Cek typo gais.
Vote dulu.
Tanpa terasa lima bulan telah berlalu, seminggu sebelum pernikahan Ariana, aku berada di kost bersama Mbak Sandei, kali ini kami tidak menonton drakor, karena sudah semua drakor yang ada di Flasdiskku kami tonton. Streaming? Sayang paket dong. Kami sedang sibuk dengan ponsel masing masing.
Aku menatap layar ponselku, lebih tepatnya menatap nama kontak yang ada didalamnya.
'Sayang' nama itu yang aku beri pada nomornya. Bagaimanapun aku harus meminta izin padanya.
"Kamu kira dengan kamu menatap layar ponselmu itu kamu bakal dapat izin?" aku terkejut, tiba tiba Mbak Sandei sudah berada disampingku.
"Eh mbak ngagetin aja" kataku membuat wajah kesal.
"Btw kok namanya sayang, kamu udah punya pacar? tadi kamu bilang mau minta izin sama mama kamu"
"Nama kontak mama aku 'sayang' biar gak kelihatan jomblonya hehe" aku terkekeh.
"Astaga kamu ada ada aja, kalo orang yang lihat pasti bakal salah paham" katanya sambil mengecek ponselnya.
"Mbak chatan di GC kantor?"
Tanyaku, tampaknya ia sangat serius melihat ponselnya.
"Bukan, mbak lagi searching krim pembesar payudara" kata Mbak Sande, aku melotot.
"Biasa ajalah mukanya" katanya melihat wajahku. Aku kaget.
"Buat apa Mbak?" tanyaku, ya aku tahu buat besarin payudara, maksudnya dalam rangka apa?
"Buat besarin payudara lah, minimal sebesal jeruk bali" katanya masih menatap layar handphone, aku menggeleng geleng kepala ngeri, sebenarnya aku juga pengen perbesar tapi mama aku selalu berpesan.
"Syukuri apa yang ada"
"Dalam rangka apa mbak ?" tanyaku, aku yakin kali ini ia tidak salah nyimak.
"Dalam rangka menarik perhatian lelaki, aku baru sadar kalo umur udah tua, hidup di Indonesia, kalo hidup di Amerika sih tadinya aku mau nikah umur tiga enam" katanya, apa katanya tadi?
"Emang bisa?" aku juga pernah iseng iseng nyari artikel pembesar payudara waktu SMA, karna dulu aku diledekin memiliki dada rata, katanya seukuran anak SD dan pas lagi searching aku tinggal bentar dan Mama masuk kamar dan melihat ponselku, Mama marah besar waktu itu. Ia mengira aku membuka situs delapan belas plus plus.
"Apa yang tidak bisa ditangan Sandeian?" sombong sekali Mbak ini.
"kamu gak jadi minta izin sama Mama kamu?" ia bertanya.
"Jadilah, tanpa restu mama aku gak akan pergi Mbak" aku menekan tulisan 'panggil' dilayar pensel. Terakhir kami bertukar kabar seminggu yang lalu, mama yang selalu menelponku duluan. Ia seperti tahu kesibukanku, ia biasa menelpon sekitar jam delapan malam dimana dijam itu aku selalu bersantai.
Hallo
Jawab suara dari sebrang sana.
"Hallo ma, apa kabar?" basa basi dikit.
"Sehat, tumben kamu nelpon, ada apa?'
Mama memang yang terhebat mengetahui maksud terselubung anaknya.
"E... Mama tahu aja aku mau sesuatu" kataku, Mbak Sandei yang berada sampingku menaikan sebelah alisnya.
Apa?
"Gini Ma, Mama masih ingat Ariana? Temen aku waktu SMA, seminggu lagi dia bakal Nikah, pernikahanya di adakan di Medan, rencananya aku dan Fira bakal pergi Ke Medan aku minta ijin Mama."
Kataku menjelaskan.
"Wah, Lala aja udah nikah, kamu kapan? Udah umur dua lima, mama seumuran kamu udah punya kamu umur tiga tahun, disana emang gak ada cowok? " kata mama padaku, nadanya tidak seperti biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain And Ginephobia (end)
Historia CortaRain dan penyakit langkanya. Start 28 november 2018-20 Februari 2019.....
