21. Table for Three

51.4K 6.8K 872
                                        

"All of sudden?"

"Iya, bunda udah cerita ke ayah ternyata. Kamu mau gak? Kalau nggak ya gak apa-apa sih..." suaranya mengecil di akhir kalimat. Jari telunjuknya menggambar sesuatu di meja, nggak tau apa yang di gambar.

"Hmm, cuma sekadar ketemu kan?"

"Iya." Kali ini melihat gue. Telunjuknya udah nggak menggambar lagi. Kali ini Jaehyun melipat kedua tangannya dan mencondongkan badannya ke depan.

"Kapan?" Jawab gue singkat.

"Kamu mau?" Bukannya menjawab pertanyaan gue, dia malah balik nanya.

"Nanya aja dulu, kapan?"

"Besok malem?"

"Is it too fast?"

"I can extend it if you like?"

"Gak usah, besok malem aja abis kita jalan."

"Kita jalan?" Alisnya mengangkat dan menatap gue heran.

"Kan kita mau main sama Nara. Did you forgot what we planned this morning?"

"Oh nggak, aku inget kok. Tadi spaced out, maaf."

"No need to apologize." Gue senyum ke dia. Suka gue ngeliat Jaehyun kayak gini. Rambutnya acak-acakan, udah nggak pake jas, dia tinggal jasnya di mobil, terus lengan kemejanya dilipet sampe sesiku, dasinya dilepas dan dua kancing kemeja teratasnya dibuka. Keliatan lebih nyantai.

"Kamu kenapa liatin aku gitu?" Jaehyun sadar gue merhatiin dia daritadi.

"Gak apa-apa, aku suka aja liat kamu kayak gini." Jawab gue frontal. Gue menopang wajah gue sekarang sambil tersenyum ke arah Jaehyun.

"Ganteng ya?"

"Gak usah ditanya."

"Hehe makasih."

Whoa, darimana gue mendapatkan rasa percaya diri tingkat tinggi ini? Karena gue yakin, barusan yang gue lakukan itu nggak pernah gue lakuin ke siapa pun. Ke mantan gue aja gue gak pernah muji terang-terangan kayak gini.

Gue masih senyum ke Jaehyun.
"Beruntung yang bisa dapetin kamu, Jae. Kamu orangnya baik, pinter, dan perhatian. Kalau tampang kamu yang good looking ini bonus."

"Haha makasih loh. Seneng aku dipuji sama kamu."
"Orang yang bisa memikat hati kamu juga beruntung banget. Nggak cuma penampilan yang cantik, tapi hati kamu juga cantik. Perhatian juga, aku suka yang kayak gitu."

Jaehyun nggak sadar, ucapannya barusan berhasil membuat gue deg-degan setengah mati. Cuma gue tahan-tahan aja biar gak keliatan. Gue juga harus tetep keliatan cool dong di depan dia. Gue pun menaruh kedua tangan gue di meja. Pura-pura mencari mbanya, kenapa makanan gue gak dateng-dateng. Udah laper nih.

"Kenapa? Kok nafas kamu tiba-tiba cepet gitu?" Oke, Jaehyun sadar.

"Nggak apa-apa, kayaknya disini panas."

"Ngaco." Jaehyun langsung mengambil tangan kiri gue dan memegang telapak tangan gue.
"Kok keringetan? Kamu grogi?"

"Grogi kenapa deh? Hahaha." Ketauan ketawa gue awkward banget. Udah paling gak bisa gue berada dalam situasi kayak gini.

"Tuh, jidat kamu juga keringetan. Padahal kan disini nggak panas." Sambil menujuk jidat gue dengan telunjuknya. Otomatis gue menyentuh jidat gue dengan jari-jari gue. Bener aja, keringetnya banjir sis.

"Aku sih kepanasan, pake bajunya tebel."

"Kamu cuma pake kaos sama cardigan..."

"Panas cardigannya, bahannya bagus soalnya jadi bikin anget kalau di tempat dingin. Kalau di tempat panas gini jadi makin panas." Gue ngeles. Semoga aja Jaehyun percaya.

Dr. Jung | Jung JaehyunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang