Cek typo gais.
Vote pliss.
Aku memilin milin jari di pangkuanku dengan gugup, jadi runyam segalanya hanya karena keinginan melarikan diri. Sesekali aku melirik pak boss di sampingku yang menatap jalanan dengan tajam, Rahangnya mengeras dan alisnya menukik tajam. Sungguh pemandangan yang membuatku merinding.
Ini semua salahku, sungguh kesalahanku.
Ingin aku kembali ke apartemen Parlin dan meminta maaf.
"Pak" panggilku takut, bagaimanapun aku harus meluruskan hal masalah ini.
"Pak" panggilku sekali lagi, tak ada jawaban darinya.
"Bapak gak benaran mecat Parlin 'kan? Saya mohon pak itu bukan salah dia, saya yang maksa dia pak" kalau tidak melibatkan sesorang aku tak akan mau bersikap begini.
"Saya tahu" dingin dan kaku, bulu kuduku semakin berdiri.
"Jadi jangan pecat dia pak pliss, saya aja bapak pecat, saya ikhlas" tunggu tunggu tadi aku bilang apa?
"Segitunya kamu belain dia?" kali ini ia menatapku.
"Bukan, bukan gitu. Ini semua salah saya, jangan pecat dia pak, bapak gak tahu kalo dia itu ibu tiri, bapak tahu sendiri ibu tiri itu seperti apa" sungguh alasan yang ngelantur.
"Baik, saya gak pecat dia" katanya aku terkejut dengan pernyataan pak boss yang plin plan, apa mungkin ia terenyuh dengan Parlin yang ber ibu tiri?
***
Pagi yang mendung dengan segala aktivitas, walau cuaca mendung namun jiwa gak boleh mendung juga.
Banyak menyapa orang yang menyapaku di kantor, ada apa gerangan tiba tiba seisi kantor sangat ramah?
Sesampai di lift seperti biasa lift penuh dengan kariawan kantor.
"Ini sekretaris Pak Rai itu? Terlalu biasa banget"
"Yang pakai baju krim itu sekretaris Boss yang tinggal di hotel yang berbeda dari kita" kata seseorang, aku menatap bajuku yang berwarna krim dan melihat penghuni lift satu per satu. Tak ada yang memakai baju krim. Berarti mereka sedang menggosipi aku dong.
"Pantes aja dia cepat naik pangkat, terlalu murah"
"Cantik cantik ck ck ck"
Telingaku panas mendengar bisik bisik mereka. Kan sudah aku katakan.
Yang aku khawatirkan terjadi. Aku mendesah dengan keras. Mereka terdiam. Peka lo.
Satu persatu manusia manusia itu pergi ke lantai masing masing.
Hanya aku dan seorang lelaki berkaca mata yang tinggal. Aku memandang atap atap lift sambil bersender di dinding lift. Sekali aku meliriknya. Mungkin ia juga tahu gosip itu. Huh menyebalkan. Apa yang harus kulakukan setelah ini?
"Kamu sekretaris pak Rain ya?" tanyanya menatapaku sambil memperbaiki kaca mata yang melorot.
"Ya" jawabku singkat, salah jawab bisa gawat, siapa tahu lelaki kaca mata ini adalah salah satu gisiper kantor.
"Saya masih tak percaya pak Rai memiliki sekretaris wanita"
"Benarkah?" kataku, aku tak tahu menaggapinya bagaimana? Aku sudah tahu cerita itu dari si Mbak.
"Ya"
Ting
Pintu lift terbuka dan ia langsung berjalan keluar. Syukurlah.
"Saya duluan" katanya, aku mengagguk.
***
Aku memandang lelaki yang sedang duduk di sana dengan memelas. Lihatlah sekarang ia bersikap sangat dingin. Berbicara sangat irit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain And Ginephobia (end)
Short StoryRain dan penyakit langkanya. Start 28 november 2018-20 Februari 2019.....
