Song :
The Overtunes - Written In The Stars
oOo
Hingga malam (Namakamu) memutuskan untuk pulang, kondisi Eyang masih sama. Belum menunjukan perubahan yang signifikan. Tapi dokter terus berupaya melakukan yang terbaik supaya Eyang dapat bertahan dan pada akhirnya akan membuka mata seperti sedia kala. (Namakamu) sungguh berharap untuk itu.
"(Nam..)?"
Seseorang dari balik pintu memanggil namanya. Ketika (Namakamu) menoleh, mengalihkan pandangan dari handphone di genggaman, saat itu pula Iqbaal muncul dari sela pintu dengan ekspresi wajah seolah meminta izin.
"Aku masuk nggak papa?"
Yang bisa perempuan itu lakukan sebagai respon hanyalah sebuah anggukan. Tanpa ekspresi, tanpa senyuman. Wajahnya masih dirundung sendu. Dengan handphone yang selalu di genggaman, menyatakan sebuah pengharapan besar jika nanti seseorang di seberang sana akan memberikannya kabar baik tentang kondisi Eyang. Untuk saat ini, hanya ada Eyang di pikiran (Namakamu).
"Nggak tidur?" Iqbaal bertanya setelah berhasil mendudukan dirinya di tepi kasur, menghadap penuh pada (Namakamu) dengan jarak yang tidak terlalu jauh. "Nih, aku buatin susu buat kamu. Biasanya Bunda selalu bikinin aku susu tiap nggak bisa tidur karena banyak pikiran." Diakhiri sebuah senyuman seraya menyodorkan segelas susu putih yang sejak tadi dibawanya.
Diam. (Namakamu) hanya diam. Memandang gelas dan wajah Iqbaal secara bergantian. Melempar tatapan ragu.
"Kenapa? Nggak mau ya?" Iqbaal tersenyum tipis.
(Namakamu) menggeleng. Matanya kembali berkaca-kaca. Diiringi tubuh yang gemetar, begitu kentara sedang menahan tangis sekuat tenaga.
Iqbaal yang paham akan situasi, segera meletakan gelas di atas nakas. Lalu menggeser tubuhnya mendekat untuk menarik (Namakamu) ke dalam pelukan. Memeluknya lagi seperti yang dia lakukan saat di rumah sakit.
Ah, Iqbaal benar-benar tahu bagaimana rapuhnya (Namakamu) hari ini. Bahkan setelah sempat beberapa kali menangis di rumah sakit, sudah berada di rumahnya pun, (Namakamu) masih saja ingin menangis. Seolah kesedihannya hari ini tidak akan berakhir sebelum mendengar kabar baik tentang kondisi Eyang. Entah sampai kapan. Tapi Iqbaal harap secepatnya. Karena jauh dalam hatinya, Iqbaal tersiksa melihat (Namakamu)nya menangis teramat sedih seperti ini.
Dengan usapan lembut di belakang kepala, (Namakamu) semakin menyembunyikan wajahnya di bahu Iqbaal. Menangis. (Namakamu) menangis keras. Mengeluarkan semua kesedihannya tanpa ragu. Karena untuk saat ini hanya itu yang (Namakamu) butuhkan. Seseorang yang akan mengerti kesedihannya. Seseorang yang tidak akan banyak bertanya dan segera menariknya ke dalam pelukan untuk bersandar. Seperti yang Iqbaal lakukan.
"It's okay, Sweety. It's okay." Bisik Iqbaal di telinga (Namakamu). Satu tangannya di letakan di belakang kepala (Namakamu), menahannya agar terus berada di pelukan selama tangisnya belum berakhir. Sementara satu tangannya yang lain berada di punggung perempuan itu, berharap mampu mengalirkan rasa hangat dari telapak tangannya yang bergerak memberi usapan. "Eyang nggak papa. Udah ya?"
Namun yang terjadi (Namakamu) menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya di seputar leher Iqbaal.
"Hey, look at me, Sweety! Just look at me.."
Iqbaal sedikit memundurkan bahunya ke belakang. Berusaha merenggangkan pelukan yang terjalin di antara mereka meski itu tidak cukup untuk membuat (Namakamu) benar-benar melepaskan tangannya dari leher Iqbaal. Dengan wajah memerah, basah karena air mata, (Namakamu) memberanikan diri untuk menatap Iqbaal. Menatap laki-laki yang kini mengangkat tangannya untuk menyeka air mata yang keluar. Laki-laki yang mengusap sisi wajahnya mencoba menghilangkan jejak basah, termasuk memberikan tatapan penuh cinta yang sanggup membuat (Namakamu) berdesir saat kesedihan masih mendominasi jiwanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love, Iqbaal
Fanfic"I'm sorry, but you don't need to be chatty to get my attention. I love the way you being quiet, the way you smile, the way you care behind me..."
