Bad Sunday

1.3K 85 8
                                        

   

Koreksi typo
Vote dulu.






  Hari minggu yang cerah, biasanya aku masih bergelung dengan selimutku yang kucintai. Tapi apa daya rencana weekendku sudah berantakan, tak ada hari libur untukku, menyedihkan sekali, masih untung pak boss menyuruh membersihkan apartemenya yang luas, bukan rumahnya yang tak terbayang sebesar apa, aku sudah memegang kunci cadangan apartemenya, kemarin setelah membersihkan apartemenya yang jarang digunakan itu.

Setelah selesai aku langsung menuju motor baruku.
Kemari pak boss mengembalikan motorku setelah diperbaiki, sayapnya yang patah sudah di ganti.

Segera aku menghidupkan motor, kali ini aku tak boleh teledor, syukur kemarin cuma pintu mobil dan sayap motorku yang patah, bukan tulang leherku.

"Loh, Han kamu mau kemana pagi pagi?" tanya mbak Sandei ya mbak Sandei gak tahu bahwa aku ada masalah sama pak boss besar .

"Mau cari kerja tambahan mbak"

"Hah? "

   Tanpa menghubrisnya lagi aku melajukan motor, menuju kantor. Sesampainya dikantor aku langsung naik ke lantai lima apartemen pak boss setelah beramah dengan pak satpam.

Lift kosong, membayangkan aku berada di gedung ini sendiri saja membuatku takut,

   Sampai di lantai lima aku langsung berjalan kearah apartemen pak boss, ruang kerja dan apartemenya bersebelahan, namun pintu apartemen masih ada lagi pintu yang menghalangi, aduh aku bingung menjelaskanya.

   Aku membuka pintu apartemen, kosong. Tak berpenghuni mungkin bapaknya pulang kerumah.
Dari atas sini bisa dilihat jalanan kota jakarta.

   Terkadang aku tak habis pikir dengan otak pak boss, apa dia gak takut aku mencuri barang berharganya? Aku tertawa sinting membayangkan aku mencuri Pas Antiknya atau lukisan diruangannya itu, aku yakin harganya mahal .

Astaga.

  Aku segera mengambil ponsel dan memutar lagu miss you dari louis one Directions.

   Aku segera membersihkan apartemen besar ini, semakin cepat selesai semakin cepat untuk tidur kembali. Lagu mulai melantun.

Is it my imagination?
Is it something that I'm taking?
All the smiles that I'm faking
"Everything is great
Everything is fucking great"
Going out every weekend
Staring at the stars on the ceiling
Hollywood friends, got to see them
Such a good time
I believe it this time

Tuesday night
Glazed over eyes
Just one more pint or five
Does it even matter anyway?

We're dancing on tables
'Til I'm off my face
With all of my people
And it couldn't get better they say
We're singing 'til last call
And it's all out of tune
Should be laughing, but there's something wrong
And it hits me when the lights go on
Shit, maybe I miss you

Just like that and I'm sober
I'm asking myself, "Is it over?"
Maybe I was lying when I told you
"Everything is great
Everything is fucking great"
And all of these thoughts and the feelings
Doesn't matter if you don't need them
I've been checking my phone all evening
Such a good time
I believe it this time

Tuesday night
Glazed over eyes
Just one more pint or five
Does it even matter anyway?

We're dancing on tables
'Til I'm off my face
With all of my people
And it couldn't get better they say
We're singing 'til last call
And it's all out of tune
Should be laughing, but there's something wrong
And it hits me when the lights go on
Shit, maybe I miss you

Now I'm asking my friends, ought to say "I'm sorry"
They say "Lad, give it time, there's no need to worry"
And we can't even be on the phone now
And I can't even be with you alone now
Oh how, shit changes
We were in love, now we're strangers
When I feel it coming up I just throw it all away
Get another two shots 'cause it doesn't matter anyway

We're dancing on tables
'Til I'm off my face
With all of my people
And it couldn't get better they say
We're singing 'til last call
And it's all out of tune
Should be laughing, but there's something wrong
And it hits me when the lights go on
We're dancing on tables
'Til I'm off my face
With all of my people
And it couldn't get better they say
We're singing 'til last call
And it's all out of tune
Should be laughing, but there's something wrong
And it hits me when the lights go on
Shit, maybe I'll miss you.

