Gue terbangun dari tidur.
Saat gue membuka mata, gue masih ada di ruangan yang sama seperti kemarin waktu gue terlelap.
Berarti emang bener, apa yang menurut gue selama ini nyata, ternyata hanya mimpi. Hanya sebuah khayalan yang akan tetap menjadi khayalan.
Skenario-skenario yang terjadi hanya selamanya akan hidup di pikiran gue.
Seberapa hebatnya sih otak gue ini sampe mampu menciptakan skenario-skenario kehidupan sampe gue bisa merasakan kalau skenario-skenario itu bener-bener terjadi?
Apa yang salah sama otak gue sampe akhirnya gue merasakan ini semua? Apa gue harus tidur terus biar gue nggak pernah terbangun dan merasakan kenyataan yang pahit?
Gue kira, gue menjadi istrinya Jaehyun itu nyata. Gue udah membayangkan membangun rumah tangga dengan Jaehyun. Tapi, ternyata Jaehyun hanyalah dokter yang menangani penyakit gue selama 3 tahun ini.
Otak gue emang hebat.
Saking hebatnya, bisa membuat gue tenggelam dalam pemikiran gue sendiri.
Nggak lama, Kak Irene datang bersama Jaehyun– atau harus gue panggil Suster Irene dan Dokter Jung?
"Selamat pagi." Sapa Dokter Jung dan Suster Irene sambil senyum tipis ke arah gue.
Gue nggak membalas sapaan mereka, dan gue nggak senyum juga. Gue mengalihkan pandangan gue ke luar jendela. Memandang langit yang berwarna biru. Dihiasi dengan awan putih.
"Sunhee, gimana kabarnya?" Tanya Suster Irene.
Bukannya menjawab pertanyaan Suster Irene, gue malah balik bertanya,
"Kemarin saya dibius?" Gue memanggil diri gue sendiri dengan 'saya.'
Keadaan hening. Nggak ada yang menjawab.
"Saya tanya, kemarin saya dibius?" Pandangan gue masih ke luar jendela. Nggak mampu melihat sosok pria di depan gue yang nggak bisa gue miliki. Yang hanya bisa gue miliki di dalam mimpi. Yang hanya bisa gue miliki kalau otak gue merancang skenarionya, seperti yang otak gue inginkan.
"Iya." Jawab Dokter Jung.
Mendengar ucapan Dokter Jung gue nangis. Bukan sedih dengan kenyataan kalau gue kemarin memberontak dan akhirnya harus dibius. Tapi sedih karena mendengar suara Dokter Jung. Suara yang selama ini, at least, dalam mimpi gue, selalu ingin gue denger. Suara Dokter Jung itu bagaikan melodi yang selalu ingin gue denger.
Tapi, berbeda dengan sekarang. Gue nggak mau lagi denger suaranya Dokter Jung. Suaranya hanya membuat gue semakin tersakiti.
"Sebenernya saya gila nggak sih?" Tanya gue lagi. Mata gue masih menatap langit berwarna biru yang menampakan kecantikannya.
"Kamu nggak gila." Jawab suster Irene.
"Terus kenapa saya bisa ada disini?"
"Kamu disini karena kemampuan otak kamu yang melebihi kapasitas manusia pada umumnya."
"Saya udah denger itu. Kenapa saya kemarin sampe di borgol?" Sekarang menatap Dokter Jung dan Suster Irene tajam.
"Kamu udah sering kayak gitu, kamu udah sering memberontak."
"Terus, apa otak saya juga sering membuat skenario-skenario yang lainnya?"
"Iya. Skenario kemarin itu bukan yang pertama kalinya." Kali ini Dokter Jung yang menjawab gue.
"Bahkan, otak kamu bisa membuat skenario dalam pikiran kamu dan membuatnya dalam jangka waktu panjang. Kamu bisa ngerasa kalau kamu emang menghabiskan waktu beberapa bulan bahkan tahun dalam hanya waktu 1 malam. Luar biasa kan?"
Gue mengenal Dokter Jung dan Nara dalam waktu 11 bulan itu hanya terjadi dalam 1 malam.
Gue inget banget dengan semua kejadian-kejadian yang ada di khayalan gue. Gue inget semuanya secara detil. Semuanya terjadi sangat jelas.
"Jadi istri kamu sekarang masih ada?" Tanya gue ke Dokter Jung, sambil menatapnya dalam. Walaupun gue tau jawabannya apa, tapi gue masih terus menanyakannya.
"Let's not talk about that. You already know the answer."
Oke, dia menolak untuk menjawab.
Selama seharian ini gue hanya diem. Kondisi gue lebih tenang dibanding kemarin, walaupun gue masih belum bisa menerima kenyataan. Seenggaknya gue nggak memberontak kemarin, atau mungkin gue tenang karena dikasih obat penenang sama Suster Irene? Mungkin.
Memikirkan kenyataan yang pahit membuat gue menangis.
Menangis diantara kedua lutut gue yang gue tarik ke dekat badan gue.
"Sunhee." Panggil Kak Junmyeon– maaf, bukan Kak Junmyeon, tapi Dokter Kim. Seseorang yang menjadi psikolog gue dalam waktu 3 tahun terakhir.
Gue menoleh mendengar nama gue dipanggil.
Saat ini di dalam kamar gue hanya ada Dokter Kim. Mau ngecek kondisi psikologis gue lagi. Karena kemarin kondisi psikologis gue nggak stabil.
Dokter Kim memulai percakapan dengan gue. Dimulai dengan hal-hal yang ringan. Percakapan ini berhasil membuat gue berhenti menangis, mungkin dia punya caranya tersendiri untuk membuat gue berhenti menangis. Daritadi Dokter Kim juga mengelus-elus pundah gue, supaya tenang.
"Jadi, dalam skenario kamu yang kemarin, saya jadi apa?"
Saya jadi apa.
Pertanyaan yang diajukan Dokter Kim tersebut seakan-akan dia udah tau kalau dia sering berperan dalam skenario yang ada di dalam khayalan gue.
"Jadi kakak saya." Gue menjawabnya sambil menatap Dokter Kim datar. Emosi gue udah nggak jelas, gue marah, kesel, dan sedih di saat yang bersamaan. Tapi tetep tenang, mungkin efek obat.
"Kakak kamu?"
"Iya."
Dia hanya mengangguk pelan. Tau kalau gue udah nggak mau ditanya-tanya lagi.
"Ya udah, sekarang kamu istirahat ya, Sunhee. Ketemu sama saya lagi besok."
Gue nggak membalasnya.
Dokter Kim pun keluar dari kamar gue dan membiarkan gue sendiri di kamar gue yang lama-lama terasa dingin.
Merasa capek pikiran, gue memutuskan untuk istirahat. Untuk tidur sesaat, berdoa kalau apa yang gue alami ini hanya sebuah mimpi yang nggak akan pernah terjadi lagi. Dada gue sakit, sesak untuk merasakan ini semua.
Gue pun memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.
Dan akhirnya, gue pun tertidur.
———————————————————————
Author's Note
There will be no comments from me for this chapter. Tapi, udah cukup bikin kalian kaget? Apa kalian siap dengan final chapternya? :)
Jangan lupa vote & comments! 💚
KAMU SEDANG MEMBACA
Dr. Jung | Jung Jaehyun
Fanfiction[COMPLETED] "it is very rude of me for not introducing myself. The name's Jaehyun, Jung Jaehyun." Start 9/03/2019 Finish 6/04/2019 #46 in Jaehyun 26/04/2019 #51 in Jaehyun 25/04/2019 #169 in fanfiction 09/04/2019 Copyright © 2019 by peachandpeony
