Girl Fighters

1.4K 99 12
                                        


Cek typo

😊😊










  Enam tahun berlalu tidak terasa bagiku. Sangat banyak yang berubah dikehidupanku, dari aku punya adik laki laki kecil  yana sekarang usianya jalani enam tahun, papa yang diPHK setahun sebelum aku lulus kuliah, papa di PHK karna difitnah membocorkan data penting pada saingan perusahaan, untung papa dan mama sudah menabung ,Dulu  rencananya mama dan papa akan memakai uang itu untuk kebutuhan mendadak tidak terasa tabungan sudah membengkak di bank. Papa menjual rumah yang ada di Pekanbaru untuk tambahan modal beli ladang didesa dan punya rumah kecil disana. Papa membeli sembilan hektar tanah yang berisi sawit dan rumah kecil di desa.


   Kenapa mama dan papa bisa hidup di desa? Padahal kebanyakan orang kota anti dengan nama desa. Karna tinggal didesa adalah cita cita Mama, Mama dahulu hidup di perdesaan asri, ia pergi kekota untuk mengadu nasib dengan izajah SMA dan gak lama jumpa jodoh, yaitu Papaku. Simpel banget ceritanya.

  Hanya satu yang membuat aku tidak nyaman didesa, yaitu tetangga tukang gosip.
Didesa para ibu ibu sering kumpul kumpul di salah satu rumah warga buat cerita ini cerita itu dan Mamaku tertular virus itu walau masih dosis kecil.

"Oi, lu melamun aja" kata Fira menyentuh bahuku. Tebak sekarang aku dimana?

  Sekarang aku berada dijakarta dirumah orangtuanya Fira tepatnya sebenarnya aku langsung ingin ngekost tapi Fira maksa, Cukup lama aku berada disini sekitar seminggu mencari perkerjaan, aku melarikan diri dari rumah, bosan dengan pertanyaan.

"Kamu udah punya cowok Han?"

"Perlu mama cariin satu buat kamu?"

"Kok kamu gak mau keluar rumah sih han? Kapan orang bisa lihat kamu?"

"Itu anak Bu Rena ganteng loh Han gak minat?"

"Kapan kamu bawa cowok? Kamu normal'kan?"

"Bu Anum sering nanyain kamu"

  Itu pertanyaan yang sering aku dengar ketika libur semester atau di setelah lulus kuliah. Pertanyaanya semakin menjadi ketika aku lulus kuliah. Sebenarnya aku bingung, untuk apa Aku kuliah kalau gak sempat rasain namanya kerja, ya kali aku langsung gendong anak setelah lulus kuliah, yang benar saja.

"Melamun lagi" gerutu Fira disampingku, Aku tersenyum.

"Jangan senyum deh lo buat gue jadi takut"

"Kamu gak kerja?" tanyaku padanya, ia bekerja disalah satu perusahaan dijakarta, dibagian keuangan.

"Gue Ijin sakit, lamaran lo gimana?" memang ia tampak pucat.

   Ya, aku mengajukan lamaran dibeberapa perusahaan salah satunya perusahaan tempat Fira kerja, entah diterima atau tidak yang penting udah nyoba. Tunggu keputusan.

Getaran di ponselku menyadarkanku, aku melihat SMS masuk.

Aligro grup

Selamat, anda diterima bekerja di Aligro grup mulai besok pukul 08.00 .

Aku membaca pesan itu berkali kali. Seketika aku memeluk Fira yang sedang bermain ponsel.

"Aku diterima Fir" aku masih memeluk dan mengoyang goyang tubuhnya.

"Apa?" Fira masih loading sedetik kemudian ia balik memelukku sambil meloncat loncat, kami berpelukan melakukan tarian gila diatas kasurnya. Aku sangat bahagia aku kira aku akan bekerja sebagai pelayan restoran atau kerja yang membutuhkan tenaga bukan otak. Tapi ternyata...

  Keesokan hari kami pergi bersama sama, walau beda perusahaan tempat kerja kami satu arah tempat kerja Fira lebih jauh satu kilo meter dari tempat kerjaku, sebenarnya Fira dapat memotong jalan alternatif tapi jalan itu tidak efisien, kalau melalui jalan yang dikatakan Fira langsung ketempat kerjanya tidak melewati tempat aku bekerja.

Rain And Ginephobia (end) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang