Cek typo.
Aku merasa kelembutan ranjangku, entah mengapa gaya gravitasinya sangat kuat, bahkan untuk mataku sendiri. Aku mencoba mengingat ingat apa yang terjadi dari mulai pergi ke Medan dan.....
"Huaaaa......" suaraku menggema sepenjuru ruangan, jantungku berpacu dengan cepat, aku langsung duduk dari tidurku.
Aku menyapu pandangan kesekitar, ini bukan kamarku atau kamar Fira, segera aku memeriksa bajuku.
Syukurlah bajuku masih utuh.
"Saya tidak akan berbuat jahat kalau tidak kamu yang meminta" kata sesorang, aku menatap makhluk yang berbicara tadi. Ia duduk disofa yang berhadapan dengan ranjang, seperti sedang menontonku saat sedang tidur.
"Bapak apain saya?" triakku padanya. Ia menggidikan bahu kemudian membaca buku. Sialan aku dikacangain.
Bisa kulihat selimut diatas sofa disampingnya, dapat kusimpulkan ia tidur disana. Untunglah.
"Bapak culik saya" pernyataan bukan pertanyaan, aku menutup tubuh dengan selimut.
Ia menggedikan bahu lagi
"Segera bergegas hari ini kita pulang" katanya tanpa menatapku, aku merasa kesal diabaikan olehnya.
"Pulang kemana?" pertanyaan bodoh.
"Ya, ke jakarta, kamu gak ada urusan lagi disini 'kan" katanya, aku memejamkan mata kebohonganku sudah terungkap.
"Bapak nguntit saya ya?"
Krik
Krik
Krik
Aku bergegas menuju kamar mandi, takut dengan hal lain terjadi jika aku berlama lama denganya. Seandainya Fira disini. Aku teringat sesuatu..... Fira. Astaga kenapa aku bisa melupakan, aku mengecek ponselku.
21 panggilan
156 SMS
99+chat
Semua itu berasal dari satu orang yaitu, Fira.
Tiba tiba aku merasa pusing membaca semua SMS dan chatnya, ia mengatakan pulang terlebih dahulu. Teganya ia meninggalkanku dengan harimau sumatra di sini.
"Cepat Bergegas kita akan terbang siang ini" ia beranjak dari duduknya menuju pintu keluar.
Aku begegas mandi kilat. Apa yang bisa aku pikirkan sekarang, jika Mama tahu aku tidur di hotel dengan pria pasti sudah dihapus aku dari surat KK.
Ma maafin aku ya.
Siangnya segera kami berangkat ke bandara kuala namu. Padahal cutiku satu hari lagi, tapi apa daya, sudah tercyduk pak boss, dan sebuah fakta baru bahwa dia itu bukan gey, sialan aku kehilangan sesuatu dihotel.
Selama di bandara kami seperti suami istri yang sedang bertengkar, saling menjauh dan menjauhkan pandangan, aku enggan menatap wajahnya.
***
Sampai di jakarta kami langsung dijemput oleh supir pak boss, liburanku sangat singkat, sepanjang jalan aku memandang gedung gedung pencakar langit. Getaran Ponselku menyadarkanku dari lamunanku.
Chandra
Kamu dimana?
Ya, kemarin kami sempat bertukar nomor ponsel, aku tersenyum membaca pesan tersebut, segera aku membalasnya.
Me
Aku udah dijakarta.
Aku menatap samping pak boss menatapku penasaran. Sampai didepan kost aku masih sibuk dengan ponselku. Pak boss? Bodo amat, ia sudah menculikku, membawa aku pulang dengan paksa, walau aku beruntung tak perlu membayar tiket pesawat.
"Makasih pak" aku bergegas masuk kedalam kost, aku dapat melihat tatapan penasaran dari matanya.
"Besok kamu mulai kerja seperti biasa" ia mengingatkanku,sejenak aku berhenti dan mengagguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain And Ginephobia (end)
Short StoryRain dan penyakit langkanya. Start 28 november 2018-20 Februari 2019.....
