Kamu Siapa?

1.5K 101 4
                                        




   Aku mencium aroma obat obatan yang membuatku mengerinyit dahi. Perlahan aku berusaha membuka mata, kok berat? Sedikit demi sedikit mataku mulai dapat beadaptasi dengan cahaya.

"Ma" panggilku pada Mama, yang Aku lihat di kursi samping tempat tidurku.

"Kamu udah bangun sayang? Pa, papa Hana udah bangun panggilin dokter" kata Mama membangunkan Papa yang ada di kursi dekat dinding yang sedang tidur. Dapat kulihat wajah Mama sedikit kacau, dengan mata bengkak dan lelah.

Dokter datang dan memeriksa keadaanku.

"Sepertinya ia baik baik saja, Hana apa kamu merasa pusing? " tanya dokter dan Aku menggeleng lemah, Aku sedikit pusing tapi wajah Mama tampak sangat khawatir.

"Apa yang terjadi Ma?" Aku tidak mengingat kenapa Aku bisa berada di rumah sakit ini tangaku patah dan kepalaku diperban, mengerikan sekali.

"Kamu kecelakaan sayang" kata Mama padaku, Kapan? Namun pertanyaan itu tertelan karna kepalaku merasa pusing.

"Sepertinya ia membutuhkan istirahat agar tubuhnya pulih kembali" kata Dokter pada Mama dan Papa.

Tiga hari dirumah sakit, aku merasa baikan, untung saja aku udah lulus sekolah jadi tidak terlalu khawatir.






Aku melihat Mama sedang mengupas apel untukku.

"Ma, kok Aku bisa kecelakaan? Kapan? Dimana?" tanyaku, aku sendiri bingung apa yang terjadi. Bisa kulihat wajah Mama mengerutkan dahi.

"Kamu gak ingat, kata kamu kamu mau keperpus pulang dari perpus kamu.... ?" Mama berhenti mengupas. Aku menggeleng. Wajah Mama berubah panik.

"Kamu gak ingat? Tunggu mama mau panggil dokter dulu apa keanehan kamu wajar?" mama pergi keluar kamarku, anggap saja ini kamarku. Dokter datang dan memeriksa luka dibagian kepalaku.

"Ini hal yang wajar, dengan sendirinya ingatannya akan pulih, Kamu masih ingatkan orang terdekat'kan" tanya dokter padaku, aku mengangguk, aku memcoba mengingat teman teman keluarga, tak ada yang kulupakan Aku yakin itu.

Pintu kamar terbuka menampilkan dua temanku yang pulang dari liburan tiba tiba ada disini yaitu Ariana dan Lala mereka bersama pacarnya tentunya , jika Fira? ia lagi sibuk buat ngurus kuliahnya. Ah kuliah aku lupa.

"Ya ampun Han kok bisa sih" kata Lala mengecek kepalaku.

"Bocornya gak parah bangetkan?" Riana ikut ikutan mengecek luka dikepalaku.

"Kalian siapa?" saatnya mengerjai mereka. Kulihat wajah mereka berubah pucat terutama Ariana. Mama yang sedang mengawasi kami ikut was was.

"Kamu gak ingat kami? Astaga kamu mengalami insomnia" Ariana merenggut pipiku dengan dua tanganya.

"Amnesia Rian" kata Lala meralat Lala dengan panggilan nama mengganti Ariana.

"Ana, Lalat" melihat mereka bertengkar adalah hiburan tersendiri bagiku, Dion dan Satria menahan tawa dibelakang.

  "Kamu beneran gak ingat aku Han, aku kembaran Ariana grande masa kamu gak ingat" kulihat Lala memutar bola mata jengah karna keabsurdan Ariana.
Aku menggeleng menahan tawa agar tidak pecah.

"Han kamu tahu Fira? dia itu temen kita yang hobby ngupil dan Lala disamping aku ini, dia hobby...aduh" Ariana belum melanjutkan kata kata ia sudah mengaduh. Dari tatapan Lala mengancam melirik Satria yang melihat intraksi kami. Tawaku pecah mereka terdiam, sepertinya mereka sadar jika aku mengerjai mereka. Karna tertawa terlalu keras luka dikepalaku mendenyut.
Aku mencoba menghentikan tawaku.

"Hana kamu ngerjain kita, udah panik rupanya boongan, ngajak gelud"

"Lagian kok kamu bisa kecelakaan, kamu ngebut?" inilah pertanyaan yang Aku sama sekali tidak tahu jawabanya. Aku menatap Mama seolah meminta tolong untuk menjawabnya.

"Kata saksi Hana hampir menabrak orang yang menyebrang, jadi Hana putar stang kekanan, terus jatuh lalu ia hampir kena tabrak sama mobil, Untungnya aja gak ketabrak, helm Hana terlepas dari kepala" jelas Mama pada kami, kami hanya mengagguk kepala paham.

"Ia gitu Han?" tanya Ariana padaku.

"Entahlah" jawabku jujur, tidak tahu.

"Ponsel kamu kemana? Aku hubungi gak bisa" pertanyaan Lala nenyadarkanku, ponselku mana? Sidah berhari hari Aku tak memegang ponsel.

"Ponsel kamu kelindas mobil, gak bisa ditolong" jelas Mama mengerti kebingunganku.

"Aku menyayangkan kematian ponselku"

"Udahlah beli yang baru" kata Ariana seenak jidat.

"Mama pulang aja biar kami yang jaga Hana, kamu para cowok pulang juga, biar aku sama Lala pulang naik taksi" atur Ariana pada pacarnya. Mamaku adalah Mama kami berempat, Mama kami berempat adalah Mama semuanya.

"Tolong jaga Hana ya, tante mau pulang dulu" kata mama pada kami. Selama aku sakit Mama selalu ada, ia pulang kalau Papa udah jemput, Papa sibuk dikantor. Jadi agak sulit untuk datang, jika datangpun pasti sebentar, katanya proyek kantornya butuh perhatian extra. Dan Papa makin giat untuk berkerja.

"Mama pulang sama siapa?" tanya Ariana.

"Naik taksi" Mama begegas mengumpulkan barang yang perlu dibawa.

"Sama Dion aja dia naik mobil lagian rumah Dion searah sama rumah Mama, ya kan yang" kata Ariana.

"Ia Ma" Lala menyetujui, aku Dion dan Satria hanya nyimak.

"Ya udah asal gak repotin nak Dion"

"Gak kok Tan" mereka bertiga pergi dari ruangan hanya tinggal aku, Ariana, dan Lala.

"Fira kapan pulang?" tanyaku pada mereka, Kulihat mereka naik keatas tempat tidurku. Jadi kami bertiga bearad di satu tempat tidur.

"Katanya sih gak pulang, tapi karna kamu kecelakaan besok dia pulang tapi cuma bentar buat lihat kamu" aku merasa tersanjung mendengar perhatian temanku.

"Eh Rain kaya mana kabarnya?" tanya Ariana entah pada siapa, mereka menatapku, mereka bertanya padaku?

"Rain siapa?" aku balik bertanya, emangnya Rain siapa? Mereka menganga mendengar pertanyaanku,apa aku melewatkan sesuatu?

"Rain itu..... Pft" Ariana ingin mejawab, namun bibirnya dibungkam oleh tangan Lala, ia membawa Ariana keluar kamar, aku dengar dibalik pintu mereka berbisik bisik entah apa yang didiskusikan untuk beberapa saat.

Mereka masuk lagi kekamarku. Sambil tersenyum paksa. Ada yang tidak beres.

"Eh ini apelnya boleh dimakan?" Ariana ngambil buah apel yang sudah dikupas mama tadi.

"Tumben kamu permisi biasanya langsung main ambil aja, Rain tadi siapa?" benar benar penasaran aku. Wajah Ariana menegang, inilah wajah Ariana gak bisa bohong sedikitpun.

"Rain itu sepupu jauh pacar aku, tadi Ariana nanya sama aku, lagian kamu gak kenal" inilah kehebatan Lala entah bohong atau jujur wajahnya sama aja. Aku memandang mereka curiga.

"Terus kenapa tadi kalian bisik bisik?"

"Apaan sih tadi kami bicara masalah uang bayar taksi, aku gak bawa uang" lala cocok jadi artis berwatak antagonis.

"Oh" aku meng oh kan saja toh aku gak kenal sama si Rain Rain itu. Kami melanjutkan pembahasan tentang Universitas yang akan dimasuki sampai kebaju apa yang akan dipakai ketika kuliah. Tanpa terasa hari menjelang sore mama kembali membawa bekal dengan ditemani papa, kami. Makan dengan lahap, entah mengapa rasa masakan Mama sangat enak dilidah, mungkin faktor makanan rumah sakit yang biasa kukonsumsi resanya hambar. Besok aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Rasanya aku merindukan TV, kasur, dan handphone tapi sayang handphoneku sudah tak tertolong, Papa membelikan yang baru tapi sudah nyaman dengan yang lama jadi merasa beda.

😘 vote please.







Rain And Ginephobia (end) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang