Cek typo gais.
"Mau menikah denganku?" tanya orang dari seberang sana, suara wanita yang familiar. Aku kembali menatap layar ponsel untuk memastikan si pemanggil.
Lala kampret
"Kamu mabuk anti nyamuk La?" tanyaku padanya tak habis pikir, kenapa ia mengajaku menikah? Apa ia pindah haluan.
"Hua...... Hana gimana ini? Aku disuruh menikah sama ayah tapi Satria belum mau, aku bakal di jodohkan na, aku bakal jadi Lala nurbaya" kata lala tak jelas diseberang sana.
"Kamu dimana?" pertanyaan itu yang keluar dari bibirku, karana mendengar suara Lala yang keras tidak mungkin ia berada di rumah.
"Aku ada di.... di... Diamana ini?" ia berhenti sebentar berbicara, yang aku yakin melihat sekitar.
"Pokoknya aku di pantai sekarang, dijembatan agak kedalan pantai" katanya akhirnya.
"Disana aman?" tanyaku, keselamatannya lebih penting.
"Amanlah emang disana dikit dikit langsung copet" katanya ketus, ingin aku tertawa sekarang tapi sayang ini tidak waktu yang tepat.
"Gimana ini Han? Apa perlu aku guna guna Satria biar mau nikah sama aku?" katanya kembali ketopik asli.
"Ya kamu bicarain baik baik sama Satria dong, beri bumbu ancaman sedikit"
"Ancaman? Bunuh diri gitu?" berceletuk. Memang kalau lagi galau manusia tiba tiba jadi bodoh.
"Ya nggak lah, itu namanya keputusan tolol, mana mau ia punya istri bodoh" aku terbawa emosi, dikiranya pasal bunuh diri itu tidak berat.
"Jadi?"
"Kamu bilang kalau kamu gak nikahin kamu secepat mungkin maka kamu akan dijodohkan sama ayah kamu dan kamu gak bisa nolak" aku menjelaskan panjang lebar.
"Han... " panggilnya gemetar, apa yang terjadi
"Ya?"
"Disana kayanya ada orang mau bunuh diri deh" suara Lala sungguh seperti orang ketakutan
"Maksud kamu?" aku ikut panik.
"Itu"
"Apa?"
"Hantu" kali ini suara Lala sudah berupa cicitan.
"Kamu berpikir positif"
"Dia menuju arahku Han"
"Kamu lari"
"Mau lari gimana aku diujung jembatan dan ia dari darat, Han kalau aku besok gak ada aku mohon bilang sama mama, ayah aku, dan Satria kalau aku menyayangi mereka" katanya lagi, dan panggilan diputus. Aku panik segera aku menghubungi Lala, hilang sudah kantukku.
Tut
Tut
Tut
Panggilan dialihkan, sejam lebih aku mondar mandir, berkali kali menghubungi Lala namun nihil. Apa aku telpon orang tua Lala saja.
Tiba tiba ponselku bergetar dan ada nama Lala disana, segera aku mengangkatnya.
"Hallo"
"Ahahah" terdengar suara tawa diseberang sana, aku merinding.
"Hallo?"
"Hallo Han, ternyata yang tadi aku sebut hantu adalah satria"
"Lah"
"Iya aku udah panik tadi" katanya sambil tertawa.
"Aku juga panik banget tadi, kok bisa dia disana?" aku tak habis pikir kenapa bisa mereka kompak kesana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain And Ginephobia (end)
Short StoryRain dan penyakit langkanya. Start 28 november 2018-20 Februari 2019.....