  Aku ikut bernyanyi, walau aku tidak hapal seluruh lirik, ya aku akui suaraku cempreng, kata Lala suaraku kaya jangkrik kejepit dilobang. Tapi aku tak perduli toh sekarang gak ada orang, dimana lagi aku bisa bernyanyi sepuas hati,dikost? malu dong sama mbak Sandei, dan tidak mungkin suaraku sampai di lantai satu dimana para satpan menjaga.

"Ehkem" kok kaya dengar siara deheman ya? Aku lanjut membersihkan bunga palsu disudut ruangan.

"Ekhem" suara itu nyata, aku berbalik dan seketika jantungku ingin keluar dari tempatnya. Kulihat pak Rain si boss menyender diikusen pintu masuk, menyilangkan tangan didada sambil menatapku.
Kapan ia berada disana? WTF
Kalau sudah lama disana berarti ia melihat kekonyolanku dari tadi.

Astatang.

"Sepertinya ada seseorang yang sedang berbahagia" ia tersenyum sambil berjalan melewatiku menuju kamar mandi, ia masih menggunakan baju kantor dan rambut acak acakan seperti orang baru bangun tidur ?
Baju kantor?
Berarti dia gak pulang dari kemarin.

hahah fix dia pasti lihat kekonyolanku. Satu kata yang pasti untuk kejadian ini.

MALU.

Bagaimana ini? Aku gak mau tatapan muka, pas dia keluar kamar mandi.

Kabur?
Gak mungkin, aku segera mengambil kain lap untuk mengelap dinding kaca, setidaknya aku tak menatap wajahnya, dan ia tak menatap wajah memerahku.

Cklek

Suara handel pintu kamar mandi menandakan penggunanya keluar dari dalam sana, aku menelan ludah susah payah, aku semakin gencar mengelap permukaan kaca.

"Jika kau menggosok kacanya seperti itu, kuyakin sebentar lagi kaca itu akan pecah, dan kau akan terjun dari lantai lom ini karna menekannya terlalu kuat" ia bersuara, aku menoleh, sekali lagi aku terkejut, disana ia masih memakai handuk putih dipinggang dan bertelanjang dada, nikmat mana yang kau nistakan?

Eh

Aku segera mengalihkan pandangan kesamping, takut aku kelepasan karna menatap karya tuhan yang sempurna ini. Eh.. Asataga apa yang kupikirkan, kok jadi genre delapan belas plus plus sih.

"Maaf pak sepertinya saya perlu keluar" kataku berpamitan, bisa kelepasan aku meraup tahu diperutnya.

Entah aku yang merasa atau apa kulihat ia menahan tawa.

"Untuk apa?"

"Sepertinya bapak perlu pakai baju, atau bapak gantinya dikamar mandi?" kadang aku melupakan fakta bahwa dia seorang gey.

"Bukanya semua wanita menyukai tubuh sixpack seperti ini ya?" kulihat ia hendak membuka handuknya, otomatis aku menutup mata.

"Tidak pak tidak, saya tidak suka kalau tidak berlebel halal" entah apa yang kukatakan, aku memang menutup mata tapi aku masih bisa mengintip lewat sela sela jari, ia tertawa. Aku segera berlari kearah pintu, tawanya semakin kencang ketika aku keluar apartemen miliknya. Nanti kalau aku kelepasan siapa yang mau tanggung jawab coba?

Wajahku terasa panas sekarang.








Rain And Ginephobia (end) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang