Belum sedihnya mereda, (Namakamu) harus bertahan dengan resah dalam relung dada, menunggu Eyang selesai diperiksa oleh dokter yang langsung melakukan tindakan setibanya dia di rumah sakit. Disana, dibalik pintu kokoh besar di depan matanya, ada Eyangnya yang harus berjuang melewati ini semua. Sendirian. Pun dengan (Namakamu). Yang kerap merapalkan doa di bibir dan hatinya. Meminta penuh harap pada Sang Pencipta akan mukjizat-Nya. Karena (Namakamu) masih butuh Eyang untuk melihatnya sukses. Melihatnya menggapai semua mimpi. Melihatnya bahagia setelah sepuluh tahun terakhir.
Perempuan itu tertunduk. Masih dengan air mata, bahu yang bergetar, dengan tangan yang sesekali mengusap jejak basah yang ditinggal air matanya di pipi. Menunggu seorang diri sampai Bi Imas dan Pak Iman kembali untuk mengambil barang-barang yang kemungkinan di perlukan olehnya dan Eyang. Lorong ini mendadak terasa sepi. Dinding di sekelilingnya turut menambah suasana sendu dengan mengalirkan hawa dingin. Sekali lagi, perempuan itu terus menangis. Tanpa tahu kapan tangisnya berakhir.
Dering handphone di tangan kiri, sesaat mengharuskan matanya yang terasa buram untuk melirik. Dengan tangan gemetar, (Namakamu) mengangkat tangannya supaya dapat melihat lebih jelas. Menunjukan nama Om Adi sebagai pemanggil di layar. Untuk sejenak (Mamakamu) mencoba menenangkan diri. Sebelum ibu jarinya memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo? Om Adi?" Ujarnya parau.
'(Namakamu)? Eyang gimana? Udah selesai di periksa?'
"Belum," Punggung (Namakamu) semakin merosot dari kursi tunggu yang dia duduki. "Om Adi lagi dimana? Om Adi mau kesini 'kan?"
'Iya, ini Om udah di rumah sakit. Kamu tunggu ya? Om Adi cari parkir dulu. Sebentar lagi Om nyusulin kamu ke IGD. Yang tenang ya, sayang. Eyang kuat kok.'
"Iya, Om. Makasih. Aku tunggu."
Begitu panggilan berakhir, (Namakamu) menurunkan handphonenya dari telinga. Yang tanpa dia sadari tangisnya sudah mulai berangsur reda. Meski air matanya masih terus mengalir, membasahi pipi lalu berakhir di dagu. Tangan kanannya tanpa henti menghapus titik air mata yang terus menerus jatuh dari pelupuk, sementara tangan kirinya membuka kontak untuk mencari suatu nama. Untuk pertama kali setelah tangisnya reda, (Namakamu) mengingat Iqbaal. Laki-laki yang kebetulan seharian ini (Namakamu) lupakan karena kepanikannya melihat Eyang kesakitan.
Nama itu sudah terlihat jelas di layar. Hanya perlu melalukan satu sentuhan untuk melakukan panggilan. Sayangnya, (Namakamu) ragu. Mengingat laki-laki itu sedang menikmati waktunya dengan teman organisasinya di sekolah, (Namakamu) jadi sangsi jika Iqbaal akan sempat mengangkat panggilannya. Untuk menyadari handphonenya ada yang menelepon pun sepertinya tidak. Meski begitu, (Namakamu) tetap melakukannya. Demi mengakhiri rasa penasaran yang menggantung dalam benak.
Dan yang (Namakamu) terima, hanyalah dering panjang tanpa mendapat respon apapun dari Iqbaal di seberang sana.
Positif. Iqbaal memang sedang sibuk dengan teman-temannya. (Namakamu) pun mengakhiri panggilan dan menyembunyikan wajah di balik telapak tangan.
oOo
Mungkin rasanya sudah lama sekali Iqbaal tidak menghabiskan waktu bersama rekan OSIS-nya. Seperti hari ini.
Usai menonton film terbaru di bioskop, Iqbaal memutuskan untuk berbincang seru dengan teman-temannya di sebuah tempat makan yang masih berada di dalam Mall. Tempat makan yang kata Hilman paling recommended karena menyajikan makanan lezat mulai dari western, hingga asia dengan harga yang pas di saku anak sekolahan. Yang lain pun idem. Jadi disinilah mereka sekarang. Duduk bersama dengan dua meja saling dirapatkan, juga delapan buah kursi di setiap sisi meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love, Iqbaal
Fanfiction"I'm sorry, but you don't need to be chatty to get my attention. I love the way you being quiet, the way you smile, the way you care behind me..."
