Hujan

1.2K 67 0
                                        

Cek typo gais.



Aku duduk berhadapan dengan Chandra, setelah pertemuan tak disengaja tadi kami memutuskan untuk mengopi di salah satu kafe yang tak jauh dari mall.

"Muka kamu kenapa?" pertanyaan itu yang tadi bergelayut di otakku seolah tak mau lepas saat kami bertemu tadi.

"Nabrak pintu" katanya, aku mengerinyit, sejak kapan pintu dapat membuat lebam seperti itu?

"Pintunya menarik banget ya sampe ditabrak berkali kali?" tanyaku tak habis pikir.

"Apa ini ada hubungan dengan yang kemarin Chan?" tanyaku padanya mencondongkan wajah kedepan memperhatikan wajah lebamnya curiga.

Ia malah terkekeh
"Dengan yang kemarin yang mana?" tanyanya, aku semakin bingung denganya, sudah wajah lebam begitu masih bisa tertawa?

"Kamu gak di apa apain sama pak Rain 'kan?" kataku memastikan, mungkin saja wajah Chandra hasil karya pak boss.

"Emang Rain siapa kamu?" tanyanya balik.

"Dia Boss aku di kantor, kenapa kamu kenal sama dia?" jawabku jujur.

"Hanya boss?" ia mengerutkan kening.

"Ya, hanya boss memangnya apa? Pacar? Tunangan? Suami? Idih gak deh punya suami moodian kaya dia" kataku sambil bergidik ngeri.

Chandra kembali tertawa lebar sampai telinga, gak deng.
"Awas nanti kualat baru tahu kamu"

"Gak akan, anyway kamu tinggal dimana? Disekitar sini?" tanyaku penasaran, jakarta 'kan luas.

"Ia, aku tinggal dikawasan perumahan anggrek"

"Wah itu perumahan elit 'kan,bareng siapa?"

"Iya lumayan sih, bareng sepupu aku, kamu sendiri?"

"Aku tinggal di kost kawasan jalan sudirman ujung, gak jauh dari sini kepeleset langsung nyampe" jawabku padanya.

"Permisi saya boleh duduk disini?" kata seseorang, belum mendapat ijin kami ia langsung duduk disebalahku aku melihat manusia tidak sopan yang duduk disampingku.

"Pak Rain?" aku melotot padanya, bisakah bisakah ia memberiku hari untuk tak bertemu dengannya?

Ia berdehem sebentar lalu mengamati kami satu persatu.

"Bapak ngapain disini?" tanyaku padanya merasa terganggu dengan reuni kami.

"Loh, emangnya kalian ngapain disini? Ngopi 'kan, sama saya juga ngopi disini emang gak boleh ya? Merasa terganggu?" katanya panjang lebar ingin aku menjawab

"Ia pak, bapak ganggu banget kaya panu" tapi sayang itu hanya di dalam otak kecilku saja.

"Udahlah Han biarin aja toh dia gak ganggu" tiba tiba Chandra berbicara sambil memegang tanganku yang berada diatas meja. Aku terkejut dengan hal itu aku menatap tanganku yang depegang Chandra. Pas banget digenggam.

"Ehem" pak boss kembali berdehem, apa dia kering tenggorokan ya makanya tadi berdehem terus. Aku segera mengambil permen ditasku dan menyodorkanya pada pak boss.

"Nih pak dari tadi bapak kayanya kering tenggorokan saya punya permen" pak boss nampak tercenung melihat permen yang aku sodorkan. Mungkin ia tidak mau permen harga seribuan aku hendak menarik tanganku dari hadapanya. Dan bisa mendengar Chandra menahan tawa. Tiba tiba tanganku ditarik paksa sampai membuatku terkejut. Ternyata pelakunya adalah pak boss yang ingin mengambil permen tadi.

"Kalau sudah memberi tidak boleh di minta lagi" katanya sambil membuka bungkus permen.

"Bapak kalau mau gak usah narik tangan saya gitu dong saya kan terkejut jadinya" aku melotot padanya.

Rain And Ginephobia (end) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang