dan mengangkat telapak tangannya ke atas memberi sebuah balasan untuk kalimat ‘hai’ yang terlontar.
“Ayo masuk. Sorry ya tadi gue lagi siap-siap di atas, jadi nggak denger lo mencet bel.” Benar dugaannya. Iqbaal lagi-lagi mengangguk kecil memaklumi.
Setelah melepas sepatu, Iqbaal masuk ke dalam dan pintu kembali ditutup oleh si pemilik rumah. Iqbaal merasa canggung dan bingung harus berbuat apa. Matanya meneliti seisi ruangan. Suasana gelap begitu kental menyelimuti karena sinar matahari tidak mampu mencapai ke sisi dalam rumah. Iqbaal hanya mengikuti langkah (Namakamu) karena perempuan itu tidak mengatakan apa-apa termasuk menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu. Tapi setelah melewati sekat yang membawanya menuju ruang keluarga, Iqbaal sekarang mengerti kenapa (Namakamu) tidak menyuruhnya duduk di sofa dan menunggu perempuan itu selesai di ruang tamu.
“Lo mau ketemu Eyang ’kan kemarin?” Tanya (Namakamu) yang berhenti setengah langkah di depannya. “Mumpung Eyang lagi nyantai tuh. Lo temenin Eyang ya, gue mau siap-siap dulu di atas.”
Iqbaal kembali membalas tanpa suara. Hanya dengan gerakan kepala, (Namakamu) langsung mengerti dan menuntun Iqbaal untuk duduk pada salah satu sofa dekat Eyang. Sementara perempuan itu hendak kembali ke kamarnya di lantai dua untuk bersiap-siap. Karena Iqbaal lihat, (Namakamu) masih mencepol asal rambutnya ditambah wajahnya yang begitu polos tanpa riasan. Meski sebenarnya selama ini (Namakamu) hanya menggunakan bedak dan mungkin pelembab bibir karena Iqbaal selalu menemukan bibir (Namakamu) terlihat segar.
“Eyang, ada yang mau ketemu nih!” Lapor (Namakamu) pada Eyang. “Gue tinggal ya.” Lalu melapor pada Iqbaal dan berlalu menaiki tangga.
Iqbaal segera menunduk dan mencium tangan Eyang begitu pandangan wanita yang umurnya sudah lewat dari setengah abad itu melirik penuh ke arahnya.
“Eyang,”
“Baal? Kapan dateng?” Tanya Eyang begitu Iqbaal usai mencium tangannya.
Laki-laki itu lantas mendudukan tubuhnya pada sofa panjang dekat Eyang. “Barusan, Eyang.”
“Oh, mau pergi sama (Namakamu) ya?” Tebak Eyang.
Iqbaal mencari keberadaan (Namakamu). Tapi setelah ingat kalau perempuan itu sempat bilang akan meninggalkannya berdua dengan Eyang, Iqbaal menarik sudut bibirnya lalu berkata, “Iya, Eyang. Mau latihan buat lomba akustik di sekolah. Lombanya sebentar lagi. Jadi harus tetep latihan biarpun hari ini libur.” Jelasnya.
“Oalah, Eyang baru ngerti. Itu kaya lomba nyanyi gitu ’kan, nduk?” Iqbaal balas dengan kekehan ringan dan sebuah anggukan. “Pantesan nggak malem, nggak siang, (Namakamu) nyanyiii mulu di kamarnya. Nggak biasanya lho, Baal, (Namakamu) nyanyi. Padahal Eyang tau suara cucu Eyang itu memang bagus.”
“Iya, Eyang, (Namakamu) nggak pernah ngaku kalo selama ini bisa nyanyi. Iqbaal juga heran, Eyang. Kenapa ditutup-tutupin ya punya suara bagus kaya gitu? Jadi pas Iqbaal tau, langsung Iqbaal paksa buat ikutan lomba akustik bareng Iqbaal.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Love, Iqbaal
Fiksi Penggemar"I'm sorry, but you don't need to be chatty to get my attention. I love the way you being quiet, the way you smile, the way you care behind me..."
